JawaPos Radar

Pedih, Perempuan Pakistan Dianggap Bodoh dan Dilarang Ikut Pemilu

13/07/2018, 17:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Pedih, Perempuan Pakistan Dianggap Bodoh dan Dilarang Ikut Pemilu
Kaum perempuan di Pakistan, khususnya desa Mohri Pur telah mematuhi peraturan yang melarang mereka ikut serta dalam pemilu yang berlaku sejak 1947 silam (AFP)
Share this image

JawaPos.com - Hak memilih harfiahnya milik seluruh masyarakat tanpa melihat gender. Lain halnya di Pakistan yang melarang kaum perempuan turut menyumbang suara pada musim pemilihan.

Kaum perempuan di Pakistan, khususnya desa Mohri Pur telah mematuhi peraturan yang melarang mereka ikut serta dalam pemilu yang berlaku sejak 1947 silam. Mereka hanya dapat berkumpul di bawah pohon Jambolan yang letaknya sejauh 60 kilometer dari Kota Multan, Pakistan.

Para tetua desa melarang perempuan memilih sejak beberapa dekade lalu. Mereka mengklaim bahwa mengunjungi sebuah TPS akan menimbulkan aib bagi mereka.

Pedih, Perempuan Pakistan Dianggap Bodoh dan Dilarang Ikut Pemilu
Pakistan negara yang masih sangat patriarki (Reuters)

Perempuan Pakistan Nazia Tabbasum, 31 tahun, mengatakan, kaum tetua dan laki-laki beranggapan bahwa perempuan itu bodoh atau ada masalah kehormatan bagi mereka. Anggapan seperti itu lantas memunculkan konteks kehormatan yang menggambarkan kode patriarki Asia Selatan yang berusaha membenarkan pembunuhan dan penindasan atas perempuan.

Perempuan dinilai tidak memiliki hak untuk memilih pasangan mereka sendiri bahkan bekerja di luar. "Aku tidak tahu di mana kehormatan mereka ketika mereka hanya berbaring di rumah sementara para perempuan bekerja di ladang," ujat Tabbasum seperti dilansir Gulf News, Kamis, (13/7).

Namun, sebenarnya Komisi Pemilihan Pakistan (ECP) telah menyatakan bahwa setidaknya harus ada 10 persen pemilih perempuan di setiap daerah. Jika tidak ada maka hasilnya dibatalkan.

ECP juga menyatakan bahwa hampir 20 juta pemilih baru telah masuk daftar yang pertumbuhannya berkembang pesat tersebut, termasuk 9,13 juta perempuan. Seorang Pakar Gender dan Aktivis HAM Farzana Bari mengatakan, alasan utama perempuan tak boleh ikut pemilu karena mereka tidak diizinkan untuk keluar dari rumah.

(trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up