JawaPos Radar

LRMA: Industri Asuransi Tumbuh Bagus Sepanjang 2017

13/07/2018, 16:54 WIB | Editor: Mochamad Nur
LRMA: Industri Asuransi Tumbuh Bagus Sepanjang 2017
Ilustrasi perhitungan premi asuransi (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com- Di tengah tekanan terhadap daya beli akibat perekonomian global yang mengalami tekanan, industri asuransi tetap mencatatkan pertumbuhan yang cukup bagus sepanjang 2017. Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) mencatat laba komprehensif perusahaan naik dari Rp 12 triliun pada 2016 menjadi Rp 21 triliun pada 2017, atau tumbuh 70 persen sepanjang setahun terakhir.

Hasil investasi meningkat 58 persen, dari Rp27,96 triliun di tahun 2016 menjadi Rp44,28 triliun pada 2017. Sementara itu, aset tumbuh sebesar 23 persen, dari Rp381,82 triliun di tahun 2016 menjadi Rp468, 76 triliun pada 2017.

“Pendapatan premi meski tumbuh sebesar 16 persen di 2017, tetap lebih kecil dari pencapaian tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 25,4 persen. Sedangkan premi neto juga naik 16 persen, dari Rp131,46 miliar pada 2016 meningkat menjadi Rp152,7 triliun pada 2017,” ujar Pemimpin Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil dalam keterangannya di sela-sela acara Insurance Award 2018 di Jakarta, Kamis (12/7).

Sementara ekuitas naik pada 2017 kenaikannya sebesar 21 persen, lebih tinggi dari kenaikan tahun sebelumnya hanya 15,49 persen. Pada tahun 2016 ekuitas asuransi jiwa baru Rp81,91 triliun, kemudian naik menjadi Rp98,86 triliun di 2017.

Cadangan teknis tumbuh 23 persen, dari Rp266,50 triliun di 2016 menjadi Rp328,95 triliun di tahun 2017. Di sisi lain, beban klaim dan manfaat yang dibayar naik 25 persen, dari Rp117 triliun pada 2016 menjadi Rp146 triliun.

Sementara itu untuk asuransi umum, menurut Mucharor Djalil, berdasar hasil kajian terhadap neraca keuangan publikasi dari 73 perusahaan asuransi umum –di luar empat perusahaan asuransi umum syariah (full fledged) yang dikelompokkan terpisah— secara umum pencapaian industri asuransi umum di tahun 2017 lebih baik dibandingkan tahun 2016.

Dari sisi premi, baik premi langsung maupun premi neto, tahun 2017 lalu pertumbuhannya sama-sama positif. Berbeda dengan tahun 2016 saat premi langsung justru turun, walau premi netonya tumbuh.

“Industri asuransi umum di tahun 2017 mencatat premi langsung sebesar Rp60,21 triliun, naik 4,56 persen dibandingkan pencapaian tahun 2016 sebesar Rp57,59 triliun. Premi netonya tumbuh 3,75 persen, dari Rp30,52 triliun di tahun 2016 menjadi Rp31,67 triliun di tahun 2017,” jelasnya.

Peningkatan premi ini juga diikuti pertumbuhan klaim neto sebesar 6,55 persen –lebih rendah dibanding pertumbuhan klaim neto tahun sebelumnya yang mencapai 11 persen— yakni dari Rp16,5 triliun di tahun 2016 menjadi Rp17,58 triliun di tahun 2017. Di sisi lain, klaim bruto asuransi umum masih tumbuh negatif, yakni turun sebesar 0,37 persen, dari Rp28,17 triliun di tahun 2016 menjadi Rp28,06 triliun di tahun 2017.

Kenaikan klaim ini berakibat pada tertahannya pertumbuhan hasil underwriting yang tercatat hanya sebesar 0,26 persen, dari Rp12,03 triliun di tahun 2016 menjadi Rp12,06 triliun di tahun 2017.

Dari sisi aset, industri asuransi umum mencatatkan nilai aset sebesar Rp132,08 triliun di tahun 2017, naik 4,99 persen dibandingkan nilai aset 2016 sebesar Rp125,79 triliun. Ekuitas tumbuh 9,82 persen, dari Rp47,63 triliun di tahun 2016 menjadi Rp52,31 triliun di tahun 2017.

Sementara itu investasinya melonjak 11,33 persen, dari Rp60,04 triliun di tahun 2016 menjadi Rp66,85 triliun di tahun 2017. Dengan nilai investasi sebesar itu, industri asuransi umum mencatatkan pertumbuhan hasil investasi sebesar 10,48 persen di tahun 2017, yakni naik dari Rp4,41 triliun di tahun 2016 menjadi Rp4,87 triliun.

Mengenai kinerja asuransi syariah, LRMA melakukan kajian terhadap 10 perusahaan asuransi dan reasuransi syariah full fledged. Hasilnya, industri ini mengalami peningkatan tipis. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kontribusi bruto yang hanya meningkat kurang dari satu persen saja, yaitu sebesar 0,44 persen.

Dari segi nilai, pertambahan kontribusi bruto di tahun 2017 dibandingkan tahun 2016 hanya sebesar Rp5,48 miliar saja. Secara keseluruhan, angka kontribusi bruto hanya sekitar Rp1,28 triliun di tahun 2017. Di sisi lain, beban klaim dan manfaat yang dibayarkan, mengalami peningkatan tipis sebesar 0,65 persen, dari Rp757,91 miliar pada 2016 menjadi Rp763,03 miliar di tahun 2017.

(nas/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up