JawaPos Radar

Selain Dolar, Ini Penyebab Tingginya Harga Telur Ayam di Pasar

12/07/2018, 23:12 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Selain Dolar, Ini Penyebab Tingginya Harga Telur Ayam di Pasar
Harga telur ayam naik di pasaran (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut ada dua faktor yang membuat harga telur ayam naik di pasar akhir-akhir ini. Pertama, melemahnya Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang terjadi beberapa bulan terakhir.

Hal ini memberi pengaruh terhadap harga jual pakan yang berbahan baku impor. Akan tetapi, selain pengaruh komponen bahan baku yang berasal dari impor ada faktor dari dalam negeri juga. Salah satunya adalah ketersediaan Day Old Chicken (DOC).

"Yang (berbahan baku) komponen impor pasti naik (harganya), DOC (juga) naik, diluar itu ada tingkat kematian (ayam petelur) yang cukup (tinggi)," kata Enggar saat wawancara khusus dengan JawaPos.com di Kantornya, Jakarta, Kamis (12/7).

Sesuai dengan hukum suplai dan demand, jika suplai berkurang maka harganya juga akan naik. Harga ditingkat hilir akan meningkat apabila suplai berkurang dan ditambah biaya pokok yang naik.

"Jadi ya, kita mau apa kalau kondisi kayak gitu," katanya.

Berada di kondisi seperti ini, lanjut Enggar, pemerintah juga tak tinggal diam. Dia mengatakan akan memanggil pengusaha produsen pakan untuk mengurangi margin keuntungan. Cara ini dilakukan lantaran pemerintah tak bisa lagi menekan margin peternak kecil.

"Tinggal bagaimana bersama pengusaha tolong kurangi marginnya, peternak kecil jangan ditekan terus," kata Enggar.

Selain di Jakarta, harga telur ayam dan ayam potong juga naik di kota kelahiran politikus Nasdem itu. Bahkan, kenaikan harga keduanya melebihi harga saat lebaran kemarin.

Pantauan JawaPos.com, di dua pasar tradisional di Kota Cirebon, harga telur mencapai Rp 28 ribu per kilogram. Sementara harga ayam potong mencapai sekitar Rp 39 ribu.

Pedagang telur di Pasar Pagi, Iim, 58, mengatakan, kenaikan harga telur ayam sudah terjadi selama tiga hari terakhir. Dia mengaku tidak tahu persis penyebab naiknya harga telur ayam tersebut.

"Sudah tiga hari ini naik. Sekarang saja sudah Rp 28 ribu per kilo. Padahal harga waktu mau lebaran hanya Rp 23 ribu atau Rp 24 ribu. Kenaikannya sampai 5 ribu. Ini parah," ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (12/7).

Iim mengaku, kenaikan harga telur itu membuat para pelanggannya kaget. Karena tidak biasanya harga telur ayam setinggi itu. Padahal, menurutnya, saat Ramadan dan Idul Fitri lalu saja harga telur tidak semahal sekarang.

"Pelanggan saya saja sampau kaget. Kok harga telur semakin naik tidak biasanya. Padahal harga telur tidak sampai Rp 28 ribu per kilogram," keluh Iim.

Terpisah, pedagang telur di Pasar Kramat Kota Cirebon, Agus, 27, menyebutkan, harga telur ayam yang dijualnya berkisar Rp 27 ribu hingga Rp 28 ribu.

Menurutnya, harga telur yang mendekati harga ayam potong membuat pembeli beralih membeli ayam. Mengingat, harga telur dan daging ayam potong hanya selisih Rp 10 ribu.

"Pembeli banyak yang mikir ulang kalau mau beli telur. Tanggung beli daging ayamnya saja," pungkasnya.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up