JawaPos Radar

Lalu Muhammad Zohri, Si Yatim Paitu yang Bikin Sejarah Bagi Indonesia

13/07/2018, 13:50 WIB | Editor: Ilham Safutra
Lalu Muhammad Zohri, Si Yatim Paitu yang Bikin Sejarah Bagi Indonesia
Lalu Muhammad Zohri (Chandra Satwika/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Semua kini bangga pada Lalu Muhammad Zohri. Pemuda asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu merebut emas di IAAF World U20 Championships di Tampere, Finlandia, dini hari kemarin WIB. Di nomor paling bergengsi lari 100 meter. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang mengiringi bendera Merah Putih yang dikibarkan Zohri adalah sprinter Indonesia pertama yang mencicipi gelar juara dunia atletik.

Atlet 18 tahun itu mencatatkan waktu terbaik 10,18 detik. Itu mengungguli dua pelari Amerika Serikat, Anthony Scwartz dan Eric Harrison, yang sama-sama mencatatkan waktu 10,22 detik. "Sangat bangga sekali karena buat sejarah bagi Indonesia, sangat luar biasa," kata Lalu.

Dia mendapat tiket ikut kejuaraan dunia U-20 setelah mencatatkan waktu 10,25 detik di Invitation Games (test event Asian Games 2018). Awal Juni lalu siswa SMA Ragunan, Jakarta, itu meraih emas di Kejuaraan Asia Junior di Jepang. Saat itu dia mencatatkan waktu 10,27 detik.

Lalu Muhammad Zohri, Si Yatim Paitu yang Bikin Sejarah Bagi Indonesia
Lalu Muhammad Zohri ketika berlatih di Lombok. (Harli/Lombok Pos//Jawa Pos Group)

Di final kejuaraan dunia kemarin (12/7), Zohri menempati line ke-8 atau paling pinggir. Biasanya line pinggir untuk atlet yang kurang diunggulkan. Dia memperlihatkan start mulus dan melejit menjelang garis finis.

Setelah finis, Zohri sempat menunggu beberapa detik untuk melihat pengumuman. Begitu tahu juara, Zohri berlari kegirangan. Namun, dia sempat sulit mencari bendera Merah Putih untuk berselebrasi. Maklum, tidak ada yang mengira dia bakal juara.

Indonesia meloloskan tiga atlet muda ke Kejuaraan Dunia U-20. Selain Zohri, masih ada Halomoan Binsar (lari 400 meter putra) dan Idan Fauzan Richsan (lompat galah putra).

Nah, sebelum berangkat, Zohri dan Idan sempat mengalami masalah pengurusan visa. Khusus Zohri, dia membutuhkan penjamin untuk mendapatkan visa. Sebab, dia yatim piatu.

"Saya yang mesti tanggung semua. Jika tidak, ya tidak dapat visa," kata Bob Hasan, ketua umum PB PASI, setelah mengikuti rapat di kantor Kemenko PMK, Jakarta, kemarin.

Sementara itu, Idan terpaksa tidak berangkat lantaran galah yang digunakan untuk bertanding tidak bisa masuk ke pesawat. Sudah diurus jauh-jauh hari, tapi tetap tidak bisa.

Zohri merupakan penggawa tim sprinter putra Indonesia bersama Fadlin, Yaspi Boby, Eko Rimbawan, dan Bayu Kartanegara. Mereka menjadi pilihan utama pelatih Eni Nuraini untuk disiapkan di nomor estafet 4 x 100 meter putra pada Asian Games 2018.

Khusus Zohri, dia baru bergabung sejak pelatnas berlangsung awal Januari 2018, setelah Eni memantau dia di Kejurnas PPLP yang berlangsung di Lombok, NTB. Saat itu Zohri mencatatkan waktu di kisaran 10,40 detik.

"Dia ini memang istimewa, punya bakat alam," terang Eni. Terbukti, berlatih selama enam bulan bersama skuad pelatnas, Zohri muncul mengejutkan dengan sejumlah pencapaian baru. Yakni, juara Asia Junior 2018 dan Juara Dunia U-20 2018.

Zohri juga berasal dari keluarga yang kurang mampu di NTB. Ibunya, L. Saeriah, meninggal dunia pada 2015. Setahun kemudian, L. Ahmad, ayah Zohri, menyusul sang ibu. Rumahnya di Dusun Karang Pangsor, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, berukuran 7 x 4 meter yang disangga kayu balok.

Dinding pembatas ruang tamu dan ruang tidur hanya disekat papan. Beberapa bagian dinding terbuat dari gedek. Karena tidak rapat, dinding ditutup dengan koran bekas. "Rumah ini saya jaga karena kakak Zohri (Fadilah, Red) bekerja di Gili Trawangan," kata Zuliadi, teman masa kecil Zohri.

Apresiasi Berdatangan

Presiden Joko Widodo mengapresiasi prestasi yang dicatatkan Zohri. Bagi Jokowi, itu modal berharga bagi Indonesia di Asian Games. "Saya kira tidak saya saja, tapi seluruh rakyat Indonesia tentu senang dan bangga," ujar Jokowi setelah menghadiri perayaan puncak Hari Koperasi di ICE BSD, Tangerang, kemarin.

Mendagri Tjahjo Kumolo dan Menpora Imam Nahrawi "berebut" merenovasi rumah Zohri di Lombok Utara. Menteri dari PDIP itu meminta jajarannya menyelesaikan renovasi dalam waktu sepekan. "Minta izin kepada yang punya rumah, target satu minggu kerja. Anak-anak IPDN (asal NTB) bantu-bantu juga," lanjutnya.

Di tempat terpisah, Menpora Imam Nahrawi secara pribadi juga ingin membantu merenovasi tempat tinggal Zohri. Selanjutnya, Kemenpora menyiapkan bonus khusus sebagai apresiasi dari pemerintah. "Untuk detailnya, sedang kami bahas di internal Kemenpora," terang menteri dari PKB itu. 

(nap/byu/far/arl/JPG/c10/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up