
Pelatih Manchester City Pep Guardiola. (Dok. Pep Guardiola)
JawaPos.com–Manchester City musim ini menghadapi masalah serius penurunan performa di babak kedua pertandingan. Faktor utama yang kerap disebut adalah keletihan, sesuatu yang kini menjadi masalah bagi klub-klub besar di era sepak bola modern.
Faktor utama adalah banyaknya turnamen internasional. Liga Champions, Piala Dunia, Euro, Piala Afrika, hingga Copa America kini memiliki lebih banyak pertandingan. Alhasil, tim kaya seperti Manchester City justru harus menanggung beban lebih, termasuk menjalani musim panas lalu dengan Piala Dunia Antarklub versi baru Gianni Infantino, yang hanya diikutinya bersama Chelsea sebagai wakil dari Premier League.
Namun, masalah Manchester City bukan hanya soal fisik tetapi juga soal taktik juga menjadi sebuah sorotan. Semua tim yang dilatih Pep Guardiola terkenal dengan pressing intens, inti dari filosofi Total Football yang menjadi dasar permainan.
Biasanya, ketika kehilangan bola, Manchester City cepat kembali ke posisi defensif untuk menjaga keseimbangan tim. Tapi musim lalu, City mulai mencoba strategi menarik garis pertahanan lebih tinggi untuk perangkap offside. Kehadiran Pep Lijnders, mantan asisten Klopp di Liverpool, semakin mengubah gaya permainan.
Filosofi Lijnders menekankan pressing tinggi dan agresif, yang jelas menuntut fisik dan konsentrasi tinggi dari para pemain. Hasilnya terlihat dari statistik. City kerap tampil dominan di babak pertama, namun menurun drastis di babak kedua.
Bila semua pertandingan musim ini dihitung sampai babak pertama, City akan memimpin klasemen dengan 12 poin di atas pesaingnya, hanya kalah dua kali. Sebaliknya, jika dihitung mulai babak kedua, mereka hanya berada di posisi kedelapan, 13 poin di belakang puncak.
Penampilan mereka di babak kedua kalah 19 poin dibanding babak pertama, termasuk tujuh poin yang hilang akibat kebobolan di menit akhir. Kondisi ini membuat persaingan dengan Arsenal semakin ketat.
Bila City mampu menjaga konsistensi hingga akhir pertandingan, tekanan nyata akan diberikan kepada Arsenal, yang selama dua musim terakhir selalu kalah stamina dalam perebutan gelar. Sekarang, peluang juara Premier League musim ini tetap terbuka lebar bagi kedua tim, dan City justru terlihat sama rentannya dengan rivalnya.
Pelatih Guardiola tentu memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar menjaga stamina pemain. Sekaligus menyesuaikan taktik agar agresivitas pressing tinggi tidak mengorbankan performa di babak kedua.
Sementara itu, Arsenal bisa tetap optimis memanfaatkan celah ini untuk mengejar gelar. Musim ini membuktikan satu hal menguasai babak pertama saja tidak cukup. Konsistensi hingga menit terakhir jadi kunci bagi siapa pun yang ingin menjuarai Premier League.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
