JawaPos Radar

Ekspor Triwulan I-2018, Bikin Defisit RI-Australia Turun 3,7 Persen

13/07/2018, 16:29 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Ekspor Triwulan I-2018, Bikin Defisit RI-Australia Turun 3,7 Persen
Ekspor impor (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kinerja ekspor  Indonesia ke Australia pada  triwulan I-2018  (Januari-Maret) meningkat sebesar 13,1 persen, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun  sebelumnya. Nilainya mencapai USD 667,8 juta pada triwulan I-2018. Peningkatan ekspor  tersebut berasal dari peningkatan ekspor di sektor nonmigas sebesar 15,2 persen dan sektor migas sebesar 5,7 persen. 

“Nilai ekspor Indonesia ke Australia sebesar USD 667,8  juta pada triwulan I-2018,  terjadi peningkatan hingga 13,1 persen dari periode yang  sama tahun sebelumnya.  Kontribusi sektor nonmigas periode triwulan I-2018  mencapai USD 533,7 juta dan  sektor migas USD 134,1 juta,”  ungkap Atase Perdagangan  Canberra, Nurimansyah di Jakarta, Jumat (13/7).

Pada triwulan I-2017, nilai  ekspor Indonesia ke Australia  sebesar USD 590,2 juta,  dengan kontribusi nonmigas mencapai USD 463,3 juta dan  kontribusi migas USD 126,9  juta. 

Nurimansyah menambahkan, adanya peningkatan ekspor ini membuat defisit perdagangan  Indonesia-Australia turun 3,7 persen pada triwulan I-2018  atau sebesar USD 757,9  juta  dari periode yang sama di  2017 yang sebesar USD 787 juta. 

Nilai ekspor Indonesia ke  Australia pada triwulan I-2018 mencapai USD 667,8  juta. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan hingga  13,1 persen. Kontribusi sektor  nonmigas periode triwulan I-2018 mencapai USD 533,7 juta  dan sektor migas USD 134,1  juta.

“Peningkatan ekspor nonmigas Indonesia pada triwulan I-2018 ini ditopang oleh ekspor sektor  manufaktur,  yang meningkat hingga 18,7 persen menjadi  USD 399,3 juta dari USD 336,3  juta pada periode yang sama di 2017,  dan ekspor sektor  industri primer yang meningkat  6,9 persen menjadi USD 120,7 juta dari USD 112,9 juta,” katanya.

“Sektor manufaktur didorong  oleh tumbuhnya beberapa  komoditas yaitu elektronik,  plastik dan produk plastik,  produk logam, mesin-mesin,  produk kayu, dan produk karet dengan peningkatan nilai ekspor lebih dari 10 persen. Sementara itu, produk tekstil  ekspornya  naik  hingga  8 persen menjadi  USD  60,1  juta  dari USD  55,5  juta,  dengan  tren  ekspor  lima  tahun  terakhir  tumbuh  positif  hingga  7,6 persen. Tekstil  adalah komoditas  ekspor  manufaktur  Indonesia  dengan  pangsa  pasar  terbesar  di  Australia,  mencapai  10,7 persen,” kata  Nurimansyah. 

Kemudian,  peningkatan  ekspor  sektor  industri  primer  didorong  oleh  peningkatan  nilai  ekspor  pada komoditas  kayu  olahan,  makanan  olahan,  logam  dasar,  dan  logam  mulia  dengan  pertumbuhan  lebih  dari 13 persen. Pertumbuhan  ekspor  tertinggi terjadi  pada  logam  dasar  yang  naik  75,2 persen. 

Di  sisi  lain,  ekspor  sektor  komoditas  primer  turun  namun  tetap  berkontribusi  terhadap  nilai  ekspor nonmigas  yang  positif.  Bahkan  terdapat  kenaikan  ekspor  mutiara  59,3%  dan  komoditas  perikanan  lainnya sebesar  3,6 persen. Tren  kedua  komoditas  tersebut  dalam  lima  tahun  terakhir  meningkat  di  atas  10 persen.

Indonesia  dan  Australia  terus  berusaha  mengembangkan  kemitraan  ekonomi  yang  lebih  erat.  Saat  ini, kedua  negara  masih  menyelesaikan  perundingan  Indonesia-Australia  Comprehensive  Economic Partnership  (IA-CEPA).  

Selain  itu,  KBRI  Canberra  dan  seluruh  perwakilan  Republik  Indonesia  di  Australia secara  rutin  menyelenggarakan  forum  bisnis,  mempromosikan  trade,  tourism,  dan  investment.  Perwakilan RI  juga  selalu  aktif  dalam  berbagai  pameran  dagang  di  Australia. 

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up