JawaPos Radar

Tiga Cewek ITS Olah Metana Jadi Gas Sintetis

13/07/2018, 13:30 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Mahasiswa ITS
Tiga Mahasiswa ITS saat melakukan percobaan pengolahan gas metana di laboratorium. (Dok. Humas ITS for JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Tiga mahasiswa ITS berhasil menyulap gas metana menjadi gas sintetis (syn-gas). Ketiga mahasiswa adalah Ahyudia Malisa Ilham, Naimatul Khoiroh dan Stella Jovita.

Mereka memanfaatkan teknologi membran. Selama ini, metana yang melimpah sekaligus berbahaya, jarang dimanfaatkan manusia. Saat ini, kandungan metana sebagai penyusun utama gas alam mencapai sekitar 90 persen. Metana dihasilkan sebagai hasil samping dari industri pertambangan minyak bumi dan proses pengilangan minyak mentah.

"Keberadaan metana yang melimpah ini masih sangat jarang dimanfaatkan manusia. Sebab proses penyimpanan dan pendistribusiannya dinilai memiliki risiko ledakan yang tinggi," jelas Ahyudia.

Berawal dari itu, mereka lantas memanfaatkan metode Oksidasi Parsial Metana (OPM) untuk mengubah metana menjadi syn-gas. "Metode ini diteliti cukup efektif. Karena hanya membutuhkan suhu dan tekanan rendah ketika bereaksi dibandingkan metode lainnya," tambahnya.

Tak hanya itu, kelebihan reaksi OPM juga dinilai memiliki efisiensi yang tinggi. Sebab reaksinya bisa mengeluarkan energi panas dan mengonsumsi energi yang sedikit.

Ketika reaksi OPM berlangsung, dibutuhkan teknologi membran (selaput tipis sebagai pemisah). Melalui membran itulah, gas metana dapat diubah menjadi gas yang penuh manfaat. Yakni, syn-gas berupa hidrogen dan karbonmonoksida.

"Kedua gas tersebut tidak berbahaya dan mampu dimanfaatkan menjadi bahan bakar pembangkit listrik, pelumas, dan bahan bakar cair lainnya melalui proses lebih lanjut," papar Ahyudia.

Dalam proses konversi gas metana menjadi syn-gas, fungsi membran berguna untuk mengontrol jumlah oksigen yang bereaksi. Pengontrolan ini penting karena reaksi membutuhkan jumlah oksigen sebagian (parsial) bukan oksigen berlebih.

"Jika oksigen berlebih bereaksi dengan metana, maka akan teroksidasi secara sempurna dan tidak akan menghasilkan produk syn-gas. Tapi akan menghasilkan karbondioksida dan air," terang mahasiswi angkatan 2014 ini.

Naimatul Khoiroh menambahkan, membran yang digunakannya memiliki tipe perovskit LSCF 7328. Perovskit adalah senyawa kimia yang memiliki struktrur kristal ABO3. A merupakan unsur kimia golongan 1 dan 2, B merupakan unsur golongan transisi, sedangkan O merupakan unsur oksigen. "Unsur-unsur tersebut bisa ditemukan tepatnya di sistem tabel periodik unsur," ulas Naimatul

LSCF (Lanthanum, Strontium, Carbonoxide, and Ferrum) 7328 merupakan oksida perovskit yang memiliki sifat kestabilan dan keidealan struktur perovskit pada suhu tinggi. Sehingga penggunaan membran perovskit LSCF 7328 dinilai menunjukkan aktivitas yang baik terhadap oksidasi metana dan resisten (memiliki ketahanan) terhadap karbondioksida.

Terkait membran perovksit yang digunakan, mahasiswi asal Lamongan itu mengaku melakukan fabrikasi atau membuat membran perovskit LSCF 7328 sendiri. Bahan-bahan yang digunakan yakni LSCF 7328 sebagai oksida perovskit, N Methyl Pyrrolidone (NMP) sebagai pelarut, Polietersulfon (PESf) sebagai polimer perekat, dan Polietilen Glikol (PEG) sebagai polimer aditif (tambahan).

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up