JawaPos Radar

Harga Telur Ayam di Makassar Juga Meroket

12/07/2018, 20:49 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Harga Telur Ayam
NAIK: Harga telur di pasar tradisional Terong, Makassar, mengalami peningkatan sejak beberapa pekan terakhir. (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.comHarga telur ayam di Makassar, Sulawesi Selatan terus mengalami lonjakan cukup signifikan sejak beberapa pekan terakhir. Kendati demikian, belum diketahui pasti apa penyebab dari melonjaknya harga telur ayam tersebut.

Salah satu pedagang telur di pasa tradisional induk di Makassar, Terong, Samsir, 35, mengaku, harga untuk 1 rak telur jenis ayam ras, saat ini mencapai Rp 45 ribu. Padahal sebelumnya, harganya masih 42-43 ribu per raknya.

"Sudah harga pasarannya kita lepas begitu, jadi biasanya memang kalau naik, otomatis pembeli heran-heran karena naiknya memang tinggi," ujarnya saat ditemui di lapak dagangnnya di pasar Terong Makassar, Jalan Bawakaraeng, Kamis (12/7).

Sementara untuk harga telur ayam kampung, per bijinya mencapai Rp 1.500, dari harga biasa yang dipasarkan sekitar Rp 1.200. Untuk telur bebek juga mengalami peningkatan hingga Rp 1.700 pe rbiji dari harga biasa Rp 1.500.

Menurut Samsir, pemasok telur yang biasnya diambil dari luar daerah, seperti kabupaten Sidrap dan Pinrang, Sulsel, telah membatasi distribusinya ke pedagang luar, khususnya ke pasar kota, sejak 2 pekan lalu.

Kurangnya distribusi pemasok katanya juga menjadi faktor utama, kenaikan harga yang bertahan hingga saat ini. "Kalau biasakan kita ambil banyak dari daerah, tapi kalau saya sudah hampir dua minggu ini terbatas dikasih dari sana. Katanya memang dibatasi, makanya harganya naik sekali juga," ucapnya.

Kenaikan harga telur tak hanya dirasakan oleh pedagang di pasar tradisional Terong, kenaikan yang persis sama juga dirasakan di pasar tradisional Toddopuli, Makassar.

Salah satu pedagang, Ilyas, 40, mengaku harga telur yang mengalami kenaikan hingga saat ini, telah dirasakan para pedagang sejak sepekan setelah lebaran. Harga itu sempat bertahan pada kisaran Rp 42 ribu peraknya beberapa waku lalu.

Namun entah karena faktor apa, harga itu kemudian meningkat drastis dari harga yang sebelumnya ada. "Rata-rata begitu. Sempat memang bertahan tapi tidak turun juga pas abis lebaran berapa hari. Tapi satu minggu setelah itu langsung naik lagi seperti yang sekarang ini," tambahnya.

Kenaikan harga ditambakan Ilyas, tentu saja berdampak pada tingkat permintaan konsumen yang belakangan menurun. "Pasti menurun, ini sudah berapa hari kalau ada pembeli, pas tahu herganya biasa tanya-tanya kenapa naik sekali. Yah, kita pasti ikut harga yang ada saja karena pasokannya juga sudah segini harganya," pungkasnya.

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up