JawaPos Radar

Tingkatkan Jumlah Dokter Pria Sekolah di Jepang Potong Nilai Siswi

03/08/2018, 10:20 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
tingkatkan jumlah dokter pria
Sebuah sekolah kedokteran di Tokyo memangkas nilai ujian pelamar perempuan yang ingin masuk ke kedokteran beberapa tahun terakhir. Hal ini dilakukan untuk tetap meningkatkan jumlah dokter laki-laki (AFP)
Share this

JawaPos.com - Sebuah sekolah kedokteran di Tokyo memangkas nilai ujian pelamar perempuan yang ingin masuk ke kedokteran beberapa tahun terakhir. Hal ini dilakukan untuk tetap meningkatkan jumlah dokter laki-laki.

Padahal Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menciptakan sebuah kampanye bahwa perempuan dapat bersinar dan menjadi prioritas. Namun, para perempuan Jepang masih menghadapi perjuangan yang sulit untuk mendapat pekerjaan setelah memiliki anak, walaupun tingkat kelahiran di Jepang menurun.

Perubahan nilai ujian ditemukan dalam penyelidikan internal di Tokyo Medical University. Ada juga dugaan korupsi di dalamnya yang menyebabkan hal ini terjadi, yaitu penyuapan.

tingkatkan jumlah dokter pria
Dokter pria jadi prioritas di Jepang (Asia One)

Menurut media Jepang Yomiuri Shimbun, sejak 2011, universitas tersebut mulai memotong jumlah pelamar perempuan untuk menjaga jumlah siswa perempuan sekitar 30 persen.

Surat kabar itu mengutip sumber-sumber universitas yang mengatakan bahwa tindakan itu dilakukan karena banyak perempuan berhenti di dunia medis setelah lulus untuk menikah dan memiliki anak.

Juru Bicara Universitas Kedokteran Tokyo Fumio Azuma mengatakan, penyelidikan internal telah dimulai setelah tuduhan penyuapan ini melibatkan sebuah penerimaan sekolah kedokteran, yang dilakukan putra seorang pejabat senior dari kementerian pendidikan.

"Tentu saja, kami akan meminta mereka untuk memasukkan ini dalam penyelidikan mereka. Hasil dari kedua penyelidikan hasilnya pada awal bulan ini," ujar Azuma.

Kasus ini juga viral di media sosial. Msyarakat marah dan menuntut langkah-langkah untuk kesetaraan. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini lumrah terjadi dimanapun.

"Para perempuan harus melahirkan, karena kalau tidak masyarakat mengatakan ia tidak produktif. Namun, ketika melahirkan, nilai mereka dipotong, lalu perempuan harus berbuat apa?" Kata seorang pengguna media sosial.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up