
Bivitri Susanti (paling kanan) saat menggelar konferensi pers di kantor Pusat Dakwa Muhammadiyah Jakarta, Selasa (30/01)
JawaPos.com - Kenegarawanan Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat dipertanyakan sejumlah masyarakat sipil. Pasalnya, sudah dua kali terbukti melanggar etik, dia tidak juga mundur dari jabatannya.
Akademisi Hukum STHI Jentera Bivitri Susanti mengatakan, harusnya Arief malu dengan sikapnya yang ogah mundur dari jabatannya. Padahal katanya, sudah ada contoh hakim konstitusi yang mengundurkan diri, yakni Arsyad Sanusi karena terbukti melanggar kode etik.
Arsyad katanya mundur demi menjaga nama baik dan integritas delapan hakim konstitusi lain, serta menjaga wibawa Mahkamah Konstitusi. Harusnya kata Bivitri, hal yang sama juga dilakukan oleh Arief.
"Pak Arief, perhitungkanlah betul. Mundur bukan berarti kalah. Tapi jusru menjaga supaya MK marwahnya tetap baik," imbau Bivitri saat menggelar konferensi pers di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Selasa (30/1).
Dia membantah bahwa dorongan Arief untuk mundur dilatarbelakangi keinginan posisinya diganti dengan hakim tertentu. "Ini bukan soal Pak Arief, ini soal etik," tegasnya.
Bivitri mengulas, sudah dua kali MK tercoreng marwahnya karena kasus suap sengketa pilkada yang menyeret Ketua MK terdahulu, yakni Akil Mochtar dan Patrialis Akbar dalam suap penanganan perkara judicial review (JR) UU No 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan di MK.
Masyarakat sipil katanya tidak ingin marwah MK terus tercoreng dengan ditambahnya kasus Arief ini. "Kalau tercoreng, karena ini yang dipertaruhkan bukan MK, negara hukum Indonesia tapi juga demokrasi secara luas," tambahnya.
Apalagi belakangan, MK akan menghadapi situasi penting. Selain revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang terbesar adalah sengketa Pilkada 2018, serta Pileg dan Pilpres 2019 nanti.
Tentu, legitimasi masyarakat kepada hakim MK akan turun jika Arief tetap bertahan. "Kalau sebuah MK yang legitimasi turun dengan dua pelanggaran etik dengan sanksi tidak memuaskan, mau memutuskan sengketa penting, apakah kita tidak mempunyai kekhawatiran besar?," tutur Bivitri.

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
