JawaPos Radar

Perang Lawan Kedai Kopi Lokal di China, Starbucks Pakai Senjata Ini

03/08/2018, 08:40 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Perang Lawan Kedai Kopi Lokal di China, Starbucks Pakai Senjata Ini
Starbucks pakai cara ini lawan kedai kopi lokal China (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Amerika Serikat dan China saat ini tengah bersitegang dalam menghadapi perang dagang. Akan tetapi, kenyataannya Tiongkok sudah kalah bersaing dalam dunia perkopian melawan Amerika Serikat di dalam negaranya sendiri.

Analis Senior China Market Research Ben Cavender, konsultan yang berbasis di Shanghai, memperkirakan merek dagang kopi asal Seattle, Starbucks memiliki 70 persen pangsa pasar di Tiongkok.

Dengan memiliki 3.400 toko di lebih dari 140 kota di China, Starbucks berencana untuk menggandakannya pada 2022. Hal ini membuat Tiongkok sulit menggulingkan kerajaaan bisnis Starbucks.

Meski begitu, Starbucks bukan berarti tak punya saingan. Di China, Starbucks bersaing dengan Luckin Coffee. Pendiri Luckin Coffee, Guo Jinyi sangat vokal untuk mengalahkan Starbucks di negara tirai bambu. Meski masih berumur belia, Luckin Coffee sudah membuka lebih dari 800 cabang di 13 kota di seluruh negeri.

"Setiap tempat memiliki merek lokalnya sendiri, dan merek lokal ini sekarang menjadi pemimpin," kata Guo seperti dilansir JawaPos.com dari New York Times, Jumat (3/8).

Luckin memposisikan diri sebagai alternatif pasar, sehingga dapat memenangkan pelanggan yang bersedia membayar USD 3,5 untuk sebuah latte atau 20 persen lebih murah dari harga Starbucks.

Selain itu, Luckin juga memberi diskon kepada pelanggan jika mereka memesan lebih banyak dan memberi mereka setengah pesanan makanan untuk lima bulan ke depan. Cara lain Luckin dalam menggaet hati pelanggan adalah dengan mempersilahkan pelanggan untuk memilih ingin mengambil kopi mereka di toko atau mengirimkannya dalam 30 menit.

Namun Jeffrey Towson, seorang investor ekuitas swasta dan seorang profesor investasi di Peking University menilai masih terlalu dini untuk mengatakan keberhasilan di negara yang penuh dengan start-up yang membakar uang tunai dan bangkrut dalam semalam itu. Dan akan sulit bersaing dalam jangka panjang melawan skala merek seperti Starbucks.

Keberadaan Luckin boleh jadi membuat Starbuck ketar-ketir. Pasalnya, baru-baru ini, Starbucks melaporkan penjualan di China turun sebesar 2 persen pada kuartal II-2018. Setelah meningkat pada dua kuartal sebelumnya.

Penyebabnya, Starbucks dinilai lambat beradaptasi dengan perubahan teknologi dan tren ritel di negara itu, yaitu pengiriman. Dalam upaya untuk merevitalisasi operasinya di China, perusahaan mengumumkan kemitraan 'ritel baru' yang strategis dengan raksasa teknologi China Alibaba.

Kemitraan ini akan memungkinkan Starbucks untuk mengujicobakan layanan pengiriman bulan depan dengan anak perusahaan Alibaba, Ele.me, dan menetapkan dapur pengiriman di supermarket Hema milik Alibaba.

"(Kerja sama ini) adalah bahan bakar bagi Starbucks untuk strategi digital kami di China," Kepala Eksekutif Starbucks Kevin Johnson.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up