JawaPos Radar

Wati: Biasa Beli Telur 1 Kg, Tapi Karena Mahal Jadi Setengah Kilogram

13/07/2018, 17:37 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Wati: Biasa Beli Telur 1 Kg, Tapi Karena Mahal Jadi Setengah Kilogram
Ilustrasi penjualan telur di pasaran. (Yesika Dinta/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kenaikan harga telur membuat para pedagang di pasaran gelisah karena mereka akan merugi. Salah satunya di Pasar Slipi Jaya, Jakarta Barat yang harga telurnya tembus sampai Rp 29.000 dari sebelumnya Rp 23.000.

Salah seorang pedagang telur, Makmumin, 37 yang menyatakan bahwa kenaikan harga tersebut memang ditentukan oleh agen telur di daerah. Seperti dia yang mengambil pasokan telur dari Blitar, Jawa Timur.

“Kalau saya itu ambil pasokan dari Blitar dijualnya sudah mahal dari sana. Ya jadinya sampai Jakarta jadi tambah mahal ya bedanya sama sebelumnya Rp 7.000,” ujar Makmumin saat ditemui JawaPos.com di tokonya Pasar Slipi Jaya, Jakarta Barat, Jumat (13/7).

Menurutnya, kenaikan harga terjadi karena daging ayam yang harusnya diternakkan untuk bertelur, dijual saat Lebaran. Sehingga, keterbatasan stok telur menjadi imbas dari naiknya harga di sejumlah daerah.

“Kemarin sih dapat kabar begitu, ayam ternak buat nelur dijual jadi ayam potong karena kan Lebaran naik harganya. Tapi ya imbasnya jadi setelah Lebaran gini mahal, susah jadinya,” tuturnya.

Tidak hanya pedagang, para pembeli pun mengeluhkan keberatan atas naiknya harga telur di pasaran. Menurut salah satu pembeli, Wati, 51 mengatakan telur menjadi makanan favorit dirumahnya, namun karena mahal dirinya mempertimbangkan kembali untuk menyetok telur.

“Biasanya kalau ke pasar saya beli minimal sekilo, tapi karena harganya lagi mahal ya setengah kilo saja. Anak-anak nggak bisa makan nggak pakai telur, tolong lah Pemerintah diatur agar harganya turun,” pinta ibu beranak dua ini.

Dirinya mengaku kebutuhan jelang anak masuk sekolah semakin banyak, maka dari itu jika harga makanan pokok mahal dirinya memastikan uang belanja sehari-hari tidak mencukupi untuk menutup kebutuhan yang lain.

"Saya anak dua, terus yang bontot baru mau masuk smp, pasti kebutuhan banyak. Ya buat beras, telur gini saya minta diturunkan saja harganya supaya nggak menderita banget gitu," jelas Wati.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up