
Ilustrasi
JawaPos.com - Momentum hari kemerdekaan, ternyata belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan penduduknya. Sebagai contoh, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, warga Banua belum merdeka dari garis kemiskinan.
Berdasarkan data tersebut, jumlah penduduk miskin di Kalsel dalam beberapa bulan terakhir malah mengalami peningkatan. Pada September 2016, angka penduduk miskin sebesar 184 ribu orang. Sedangkan perhitungan terakhir di bulan Maret 2017, jumlahnya bertambah 10 ribu menjadi 194 ribu orang.
Kepala BPS Kalsel Diah Utami melalui Kabid Statistik Sosial Agnes Widiastuti mengatakan, peningkatan jumlah penduduk miskin terbanyak berada di daerah pedesaan. Dari data tersebut, sebelumnya tercatat 123.261 orang, meningkat menjadi 131.323 pada bulan Maret.
"Sedangkan untuk diperkotaan, peningkatannya relatif kecil. Yaitu, dari 60.898 menjadi 62.596," terangnya kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group).
Menurutnya, salah satu penyebab meningkatnya jumlah warga miskin di pedesaan lantaran menurunnya harga jual gabah dalam beberapa bulan terakhir. Selain murahnya harga gabah, faktor lain yang menyebabkan masyarakat di desa masuk dalam garis kemiskinan ialah gagal panen.
"Bertani masih menjadi pekerjaan utama di desa, kalau harga gabah menurun tentu akan mempengaruhi penghasilan mereka," jelasnya.
Sementara, faktor yang mempengaruhi meningkatnya masyarakat miskin di daerah perkotaan, dipicu karena sempat tersendatnya pendistribusian Raskin yang dilakukan oleh Bulog. "Mungkin sekarang Raskin sudah didistribusikan," katanya.
Terpisah, ketika diminta tanggapanya perihal meningkatnya angka kemiskinan di Kalsel, pengamat sosial dan kebijakan publik Nurul Azkar menguatakan, penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan selama ini ialah minimnya penghasilan.
"Kalau di desa, biasanya penghasilan mereka dari pertanian dan perkebunan," ungkapnya.
Dia menuturkan, biasanya kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam berkebun dan bertani adalah menurunnya harga jual. Serta, gagal panen. "Ini harus ada peran dari pemerintah, bagaimana agar harga jual petani tak menurun," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang petani di Desa Lok Buntar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, M Yusri membenarkan jika harga jual gabah tahun ini menurun dibandingkan dengan tahun lalu. "Sekarang satu blek harganya hanya Rp50 ribu, padahal tahun lalu Rp70 ribu," ucapnya.
Dia menduga, menurunnya harga karena disebabkan oleh maraknya beras yang masuk dari luar daerah. "Sekarang, pembeli juga berkurang. Mungkin, karena ada beras dari luar yang masuk," pungkasnya.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
