Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Agustus 2017 | 02.58 WIB

Haru dan Pancaran Kegembiraan dari Ribuan CJH Tiga Kloter Kota Ini

SEMOGA MABRUR: Tukinem, salah seorang CJH asal Sidoarjo yang menggunakan bantuan kursi roda. - Image

SEMOGA MABRUR: Tukinem, salah seorang CJH asal Sidoarjo yang menggunakan bantuan kursi roda.

JawaPos.com – Tangis haru sekaligus pancaran kegembiraan kembali mewarnai keberangkatan calon jamaah haji (CJH) dari Kota Delta. Giliran tiga kelompok terbang (kloter) yang dilepas Minggu (20/8) menuju Asrama Haji Sukolilo. Di setiap kloter ada sekitar 445 jamaah. Ribuan pengantar CJH ikut menjejali area Pendapa Delta Wibawa hingga meluber ke Jalan Gubernur Suryo.


Berdasar pantauan Jawa Pos, rombongan jamaah beserta anggota keluarga mulai berdatangan ke pendapa pada pukul 12.00. Hampir semua jamaah berasal dari Sidoarjo. Bahkan, kloter 69 berisi CJH dari satu kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH). Yakni, KBIH Rohmatul Ummah.


Suasana haru menyelimuti keberangkatan para calon tamu Allah tersebut. Bahkan, tidak sedikit yang meneteskan air mata. Uswatun Ma’rifah, 46, misalnya. CJH asal Wonoayu tersebut sempat tertahan untuk masuk area keberangkatan. Sebab, dia digelantungi Ifah Moridatul Rosyidah, putri bungsunya. Bahkan, butuh waktu 10 menit untuk bisa melepaskan pelukan putrinya. Sang putri pun terlihat lunglai.


’’Bukannya nggak rela. Tapi, anak saya itu baru pulang satu tahun setelah mondok lama. Dia masih kangen sama ibunya,’’ jelas Uswatun.


Duka itu pun menular. Sang putri sulung, Elfa Rosyida Anggraini, dan Imron Rosyidi, suaminya, tampak tidak kuasa menahan duka. Pada musim haji kali ini, Uswatun memang berangkat sendiri. Sebab, sang suami sudah berangkat pada 2012. ’’Saya sama saudara dan tetangga kok. Jadi, sebenarnya tidak apa-apa,’’ tambah Uswatun.


Berkunjung ke Tanah Kelahiran
Ada tangis haru, tetapi ada juga semangat. Pancaran semangat itu tampak pada gurat wajah Hajjah Mukaromah, 42, asal Sedati. Nama Hajjah itu disandang bukan karena telah menjalani ibadah haji. Tetapi, memang namanya demikian sesuai kartu identitasnya. Dia diberi nama Hajjah lantaran lahir di Makkah. Saat itu jamaah hamil tua memang masih diizinkan untuk menjalankan ibadah haji. Nah, pada 1975, Mukaromah dilahirkan.


’’Dapat cerita dari ibu sejak kecil. Jadi, saya memang sudah lama pengin berkunjung ke tanah kelahiran sekaligus ibadah,’’ ujar perempuan yang sejak muda disebut kaji cilik tersebut.


Sementara itu, CJH tertua asal Sidoarjo tercatat berasal dari kloter 69. Yang perempuan bernama Sholihati binti Mohamad Said, 79, sedangkan yang laki-laki Ikhwan bin Bakrie, 84. Meski masuk CJH tertua, pasangan suami istri tersebut tampak masih sehat. Tidak memakai kursi roda. ’’Bapak itu kerja tani, masih kuat sampai sekarang. Kalau ke rumah, malah pakai sepeda onthel cepat sekali,’’ ujar Masruroh, anak kelima pasutri tersebut.


Kepala Kantor Kemenag Sidoarjo Achmad Rofi’i mengatakan, berdasar data yang didapat, jumlah jamaah berkursi roda hanya tujuh orang. ’’Totalnya, dari kloter 69–74, hanya ada 37 jamaah yang memakai kursi roda,’’ ujar Rofi’i yang juga menjadi petugas kloter 69.


Dalam kesempatan itu, Bupati Saiful Ilah kembali memberikan imbauan dan semangat kepada para jamaah. ’’Di sana kan untuk ibadah. Makan dan minum jangan macam-macam. Kalau perlu, minumnya air zamzam saja terus,’’ ucapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore