JawaPos Radar

Aturan Baru BPJS Kesehatan, IDAI: Angka Kematian Bayi Sulit Turun

03/08/2018, 09:10 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
aturan baru BPJS kesehatan
Aturan Baru BPJS Kesehatan bisa rugikan pasien dan dokter. (IDHAM AMA/FAJAR/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Salah satu aturan baru Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyinggung soal pelayanan bayi baru lahir. Isinya, bayi baru lahir dengan kondisi sehat post operasi caesar maupun normal dengan atau tanpa penyulit dibayar dalam 1 paket persalinan. Dengan kata lain, bayi yang lahir dalam kondisi tidak sehat, pelayanannya tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Mengenai aturan baru itu, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), FAAP mengeluarkan pernyataan keras. Menurutnya aturan baru BPJS Kesehatan tak bisa dilakukan. Sebab tak ada yang bisa menjamin setiap bayi akan lahir sehat.

Sekalipun selama ibunya kontrol menjelang detik-detik kelahiran bayi dalam keadaan sehat. Akan tetapi dalam hitungan detik-detik saat persalinan, bayi bisa saja berisiko. Dokter Aman menjelaskan bayi yang lahir caesar semuanya juga berisiko. Bisa saja bayi lahir tiba-tiba mengalami gagal napas (afiksi).

"Bisa jadi saat itu bayi mengalami afiksi, tak bisa bernapas dengan baik. Maka harus dilakukan resusitasi. Tentu semua berharap bayi sehat. Tetapi kan tak bisa dijamin. Nah aturan satu paket mengurangi layanan, salah satunya enggak ada dokter anak yang disiapkan saat lahir. Maka siapa yang mau menolong ketika bayi tiba-tiba sakit," jelas katanya ketus dalam konferensi pers di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Jakarta Pusat, Kamis (3/8).

Paket BPJS yang baru tak bisa memasukkan layanan lengkap seperti biasanya. Paket yang dikurangi dinilai mempersulit kerja dokter melakukan pelayanan, salah satunya resusitasi (pemberian napas dengan alat pada bayi).

Ia mencontohkan, dua minggu lalu dirinya menangani pasien jam 2.30 pagi yang haru melakukan tindakan sectio atau caesar. Sebelumnya tak terindikasi sectio. Dalam perjalanannya bayi ini harus diinkubasi, memang akhirnya bayi sehat. Tapi kalau dengan aturan baru BPJS Kesehatan, tentulah bayi yang tadi tak akan tertolong.

Bayi yang semula memang lahir sehat namun dalam perjalanannya tiba-tiba sakit, akan terancam nyawanya. Sehingga, adanya aturan baru BPJS Kesehatan, dia khawatir Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia tak akan bisa turun. 

"Bagaimana kita bisa menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia kalau bayi ini belum lahir tapi sudah terdiskriminasi di Indonesia. Pada saat Menteri Kesehatan baru naik, kami IDAI ditanya Menkes kira-kira bagaimana turunkan AKB. Kami kirim 5 spesialis kebidanan, bedah, anastesi dan penyakit dalam ke wilayah terpencil. Bagaimana dokter mau menurunkan AKB ketika diatur dengan aturan ini," tukasnya.

Jadi filosofinya, kata dia, ini bukan masalah uang. Negara harus menanggung semuanya untuk menurunkan AKB. Bayi punya hak untuk hidup. Jangan sampai bayi terancam nyawanya atau bahkan cacat karena paket yang tak lengkap.

"Kalau mereka afiksi saja dan tak ditatalaksana, maka jika tak ditangani nanti bisa cacat. Jika sudah begitu, siapa yang mau bayar?," tuturnya.

Indonesia memiliki 4 ribu dokter anak yang terbatas dalam aturan baru BPJS Kesehatan. Dokter Aman khawatir tahun depan AKB tak akan bisa ditekan.

"Maka satu hal saya rasa, kalau nanti pemerintahan ini tak bisa turunkan AKB tahun depan, itu salah BPJS," tutupnya.

Seperti diketahui, aturan baru yang tertuang dalam Perdirjampel BPJS Kesehatan no. 2, 3 dan 5 tahun 2018, mengatur pembatasan tiga layanan. Pertama, tentang bayi baru lahir dengan kondisi sehat post operasicaesar maupun per vaginam dengan atau tanpa penyulit dibayar dalam 1 paket persalinan.

Kedua, penderita penyakit katarak dijamin BPJS kesehatan apabila visus kurang dari 6/18 dan jumlah operasi katarak dibatasi dengan kuota. Dan ketiga, tindakan rehabilitasi medis dibatasi maksimal 2 kali per minggu (8 kali dalam 1 bulan).

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up