JawaPos Radar

Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul Menyasar Usia Produktif

13/07/2018, 23:17 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul Menyasar Usia Produktif
Ilustrasi (Dok JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Setiap tahun trend bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) diklaim melebihi angka 30 kasus. Seiring waktu, yang biasa menyasar manula kini juga merambah ke usia-usia produktif.

Wage Daksinarga, Ketua II Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji) menyoroti kasus bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul. Dia mengatakan, setiap tahun angkanya antara 30-34 kasus. Sejak 2016 hingga pertengahan 2018 ini pun trend yang melakukannya berubah.

"Sekarang mulai bergeser, dulu kan Manula. Sekarang ini juga dilakukan usia-usia produktif yang masih bisa kerja," katanya, kepada JawaPos.com, Jumat (13/7).

Penyebabnya pun berbagai macam, namun secara garis besar adalah karena ketahanan jiwanya. Bisa disebabkan faktor ekonomi, sakit yang tak kunjung sembuh-sembuh, depresi, maupun gangguan jiwa.

Berbagai macam penyebab itu diketahui setelah dari pengumpulan data yang dilakukannya. Ia mengaku ada pendampingan terhadap seseorang yang mempunyai penyakit berupa stroke selama belasan tahun. Namun semangat hidupnya cukup diacungi jempol.

Berbanding terbalik dengan kasus yang ditemukannya pada 2017 silam di Kecamatan Karangmojo. Ada seseorang yang sakit mata selama kisaran 2 Minggu saja, namun akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

"Jadi penyebabnya itu bisa macam-macam, bisa PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), asmara, bisa macam-macam," tuturnya.

Hal penting dibandingkan itu, menurutnya, pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas yang ada di Indonesia khususnya Gunungkidul masih sangat minim. Padahal masyarakat sangat membutuhkannya. "Yang harus dilakukan oleh pemerintah ya itu (meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas)," pungkasnya.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up