JawaPos Radar

Cawapres 2019

Baca Surat Terbuka Mahfuz Sidik, Anies Lempar ke Partai Pengusung

12/07/2018, 13:03 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Baca Surat Terbuka Mahfuz Sidik, Anies Lempar ke Partai Pengusung
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Desyinta Nuraini/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku sudah membaca sebuah surat terbuka yang dikirimkan Politikus PKS Mahfuz Sidik. Surat tersebut berisikan tentang ekspresi seorang warga yang merasa cemas lantaran pemimpinnya digadang menjadi cawapres pada Pilpres 2019.

Anies mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan kepadanya. Namun, menurutnya, surat tersebut seharusnya dikirimkan ke partai politik yang menyorongkan namanya untuk maju pada Pilpres mendatang. Seperti Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Yang menyorong-nyorongkan nama itu lah yang harus dikirimkan surat. Saya sedang mengurus Jakarta, jadi saya terimakasih saja dapat surat. Tapi surat itu harusnya dikirimkan ke partai-partai karena partai-partai lah yang membicarakan,” ujar Anies di Hotel Four Points, Jakarta Pusat, Kamis (12/7).

Baca Surat Terbuka Mahfuz Sidik, Anies Lempar ke Partai Pengusung
Ilustrasi. (Kokoh Praba/ JawaPos.com)

Berikut penggalan surat terbuka yang dikirimkan Mahfuz Sidik:

Yth Bapak Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta.

Dengan rendah hati, saya ingin memperkenalkan diri sebagai salah seorang warga Bapak yang berdomisili di Jakarta Selatan. Nama saya Mahfuz Sidik bin Ahmad Suryani, lahir di Jakarta 52 tahun lalu, dari pasangan ayah-ibu yang asli Jakarta. Saya ingin mengawali dengan doa keberkahan agar Bapak selalu diberi kekuatan, bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT agar mampu melaksanakan tugas dan amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta – pemimpin kami - dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. 

Bapak Gubernur Yth.

Dua bulan terakhir ini, saya kerap membaca dan menonton berita tentang sejumlah politisi dan pimpinan partai yang mendorong-dorong Bapak sebagai calon wakil presiden, dan bahkan sebagai calon presiden. Sebagai pribadi yang menilai Bapak sebagai sosok orang baik, tentu ikut bangga dan gembira. Namun berita-berita itu - yang mulai “memaksa” Bapak ikut berkomentar - juga menyisipkan rasa gelisah dan cemas dalam diri saya.

Sebagai warga asli Jakarta, saya mengalami kepemimpinan 11 Gubernur dan Plt Gubernur DKI Jakarta sejak tahun 1966. Dimulai era Ali Sadikin, Tjokropranolo, Soeprapto, Wiyogo, Soerjadi, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki CP, Djarot SH sampai Gubernur Anies Rasyid Baswedan.

Seingat dan sepengetahuan saya, proses pemilihan Gubernur pada tahun 2017-lah yang paling heboh, panas, dan menguras energi masyarakat Indonesia. Belum pernah saya menyaksikan begitu banyak doa dilantunkan di rumah, musholla, masjid dan majlis taklim untuk terpilihnya Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Bahkan saya menyaksikan 

bagaimana pada hari Rabu subuh, tanggal 19 April 2017, begitu banyak warga Jakarta yang menghadiri sholat subuh berjama’ah di masjid dan musholla. Mereka bermunajat untuk kemenangan Bapak, sebelum menuju TPS memastikan hak pilihnya.

Bapak Gubernur Yth.

Kenapa terselip rasa gelisah dan cemas dalam diri saya? Karena setelah mengikuti hiruk-pikuk berita di media, muncul pertanyaan di kepala saya: “Akankah saya kehilangan sosok Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah saya pilih berama tiga jutaan warga lainnya?” Jika pemimpin itu diposisikan sebagai imam bagi ummat, “Apakah sang Imam akan meninggalkan ummatnya di fase awal perjalanan perjuangan ini?”

Bapak Anies Rasyid Baswedan Yth.

Sebagai orang asli betawi dan warga kota Jakarta, saya bangga dengan Ibukota Negara ini yang menyandang sebagai Daerah Khusus. Kebetulan – atas izin Allah – saya ikut menyusun UU No 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jadi dengan fakta itu, saya memahami dan memposisikan Gubernur DKI dengan kedudukan yang sangat besar dan tinggi. Setidaknya setara dengan 18 Kepala Negara lain (dari sisi luas wilayah), dan setara dengan 109 Kepala Negara lain (dari sisi jumlah penduduk). Dan pastinya sebagai Gubernur paling bergengsi di Indonesia, sebagaimana dimandatkan dalam UU No 29/2007.

Selama 52 tahun menjalani usia hidup di Jakarta, saya - sebagaimana jutaan warga bapak yang lainnya – punya harapan agar Ibukota Negara ini semakin maju dan beradab. Setidaknya 5 masalah utama yang sering dikeluhkan warga bisa diselesaikan dengan baik dan tuntas, yaitu kemacetan, banjir, sampah, korupsi dan pengangguran. Saya dan warga Jakarta lainnya juga siap mendukung dan berkontribusi agar 23 janji kampanye Anies-Sandi bisa dilaksanakan dan dibuktikan keberhasilannya.

Bapak Gubernur Yth.

Surat terbuka ini saya tulis pada hari Rabu, 11 Juli 2018. Artinya menjelang 7 bulan usia kepemimpinan Bapak sebagai Gubernur. Dalam rentang masa tugas 5 tahun (2017-2022), perjalanan 7 bulan pertama, saya yakini sebagai fase “Ta’aruf”. Yaitu fase Bapak mengenali apa dan bagaimana Jakarta ini. Mungkin baru mulai tahun kedua dan seterusnya, Bapak bisa benar-benar menjalankan program pembangunan secara tepat dan cepat. Ingatan kami masih melekat akan peristiwa sepanjang Pilkada Jakarta pada 15 Februari dan 19 April 2017 dengan semua rangkaian peristiwa yang mengiringinya.

Hari-hari ini, saya hanya bisa memanjangkan doa kepada Allah SWT agar Bapak Gubernur bersama Wakil Gubernur bisa terus mengemban amanah dan tugasnya hingga tuntas. Sehingga tuntas pula pertanggungjawaban amal di hadapan masyarakat Jakarta dan di hadapan Sang Pemilik dan Pemberi Kekuasaan, Allah Azza wa Jalla. Berjalan dalam istiqamah dan sabar. Saya ingin menutup surat terbuka ini dengan cerita kecil. Saat saya ikut berikhtiar memenangkan Anies-Sandi, Ibu saya memberi pesan untuk memperbanyak membaca surah Al-Insyirah. Agar Allah selalu memberi kemudahan atas berbagai kesulitan. Salah satu bagian ayat dari surah itu berbunyi: “fa idzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika farghob” (maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), teruslah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap). (QS Al-Insyirah ayat 7-8).

Taqabbalallahu minnaa wa minkum, minal aidin wal-faizin. Mohon dibukakan pintu maaf lahir dan batin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam hormat,

ttd

Mahfuz Sidik 

Warga DKI Jakarta

NIK 3174032509660005

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up