JawaPos Radar

Cerita Perjuangan Mualaf Arnita Hingga Kehilangan Beasiswa (4/habis)

Mulai Tertutup dari Media

02/08/2018, 18:01 WIB | Editor: Ilham Safutra
Cerita Perjuangan Mualaf Arnita Hingga Kehilangan Beasiswa (4/habis)
Arnita Rodelina Turnip (tiga dari kiri) saat didampingi pengacaranya ke kantor Ombudsman RI di Jakarta. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Sejak terkuaknya kasus pemutusan beasiswa Arnita Rodelina Turnip ke publik, sosok mualaf itu kini mulai berubah. Dia menjadi tertutup. Terutama dari perburuan media. Sejumlah awak media sulit menghubunginya.

Kepala Perwakilan Ombudsman Sumatera Utara Abyadi Siregar menyebut, Arnita saat ini sedang fokus terhadap kasusnya. Dia berusaha mendapatkan kembali beasiswanya.

Untuk itu, Abyadi meminta siapa pun memaklumi kondisi psikologis Arnita yang masih transisi antara usia anak menuju dewasa. "Kalau mendadak menjadi pendiam atau susah dihubungi wajarlah. Namanya juga baru beranjak dari anak-anak ke dewasa, saya saja dihubungi banyak orang sejak pekan lalu sulit menjawab pertanyaan satu-satu," kata Abyadi kepada JawaPos.com, Kamis (2/8).

Cerita Perjuangan Mualaf Arnita Hingga Kehilangan Beasiswa (4/habis)
Arnita Rodelina Turnip (tengah) ketika di Kantor Ombudsman (Istimewa)

Namun begitu, Abyadi menegaskan sejauh ini Arnita yang masih tercatat sebagai mahasiswi nonaktif Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu tidak mendapat tekanan dari pihak manapun. Walaupun kasus itu dikaitkan dengan sikap religiusnya yang memutuskan jadi mualaf.

Di sisi lain, dalam upaya mencari keadilan itu, kini Arnita sudah mendapat pengacara. Lawyer itu akan mendampingi Arnita untuk mendapatkan hak Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari Pemkab Simalungun.

"Saya tadi sempat kontak Arnita dan dia bilang saat ini sudah didampingi pengacara. Tentu bingung mungkin ya harus tahan emosi, kontrol, dan apa yang harus dibicarakan," ungkapnya.

Kendati sudah Arnita sudah mendapatkan pengacara, Abyadi Pemkab Simalungun mencabut beasiswa Arnita tak berdasar. Sebab segala persyaratan tak ada yang dilanggar oleh Arnita. Bahkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saat mengenyam pendidikan selama 2 semester cukup baik. Di atas 2,5 sebagaimana isi ketentuan perjanjian penerimaan beasiswa itu.

"Tak ada syarat yang dilanggar. Bahkan IPK naik dari 2,6 di semester 1 menjadi 2,71 di semester 2," katanya.

Diketahui pengacara tersebut kini juga mendampingi gadis empat bersaudara itu ke kantor Ombudsman Jakarta.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up