Orang tua korban siswa SMPN 33 Gresik yang diduga terkena tembakan peluru nyasar, datangi DPRD Kabupaten Gresik. (Dokumentasi Radar Gresik)
JawaPos.com - Kasus peluru nyasar yang mengenai dua siswa SMPN 33 Gresik, terus bergulir. Peluru itu diduga berasal dari latihan tembak TNI AL Korps Marinir di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya.
Dua korban adalah Darrel Fausta Hamdani dan Renhearr Octo Hanaya. Insiden ini terjadi saat keduanya tengah mengikuti kegiatan sosialisasi sekolah pada 17 Desember 2025. Adapun jarak latihan tembak ke sekolah sekitar 2,3 kilometer.
Baru-baru ini, orang tua korban Darrel, Dewi Murniati, baru-baru ini menemui Ketua DPRD Gresik, Syahrul Munir, untuk mengadukan terhentinya proses pertanggungjawaban dari pihak kesatuan.
Baca Juga:Jusuf Kalla Datangi Bareskrim Polri, Laporkan Rismon Sianipar dalam Kasus Penyebaran Hoaks
Dewi mengungkapkan kekecewaannya karena pihak kesatuan dinilai tidak menepati komitmen awal dan terkesan menghindar. Ia juga menyoroti belum tercapainya kesepakatan terkait bentuk tali asih yang dijanjikan.
“Saya kecewa karena terkesan lepas tangan. Kami hanya meminta pihak kesatuan menanggung seluruh biaya yang timbul dan memberikan tali asih yang layak atas insiden yang menimpa putra saya,” ucap Dewi, dikutip dari Radar Gresik Jawa Pos Group, Rabu (8/4).
Ia menuturkan bahwa pihak TNI sudah dua kali mengajak mediasi untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan kasus tersebut dilaporkan ke POM AL.
Terkait isu tuntutan ganti rugi immaterial sebesar Rp 3,3 miliar, Dewi menegaskan angka tersebut bukan nilai final, melainkan bentuk somasi atau teguran keras dan agar kasus ini mendapat perhatian dari publik.
“Itu (Rp 3,3 miliar) adalah somasi, bukan tuntutan riil dalam proses mediasi yang sedang berjalan. Kami hanya ingin ada tanggung jawab yang jelas sesuai komitmen awal," imbuh perempuan yang berprofesi sebagai pengacara.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPRD Gresik, Syahrul Munir mengaku prihatin atas musibah yang menimpa dua pelajar SMPN 33 Gresik. Pihaknya berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas.
"Pada prinsipnya, pihak korban menuntut keadilan. Mereka membutuhkan fasilitas perawatan fisik dan pemulihan psikis yang memadai (pasca diduga terkena peluru nyasar dari latihan tembak TNI)," ucapnya.
Politisi PKB tersebut memahami pemulihan pascaoperasi membutuhkan waktu panjang. Karena itu, ia menekankan pentingnya jaminan pendampingan berkelanjutan hingga kondisi korban benar-benar pulih sepenuhnya.
“Meminta jaminan pengobatan hingga benar-benar selesai itu sangat wajar bagi orang tua. Kami akan memfasilitasi proses mediasi dengan pihak kesatuan karena sejauh ini pemberian tali asih belum menemui titik temu,” lanjut Syahrul.
Terakhir agar peristiwa serupa tidak terulang, ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan militer di kawasan dekat permukiman warga, terutama di Desa Bambe, Kecamatan Driyorejo. (*)

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
