
Tiga pelaku Sindikat Saracen (berbaju orange) saat di pamerkan di Mabes Polri
JawaPos.com - Anak muda menjadi pelaku dan target utama di dalam kelompok Saracen, sindikat penebar ujaran kebencian (hate speech) dan SARA ini. Tercatat 3 orang yang tertangkap polisi rata-rata berumum 30 tahanunan.
Lalu mengapa harus anak muda? Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan, meski pelakunya memahami hal itu dapat memecah belah bangsa, mereka tetap saja melakukan hal itu, terlebih karena bayarannya yang cukup menggiurkan, yakni Rp 75-100 juta per proyek.
"Secara psikologis enggak semua orang baik mentalnya. Yang penting cari uang cepat meski tahu ini akan memecah belah bangsa," tukasnya kepada JawaPos.com, Jumat (25/8).
Sebagaimana diketahui, Bareskrim Polri telah mengungkap kelompok penyebar ujaran kebencian dan SARA melalui media sosial. Dari pengungkapan ini polisi menangkap tiga pelaku yang masing-masing berinisial JAS (32), SRN (32), dan MFT (30).
Kata ‘Saracen’ mendadak dikenal publik setelah polisi menangkap tiga orang anggota sindikat penyebar ujaran kebencian yang mengandung konten SARA.
Tapi, apa itu Saracen? Kenapa dipakai menjadi nama sindikat penyebar ujaran kebencian? Dalam laman Wikipedia Indonesia disebutkan ‘Saracen’ berasal dari bahasa Yunani yakni ‘Saracenus’.
Wikipedia menyebut, istilah ini kali pertama dipakai pada awal masa Romawi Kuno untuk menyebutkan sebuah suku Arab di Semenanjung Sinai.
Pada masa-masa berikutnya, orang-orang Kristen Romawi memperluas penggunaan kata ini untuk menyebut orang Arab secara keseluruhan.
Setelah berkembangnya agama Islam, terutama pada masa Perang Salib, istilah ini kemudian digunakan terhadap seluruh Muslim (orang Islam).
Lalu, seiring perkembangan zaman, istilah ini kemudian disebarkan ke Eropa Barat oleh orang-orang Bizantium (Romawi Timur) dan Tentara Salib.
Selanjutnya, pada abad ke-16 di Inggris, penggunaan kata tersebut lantas dipakai untuk memaknai ‘Islam’. Hal itu sejalan dengan masuknya Islam di Britania Raya setelah Ratu Elizabeth resmi dikucilkan Paus Pius V pada 1570 karena dianggap membiarkan Muslim ke daratan tersebut.
Baru pada abad ke-17, Inggris mulai mengenal kata ‘Islam’ dan ‘Muslim’ yang sekaligus menyerapnya menjadi bahasa Inggris.
Berikut lima alasan, mengapa banyak anak-anak muda lebih nekat melakukan bisnis yang bisa membahayakan keutuhan bangsa:
1. Usia Labil
Anak muda berada pada tahap usia labil. Meskipun orang tua ada juga yang berada dalam kondisi itu, namun umumnya anak muda jauh lebih labil dan mudah disusupi. Sehingga nalarnya jauh lebih minimal.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
