JawaPos Radar

Teknologi Drone Sebagai Strategi Pengembangan Potensi Desa

Hudi Santoso*

03/08/2018, 05:54 WIB | Editor: Imam Solehudin
Drone
Ilustrasi. Pemanfaatkan drone punya andil besar peningkatan kualitas pembangunan di desa. Sayangnya, teknologi ini belum diaplikasikan secara maksimal (Ist/Jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Tujuan Pembangunan desa menurut Kementerian desa, PDT dan Transmigrasi (2018) adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia. Termasuk penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan SDA dan lingkungan secara berkelanjutan.

Pembangunan tersebut memiliki bebeberapa tahapan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. berasaskan kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan. Dengan paradigma Pendekatan desa membangun dan membangun desa.

Berbicara pembangunan berarti melakukan perubahan dalam kehidupan. Contohnya perubahan dalam peningkatan pendapatan masyarakat. Penyebabnya bermacam-macam, termasuk dikenalkannya gagasan dan ide baru.

Proses penyebaran sebuah inovasi di tengah masyarakat dimulai pertama kali dari tahap pengetahuan di mana seseorang sadar dan mengetahui adanya sebuah inovasi. Sasaran pembangunan Kawasan perdesaan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Tujuan pembangunan Kawasan perdesaan mewujudkan kemandirian masyarakat dan menciptakan desa-desa mandiri dan berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi, ekologi serta penguatan terkait kegaiatan ekonomi desa-kota. Sasaran pembangunan wilayah penurunan desa tertinggal sampai 5000 desa dan peningkatan desa mandiri sampai 2000 desa.

Selain itu peningkatan keterkaitan pembangunan kota desa dengan memperkuat 40 pusat-pusat pertumbuhan menuju kota kecil/ kota baru. Inovasi merupakan ide, praktik, atau objek yang baru oleh suatu individu ataupun unit adopsi yang lain (misanya organisasi).

Ide, praktik, atau objek baru dalam hal ini apakah suatu ide yang dimaksud memang benar-benar baru secara objektif jika diukur menurut urutan waktu sejak hal itu pertama kali dipakai atau ditemukan ataupun kebaruannya diukur menurut persepsi seseorang terhadap ide menentukan reaksi terhadap hal tersebut.

Kebaruan inovasi baik masyarakat tidak hanya menyangkut pengetahuan baru, karena bisa saja inovasi tersebut merupakan informasi lama namun masyarakat tersebut, belum memutuskan sikap untuk menyukai dan tidak menyukainya ataupun untuk menerima atau menolaknya.

Oleh karena itu, aspek kebaruan dalam satu inovasi terlihat dari pengetahuan, persuasi, atau suatu kepuasan untuk mengadopsi.

Dalam beberapa kasus, banyak ditemukan minimya data tematik (spasial) di tingkat desa/ kawasan perdesaan. Hal ini disebabkan ketidakmampuan aparat desa untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi dengan baik pembangunan desanya.

Alhasil, kewenangan desa membangun kurang optimal digunakan dalam melakukan transformasi desa tertinggal menjadi desa yang mandiri dan berdikari. Meski jumlah SDM di desa terbatas oleh karena itu diperlukan kegiatan partisipatif warga desa dalam memproduksi dan mereproduksi data spasial tersebut.

Hadirnya Sekolah Drone

Sekolah Drone Desa (SDD) dan pemetaan desa yang dirancang oleh PSP3 IPB merupakan teknologi efektif, inklusif serta partisipatif yang mampu memberikan informasi visual tentang potensi sumber daya alam desa/ Kawasan perdesaan (meliputi: vegetasi, kesehatan vegitasi, status kepemilikan lahan, tapal batas luas desa, infrastruktur, kondisi pangan, potensi ar tanah, potensi ekonomi dan resolusi konflik untuk pembangunan desa dan Kawasan perdesaan.

Hadirnya sekolah drone desa menurut Kepala Pusat Studi Pembangunan Pedesaan (PSP3 IPB) Dr. Sofyan Sjaf untuk membangun desa dalam menghadapi perubahan teknologi yang demikian pesat.

Sementara itu konsep difusi inovasi teknologi yang dilakukan pemerintah masih berjalan lambat dan berorientasi pada proyek. Akibatnya terjadi kesenjangan informasi yang semakin memposisikan kawasan pedesaan semakin marjinal dalam hal akses terhadap teknologi.

Sekolah drone desa bertujuan untuk berbagi pengalaman dari desa-desa di Indonesia dalam tata kelola sumber daya desa.

Desa Sukadamai, Kecamatan Dramaga diundang secara khusus dalam sebuah seminar karena dinilai berhasil dalam menerapkan strategi baru tata kelola sumber daya desa, seperti pemetaan potensi pertanian desa, ekonomi, dan konservasi sumber mata air secara mandiri.

Semangat itu menginspirasi desa-desa di Indonesia untuk melakukan perubahan.
SDD merupakan solusi kolektif desa-desa untuk mengidentifikasi pemetaan dan mengelola sumber daya desa yang baik.

Gagasan ini lahir sebagai kritik atas praktik pembangunan pedesaan yang cenderung dari atas ke bawah (top down) dibandingkan dari bawah ke atas (bottom up). Akibatnya, desa sekadar menjadi objek pembangunan, bukan sebagai subjek pembangunan.

Desa juga kurang diberi kewenangan dalam mengelola sumber daya yang ada di wilayahnya. Strategi yang disepakati adalah menunjukkan pengelolaan desa, baik secara pengelolaan program pembangunan.

Dengan kata lain teknologi Drone desa menjadi kegiatan partisipatif warga desa dalam melakukan identifikasi dan pemetaan potensi sumber daya alam. Diharapkan nantinya data dan informasi bisa terupdate setiap waktu.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan dan direproduksi oleh aparat pemerintah desa. Selain itu menghasilkan citra tergeorereferensi dengan presisi yang cukup baik dan memiliki resolusi spasial yang tinggi 1 pixel=5-10 cm lebih tinggi dari citra satelit. Serta gambar yang dihasilkan lebih tajam pada setiap objek dipermukaan bumi.

Kegiatan yang dilakukan SDD di desa Sukadamai antara lain: (1) Penerapan teknologi tepat guna secara mandiri dan berbasis sumber terbuka (open source) (2) Pemberdayaan dalam mengelola sumber daya desa yang berkelanjutan dengan kearifan kolektif masyarakat desa; (3) Perlindungan warga desa yang migrasi ke luar negeri atau buruh migran.

Dalam konteks pembangunan desa maka sumber-sumber pertumbuhan ekonomi harus digerakkan ke pedesaan sehingga desa menjadi tempat yang menarik sebagai tempat tinggal dan mencari penghidupan.

Infrastruktur desa, seperti irigasi, sarana dan prasarana transportasi, listrik, telepon, pendidikan, kesehatan dan lainnya harus bisa disediakan sehingga memungkinkan desa maju dan berkembang.

Sehubungan dengan itu, skala prioritas pembangunan daerah yang berbasis pada pengembangan pedesaan (rural based development), antara lain mencakup: (1) pengembangan ekonomi lokal; (2) pemberdayaan masyarakat; (3) pembangunan prasarana dan sarana; dan (4) pengembangan kelembagaan (Zaini 2010).

Citra drone desa Sukadamai Kec. Dramaga untuk pembangunan desa sebagai system sosial merupakan kumpulan unit yang saling berhubungan terikat dalam kerjasama memecahkan masalah untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam implementasinya untuk kegiatan promosi desa dan sejenisnya. Tujuan berikutnya untuk pemetaan tapal batas, peta desa, penggunaan lahan, pemetaan pemukiman, verifikasi potensi desa, estimasi ekonomi lahan serta rencana pengembangan (site plan) desa. Sistem sosial membentuk batasan di lingkungan dimana satu inovasi menyebar.

Inisiatif membangun desa harus bersinergi antara pihak pemerintah, dengan dukungan perguruan tinggi, swasta, LSM, dan, praktisi teknisi kamera udara (drone). Dengan adanya UU Desa dan anggaraan desa maka potensi pembangunan desa bisa didokumentasikan.

Potensi berbasis pemetaan, pemetaan tapal batas, peta desa, penggunaan lahan, pemetaan pemukiman, verifikasi potensi desa, estimasi ekonomi lahan serta rencana pengembangan (site plan) desa. Dengan adopsi inovasi teknologi drone yang membentuk batasan di lingkungan dimana satu inovasi menyebar berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat.

*)Dosen Sekolah Vokasi IPB, saat ini sedang menempuh studi S3, KMP, IPB

(mam/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up