
PEMUSNAHAN: Barang bukti sabu-sabu jaringan Sokobanah dimusnahkan dengan dimasukkan ke dalam insinerator. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)
JawaPos.com – Pelaku jaringan sabu-sabu (SS) Sokobanah, Sampang, terus dikejar aparat Polda Jawa Timur. Polisi menduga bahwa jaringan tersebut merentang ke mana-mana dan melibatkan banyak orang. Bahkan, ada tiga polisi yang terlibat dalam jaringan Sokobanah. Mereka terungkap sebagai pem-back up bisnis haram tersebut. Kini, tiga bintara polisi itu mendekam di tahanan.
Polisi juga menyebutkan fakta lain yang cukup mengejutkan. Rupanya di wilayah kerja Polda Jatim, ada 52 anggota kepolisian yang tersandung kasus narkoba. Nah, di antara jumlah itu, kebanyakan berasal dari Madura. Bisa Sampang dan daerah lain. Karena itu, polisi tidak mendiamkannya. Pihak-pihak yang terlibat akan didalami. Tak peduli meski mereka juga penegak hukum ’’Ada banyak pelaku lain yang terlibat dalam kasus ini. Diprediksi, lebih dari lima pelaku. Saat ini kami dalami pergerakan para target operasi. Kemungkinan pelaku lain akan tertangkap,’’ kata Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Timur Kombespol Sentosa Ginting Manik kemarin (6/8).
Mereka (target operasi), lanjut Ginting, berperan sebagai pengedar dan bandar. Namun, dia belum bisa memastikan apakah salah seorang pelaku yang akan ditangkap merupakan bandar kakap atau kelas pengedar seperti pelaku yang diringkus sebelumnya.
Pemeriksaan terhadap saksi-saksi juga terus dilakukan. Sampai saat ini, lebih dari sepuluh saksi telah diperiksa. Pihaknya ingin mengetahui bagaimana sabu-sabu tersebut bisa lolos begitu saja dari pemeriksaan petugas. Baik petugas Pelabuhan Tanjung Perak maupun petugas bea cukai. ’’Itulah yang sedang kami dalami. Apakah narkoba itu telah melewati pemeriksaan sesuai SOP. Yaitu, melewati pemeriksaan mesin X-ray atau tidak,’’ ucap dia.
Pemeriksaan terhadap petugas bea cukai segera dilakukan. Sebab, bisa saja beberapa oknum bea cukai terlibat dalam kasus tersebut. Ginting menjelaskan, transaksi narkoba di Sokobanah terjadi secara terang-terangan. Masyarakat setempat memilih tutup mata terhadap bisnis haram di lokasi tersebut. ’’Jadi, bagi penduduk setempat, bandar-bandar di sana itu bagaikan Robin Hood. Meskipun sudah tahu berbuat salah, warga memilih diam. Asalkan, mereka mendapatkan komisi,’’ terangnya.
Situasi itu pun dimanfaatkan bandar untuk mencari keuntungan. Puluhan ton narkoba, khususnya SS, didistribusikan terus-menerus ke lokasi tersebut. Tanpa merasa ada pengawasan ketat dari aparat penegak hukum.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur Brigjen Bambang Priyambadha sangat menyayangkan keterlibatan oknum kepolisian dalam bisnis narkoba di Sokobanah, Sampang, itu.
Dia mengakui, Madura merupakan salah satu lokasi favorit bandar dalam menjalankan aksinya. Banyaknya pelabuhan tikus serta pengawasan yang kurang maksimal merupakan penyebabnya. ’’Pastinya kami terus mendukung upaya yang dilakukan Polda Jatim. Langkah pencegahan terus digencarkan. Salah satunya, pembentukan kader. Langkah itu dinilai efektif untuk memutuskan jaringan narkoba. Termasuk di Madura,’’ katanya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
