JawaPos Radar

Mahasiswa ITS Ciptakan Perangkap bagi Pelanggar Lalu Lintas

14/07/2018, 10:36 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Karya Mahasiswa ITS
Bisticpray saat dijajal di jalanan. (Dok. Humas ITS for JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Angka pelanggaran lalu lintas di kota-kota besar terbilang cukup tinggi. Tak terkecuali di Surabaya. Hal itulah yang kemudian menginspirasi mahasiswa Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menciptakan sebuah alat. Namanya Busway Automatic Spray (Busticpray).

Tiga mahasiswa yang menciptakan alat itu adalah Viko Dian Nano, Aris Setiawan, dan Ian Haikal Amir Akbar. Sebelum membuat Busticpray, mereka mengamati fenomena yang ada di Jakarta.

Banyak pengendara motor yang nekat melintasi jalur busway. Padahal, jalur tersebut seharusnya khusus untuk bus TransJakarta dan steril dari kendaraan lain. Alat itu bisa dipasang di tepi jalur bus.

Karya Mahasiswa ITS
Mahasiswa ITS saat mengecek Bisticpray buatannya. (Dok. Humas ITS for JawaPos.com)

Kendati begitu, alat tersebut juga bisa diterapkan di Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Busticpray bisa ditempatkan di trotoar. "Motor yang naik trotoar atau nggak pakai helm juga bisa terdeteksi. Tinggal mengubah programnya saja," ucap Viko, Sabtu (14/7).

Menurut Viko, banyak pengendara khususnya roda dua yang taat aturan hanya saat ada polisi. Kalau tidak ada polisi, mereka lebih berpotensi melanggar peraturan lalu lintas.

Alat yang diciptakan Viko dkk itu memanfaatkan kamera sebagai pendeteksi. Busticpray akan otomatis menyemburkan air apabila pengendara motor terekam kamera sedang melanggar aturan.

Sistem tersebut dinamakan image processing. Alat menangkap gambar dengan kamera kemudian melihat kesesuaian objek yang telah ditentukan. "Dari rekaman tersebut, raspberry pi microcontroller yang kami gunakan akan memicu modul relay, menyalakan pompa, dan menyemprotkan air," paparnya.

Selain berguna sebagai perangkap, gambar yang terekam kamera juga dapat membantu kepolisian untuk menindaklanjuti pelaku kejahatan. "Plat nomor pelanggar dapat tedeteksi, sehingga hukuman tilang tetap bisa diberlakukan," lanjut mahasiswa asal Malang itu.

Busticpray merupakan hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC). Ke depan, alat tersebut akan terus disempurnakan sebelum bisa diaplikasikan. "Kami hanya membungkus mekanik yang ada dalam boks agar rapi. Mungkin akan ada ide agar lebih praktis lagi," sebutnya.

(did/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up