JawaPos Radar

Wawancara Khusus Mendag Enggartiasto Lukita

Nasib Ekspor RI di Tengah Bayang-Bayang Perang Dagang

13/07/2018, 11:45 WIB | Editor: Mochamad Nur
Nasib Ekspor RI di Tengah Bayang-Bayang Perang Dagang
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (DOK.DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
Share this

JawaPos.com - Dalam Rapat Koordinasi Kementerian Perdagangan pada Februari lalu, Kemendag merevisi target pertumbuhan ekspor dari semula 5-7 persen meningkat menjadi 11 persen. Revisi target peningkatan ekspor ini disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di acara penutupan Rapat Kerja Kemendag yang berlangsung hari ini, Jumat (2/2) di Hotel Borobudur, Jakarta.

Enggar, begitu biasa dia disapa, menyebut beberapa faktor yang dapat mendorong pencapaian target pertumbuhan ekspor sebesar 11 persen, di antaranya kondisi pemulihan ekonomi global, perbaikan harga komoditas di pasar internasional seperti batu bara, serta kemenangan Indonesia atas tudingan antidumping produk biodiesel oleh Uni Eropa.

Akan tetapi, Indonesia harus menerima kenyataan bahwa negara-negara di dunia tengah menabuh genderang proteksionisme yang makin nyata. Khususnya Amerika Serikat yang tengah memelototi negara-negara yang membuat neraca dagangnya defisit.

Nasib Ekspor RI di Tengah Bayang-Bayang Perang Dagang
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (DOK. DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)

Sebelumnya, Amerika Serikat telah menerapkan tarif sebesar 25 persen terhadap produk baja Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kini giliran Indonesia yang dipelototi Amerika Serikat karena mendapatkan surplus dagang hingga USD 14 miliar. Buntutnya adalah fasilitas Generalize System of Preference (GSP) terhadap 3.547 produk yang didapat Indonesia dari Amerika Serikat akan dicabut.

Lantas bagaimana langkah Mendag Enggar dalam menghadapi tantangan ekspor ke depan? Berikut kutipan wawancara Uji Sukma Medianti dari JawaPos.com dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kamis (12/7) :

Kebijakan ekspor ke depan, banyak hambatan non-tariff barrier. Dari Kemendag, bagaimana melihat perdagangan dunia?
PE kita ke depan sangat bergantung pada investasi dan ekspor. Harus kita akui bahwa Indonesia sudah terlambat untuk membuat perjanjian pedagangan yang kita kenal apakah itu FTA, CEPA, maupun PTA. Kira-kira 10 tahunan lah.

Kemarin kita tanda tangani perjanjian dengan Chile, kemudian Palestina, tanpa ada studi dan apa pun. Dalam waktu dekat ini, ada Indonesia-Australia dalam skema CEPA, kemudian Indonesia-Mozambik dengan harapan Maroko juga, RCEP yang lebih besar. Ada 10 negara ASEAN, ditambah RRT, India, Jepang, Australia, New Zealand hampir 50 persen populasi dunia ada di sini. Jadi market-nya besar sekali.

Lalu apa saja kendala dalam memulai perjanjian dagang baru?
Masalahnya adalah dalam memulai perjanjian itu tidak mudah. Baik eksternal maupun internal. Apalagi pembicaraan regional seperti itu. Dengan EU juga masih dalam pembicaraan. EFTA mengejar ketertinggalan harus kita laksanakan, dan kita mau memulai kembali dengan Turki. Kita hampir menandatangani kesepakatan bersama untuk melakukan tetapi tertunda. Alasannya dari pihak mereka maupun kita. Belum lagi masalah ego sektoral.

Apa urgensinya?
Perintah dari Presiden Joko Widodo, membuat perjanjian bilateral dan multilateral untuk meningkatkan ekspor. Kalau tidak ada perjanjian itu kita akan semakin tertinggal. Kalau kita bandingkan dengan Vietnam, dengan Malaysia. Jangan bandingkan dan dengan Singapura, kita tertinggal.

Contoh tertinggal yang seperti apa?
Saya selalu beri gambaran yang paling sederhana dengan Turki. 2015 kita ekspor CPO kita 350 juta ton, 2016 (ekspor) 50 juta ton, 2017 nol. Kenapa? Itu semua (pasar) kita diambil sama Malaysia. Karena Malaysia ada perjanjian dagang. Sedangkan kita tidak ada perjanjian. Itu gambarannya, kalau kita nggak punya perjanjian dagang, ya seperti ini. Pasti kita dirugikan, tapi dalam perjanjian dagang itu kita tidak bisa untung sendiri, kita juga harus buka akses ke mereka.

Kenapa waktu itu kita tidak buat perjanjian dagang dengan Turki, sehingga saat ini disalip oleh Malaysia?
Dalam perjanjian itu kita juga lihat berapa yang kita buka, berapa yang zero tariff, dan berapa yang kita kasih. Belum lagi masalah services-nya. Jadi kompleksitasnya begitu banyak. Kalau ditanya kenapa tidak? Saya tidak bisa jelaskan sepotong karena penjelasannya begitu panjang. Bagaimana CPO kita bisa buka zero tariff dengan mereka (Turki), ya kita harus buka diri dari mereka. Untuk sekian komoditas yang kita minta, kita juga harus bukakan (Turki) untuk itu. Kita sama-sama punya perhitungan, kita punya hitungan matematis untuk itu.

Sudah berapa lama langkah-langkah itu dilakukan?
Kita targetkan 11 persen di tahun 2018. Di tengah kondisi seperti ini pertumbuhan 11 persen harus kita capai, walaupun di dalam target kalau pertumbuhan ekonomi kita mau 5,2-5,6 persen. Pertumbuhan kita harus sekian (di bawah 11 persen). Tetapi kenapa kita sepakati di dalam raker pertumbuhan ekspor kita harus 11 persen karena pada tahun lalu kita pertumbuhannya 16 persen. Kita sudah undang Atase untuk menghitung berapa sih pertumbuhannya dengan berbagai asumsi yang ada. Tentu bukan suatu hal yang mati karena berbagai perkembangan yang ada harus kita perhatikan.

Apakah kita masih bisa optimistis untuk mencapainya di tengah kondisi perdagangan dunia yang proteksionis?
Situasi dampak dari kecenderungan proteksionisme kalau mau dilihat sebagai ancaman pasti iya, tetapi kalau kita melihat itu sebagai peluang iya, tapi kan itu tak semudah. Oh di sana (negara lain) ada tekstil yang masih kosong lalu kita isi. Di dalam kegiatan perusahaan maka kita bisa. Jadi kita perlu melakukan penetrasi dulu. Yang sudah terbiasa membaca sesuatu harus baca perkenalan. Beberapa agen memang ada yang langsung spesifik. Tapi ini harus kita lihat dulu.

Dalam negosiasi, karena bersaing, kita harus punya unggulan. Apa sektor unggulan kita? Banyak sekali. Dalam daftar Generalized System Preference (GSP) yang dikasih Amerika Serikat saja ada 3.547 tariff lines. Dan kita tak ada yang bisa meng-cover. Maka kita undang kementerian/lembaga, kalian minta apa? Dan itu kita pilah-pilah satu per satu. Kita bicara mobil saja misalnya, itu satu turunannya banyak. Kita bicara CPO itu derivatif keunggulannya banyak. Kalau kita bicara eksportir atau importir saja. Ya ekonomi kita terpukul.

Langkah apa saja yang akan ditempuh?
Mereka akan sampaikan. Suplus kita USD 14 miliar. Amerika Serikat buat Indonesia adalah nomor dua terbesar ekspor kita, kita dapat fasilitas GSP. Tetapi anda sudah dapat fasilitas anda buat tariff barrier dan non-tariff barrier. Marah kan? Sama saja seperti Anda sudah kasih fasilitas ke saya, lalu saya surplus. Tapi kemudian barang Anda saya stop. Untuk mencabut (GSP) itu menurut saya bisa dimengerti. Nah ini yang harus kita diskusikan.

Apa yang membuat Amerika Serikat merasa dihambat oleh Indonesia?
Mereka minta market akses produk-produk mereka. Kita dapat surplus, tapi ada barrier yang kita buat.

Salah satu contohnya?
Apel. Kita memang sudah buka apel. Tapi menurut mereka kita buka ekspor apel di kala mereka sedang tidak panen. Di kala mereka panen kita tidak kasih kesempatan. Dan kita sebenarnya tidak perlu takut karena kan masih ada produksi dalam negeri seperti apel Malang, kita juga ada impor apel dari Australia.

Apa kemungkinan terburuk jika GSP-nya dicabut?
Tidak boleh ada kemungkinan terburuk. Kalau gitu buat apa ada negosiasi. Jadi ini adalah sesuatu yang kita negosiasikan. Kita membuka seperti ini ada give and take.

Produk apa saja yang paling berpengaruh kalau GSP-nya dicabut?
Banyak. Ada furnitur, karet, footwear.

Apa saja yang akan dilakukan selama di Amerika nanti?
Kita akan bertemu dengan USTR. Kita akan duduk dan bicara dan kita diundang untuk itu. Jadi Pak Dubes kita di Amerika melakukan pendekatan yang sangat baik. Melakukan lobi itu juga menindaklanjuti karena kita sudah menyurat sebelumnya. Tapi kan mereka punya deadline. Responsnya adalah mereka mengundang kita untuk datang ke sana.

Kapan berangkatnya?
Kira-kira tanggal 23 Juli lah.(***)

(ce1/uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up