Karena Kami (Seharusnya) Lebih Baik
Oleh AZRUL ANANDA
HARI ini, ada yang baru lagi di Jawa Pos.... Mulai Senin hari ini, 24 Oktober, ada lembaran baru Better Generation.
Setiap hari, Senin sampai Sabtu, halaman baru ini akan terbit
Setiap hari halaman baru ini akan membahas
para anak muda pengusaha Indonesia.
Khususnya mereka yang second generation
atau selanjutnya dari sukses keluarga
masing-masing.
Mengapa mereka harus dibahas secara
komplet setiap hari? Sebab, mereka seharusnya
adalah generasi yang lebih baik.
Sebab, orang tua mereka seharusnya adalah
’’masa lalu’’, sedangkan mereka adalah
’’sekarang’’ dan ’’masa depan’’.
Karena mereka anak orang-orang yang ikut
menentukan perjalanan Indonesia, mereka
inilah yang punya potensi untuk berbuat banyak
untuk Indonesia sekarang. Lebih penting
lagi, merekalah yang punya potensi untuk
mengembangkan Indonesia di masa depan.
Masa depan yang dimaksud bukan 50
tahun lagi, atau 100 tahun lagi. Masa depan
yang dimaksud adalah masa depan yang
jauh lebih penting. Yaitu, masa depan yang
sudah ada di depan mata. Yaitu, masa depan
yang akan menentukan masa depan
50 tahun lagi, atau 100 tahun lagi.
Siapa saja orang-orang yang akan menentukan
masa depan paling penting ini bakal
bisa dibaca setiap hari, mulai Senin hingga
Sabtu, di Jawa Pos....
***
Ya, saya termasuk bagian dari generasi ini.
Ya, saya termasuk yang beruntung menjadi
anak seseorang yang dianggap hebat, dianggap
luar biasa, dan telah meraih pencapaian
yang (secara fakta) luar biasa.
Ya, hidup anak seperti saya ini bisa dibilang
enak. Hidup enak. Hidup lebih leluasa.
Mau apa saja lebih bisa dari kebanyakan.
Tapi...
Hidup seperti saya juga tidak enak.
Sudah sebelas tahun ini saya berkarya full
time di Jawa Pos. Sangat sering saya merasakan
sebalnya disebut ’’Kamu di sini garagara
bapak’’. Dan jujur, sangat sering saya
merasa sebal terhadap orang-orang yang ada
di sekeliling, termasuk orang-orang yang
sudah lama berada di sekeliling bapak.
Apalagi, awal-awal dulu. Sekarang? Sudah
santai. Selain merasa sudah membuktikan
diri, saya sudah merasa lebih santai menanggapinya.
Mungkin karena sudah terlalu
biasa,
he he he....
Sekarang, kalau ditanya rasanya jadi second
generation, paling saya menjawab, ’’Ya sebenarnya
paling nggak enak. Bagaimana tidak.
Kalau kita sukses, nanti yang disanjung tetap
bapak. Kalau kita gagal? Ya kita yang bakal
dihujat habis-habisan. Jadi tidak ada winwin-
nya. Hanya lose-lose-nya, he he he.... Tapi,
ya mau bagaimana lagi. Lha wong saya tidak
bisa memilih lahir jadi anaknya bokap....’’
Repotnya lagi, tidak banyak orang yang
bisa diajak bicara soal yang begini ini. Bicara
dengan karyawan? Tidak mungkin lah! Bicara
dengan teman? Mereka belum tentu paham
kalau mereka bukan second generation.
Yang bisa paham dan saling tertawa membicarakan
soal ini ya dengan sesama second
generation. Lucu juga. Ketika bertemu
dengan anak-anak senasib ini, cerita kita
banyak yang sama. Ledekan terhadap
orang tua dan orang sekeliling banyak yang
mirip (sori ya, bapak dan ibu). Perasaan
terhadap orang sekeliling juga banyak yang
mirip (sori ya, yang lain).
Makanya, kalau kita sesama ’’anak bos’’ saling
bertemu, akhirnya banyak yang ’’nyambung’’.
Dan tidak banyak orang lain bisa paham.
Halaman Better Generation pun berpotensi
menjadi jembatan penghubung. Jadi, bapakbapak
atau ibu-ibu bisa paham cerita banyak
’’anak bos’’ dan para ’’anak bos’’ bisa belajar dari
satu sama lain. Bagi yang lain, bisa belajar tentang
para ’’bos besar’’ dan para ’’bos kecil....’’
***
Harus diakui, tidak semua ’’bos kecil’’
sehebat orang tuanya. Saya sendiri, misalnya,
tidak mungkin bisa melakukan semua
yang bisa dilakukan ayah saya.
Tapi, kalau mau dibalik, juga bisa. Banyak ’’bos
kecil’’ yang lebih hebat daripada orang tuanya.
Ayah saya juga tidak bisa melakukan beberapa
hal yang bisa saya lakukan (sori, bos!).
Dan nanti tidak semua yang dimuat di halaman
Better Generation bisa meraih sukses
sebesar orang tuanya. Jadi, ketika mengikuti
halaman baru ini setiap hari, saya meminta
para pembaca bisa lebih open mind.
Kata kuncinya adalah ’’potensi’’. Mereka
–maaf, kami– disebut Better Generation
karena mereka –maaf, kami– memang seharusnya
lebih baik. Punya potensi lebih
baik daripada para bos besar.
Bayangkan, kalau 75 persen saja dari para
better generation ini bisa ’’jadi’’ yang ’’sejadijadinya’’,
alangkah indahnya masa depan Indonesia
dalam waktu dekat ini. Dan itu berarti
potensi luar biasa untuk masa depan 50 tahun
lagi, masa depan 100 tahun lagi....
Selamat membaca! (*)