Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juni 2026 | 04.10 WIB

Serangan DDoS di Indonesia Naik 62 Persen, Mayoritas Bermotif Uang dan Disertai Permintaan Tebusan

Serangan DDoS di Indonesia naik 62 persen. (Dok. StormWall) - Image

Serangan DDoS di Indonesia naik 62 persen. (Dok. StormWall)

JawaPos.com - Laporan terbaru dari StormWall menunjukkan bahwa ancaman serangan distributed denial-of-service (DDoS) terhadap organisasi di Indonesia terus meningkat. Pada kuartal pertama 2026, jumlah serangan yang menargetkan institusi dan perusahaan di Tanah Air tercatat melonjak 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ramil Khantimirov, Pendiri dan CEO StormWall, menjelaskan, di Indonesia, serangan DDoS lebih berkaitan dengan uang daripada politik. Salah satu tren yang seringkali diamati adalah meningkatnya aktivitas low-and-slow probing.

“Yaitu serangan berintensitas rendah yang berlangsung secara bertahap, di mana pelaku serangan sengaja menjaga volume lalu lintas tetap berada di bawah ambang deteksi untuk mengidentifikasi titik-titik lemah sebelum melancarkan serangan utama. Hal ini menciptakan risiko yang serius bagi organisasi yang tidak memiliki perlindungan DDoS yang andal,” kata Ramil di Jakarta.

Selama Januari hingga Maret 2026, StormWall mengaku berhasil memitigasi lebih dari 280 ribu serangan DDoS yang menyasar organisasi di Indonesia. Jumlah tersebut setara dengan rata-rata sekitar 3.100 serangan setiap hari.

Motif ekonomi menjadi pendorong utama di balik serangan-serangan tersebut. Sekitar 70 persen insiden yang terjadi di Indonesia dilatarbelakangi kepentingan finansial, dan 41 persen di antaranya disertai permintaan tebusan kepada korban.

Persentase ini berada di atas rata-rata global yang berkisar 30 persen. Kondisi tersebut berbeda dengan tren global pada kuartal pertama 2026, ketika serangan yang dipicu aktivitas hacktivisme lebih mendominasi seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Durasi serangan yang menargetkan Indonesia juga cenderung lebih panjang dibandingkan rata-rata dunia. Data StormWall menunjukkan hanya 62 persen serangan yang berakhir dalam waktu kurang dari lima menit, sedangkan secara global proporsinya mencapai sekitar 78 persen.

Dari sisi metode, pelaku semakin banyak memanfaatkan teknik serangan yang lebih kompleks. Serangan multi-vector, yakni serangan yang menggabungkan beberapa metode sekaligus, meningkat 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini, sekitar 62 persen serangan menggunakan sedikitnya dua vektor serangan, sementara 26 persen lainnya memanfaatkan tiga vektor atau lebih dalam satu aksi.

Selain itu, aktivitas probing atau upaya pemetaan dan pencarian celah keamanan meningkat 81 persen secara tahunan. Sementara itu, serangan carpet bombing, yang menyebarkan lalu lintas serangan ke banyak alamat IP dalam satu jaringan, juga naik 76 persen.

Jika dilihat berdasarkan sektor industri, perusahaan telekomunikasi menjadi target utama dengan porsi 26 persen dari total lalu lintas serangan. Posisi berikutnya ditempati industri hiburan dengan kontribusi 22 persen, disusul sektor keuangan sebesar 17 persen.

Menariknya, industri hiburan di Indonesia menjadi sasaran yang jauh lebih besar dibandingkan tren global. Secara internasional, sektor tersebut hanya menerima sekitar 9 persen dari total serangan DDoS yang terdeteksi.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore