Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Agustus 2017 | 19.00 WIB

Melewati Jalan Raya yang Lebih Tinggi dari Puncak Jaya

MONUMENTAL: Jurnalis Jawa Pos di depan monumen ketinggian Khardung La (kiri) dan Taglang La yang ditandai ratusan bendera doa Buddha. - Image

MONUMENTAL: Jurnalis Jawa Pos di depan monumen ketinggian Khardung La (kiri) dan Taglang La yang ditandai ratusan bendera doa Buddha.

Bermotor di Pegunungan Himalaya tak hanya harus berhadapan dengan cuaca sangat dingin. Tapi juga tipisnya oksigen. Berikut catatan pengalaman wartawan Jawa Pos SURYO EKO PRASETYO yang merasakan langsung ekstremnya Moto Himalaya Royal Enfield 2017 di India.


TEMPERATUR sebenarnya ”hanya” 17 derajat Celsius. Hari juga belum siang betul. Masih pukul 10.20 waktu setempat.
Tapi, begitu turun dari pesawat GoAir G8 715 pada 7 Agustus lalu, bernapas terasa berat sekali. Maklum, Bandara Leh Kushok Bakula Rimpochee di Leh merupakan bandara tertinggi di India. Berada di ketinggian 10.682 kaki atau setara 3.256 meter di atas permukaan laut.


Bandara itu juga termasuk salah satu bandara tertinggi di dunia. Sama halnya dengan Leh dengan ketinggian rata-rata 3.506 meter. Kota di lembah Pegunungan Himalaya tersebut masuk daftar kota-kota tertinggi dunia.
Saya melihat sejumlah tetenger atas pengakuan itu. Seperti yang tampak di bukit sebelah barat bandara. Tulisan Touch The Sky With Glory rasanya bukan hanya moto Angkatan Udara India. Spirit tersebut terasa membaur dengan aspek kehidupan masyarakat Lembah Leh.


Situs Lonelyplanet menyebut Leh is the light of the Himalaya. Seakan-akan bumi dan langit bertemu. Begitu pula menurut Lady Henrietta Merrick dalam bukunya yang bertajuk Leh: In the World’s Attic atau Negeri di Atap Langit Dunia.
Di Negeri Atap Langit Dunia itulah saya bersama 19 jurnalis dari empat benua selama sepekan berkesempatan merasakan tantangan bermotor di Pegunungan Himalaya, India Utara. Atas undangan dari Royal Enfield.


Pegunungan Himalaya membentang dari barat ke timur di sedikitnya lima negara. Mulai Pakistan, Tiongkok, India, Nepal, sampai Bhutan. Itu membuat pemerintah India ketat mengawasi lalu lintas pergerakan orang di perbatasan utara mereka. Di setiap distrik selalu terdapat pos cek.


Rombongan media trip Moto Himalaya Royal Enfield 2017 tidak luput dari pemeriksaan di setiap pos cek. Kelengkapan dokumen seperti paspor dan visa merupakan persyaratan untuk kelancaran perjalanan.


Tantangan pertama yang saya hadapi tentu adaptasi ketinggian. Dalam keadaan pasif pun, saya hampir selalu ngos-ngosan. Kadar oksigen tipis membuat napas terengah-engah. Dalam kondisi aktif malah tersengal-sengal. Sebagai perbandingan, ketinggian Leh selisih 170 meter dengan puncak Mahameru, gunung tertinggi di Jawa yang mencapai 3.676 meter. Karena itu, saya berusaha ngirit tenaga.


Media trip selama seminggu dijadwalkan touring dari satu daerah ke daerah lain. Estimasi awal jarak mencapai 949 kilometer. Sebelum bertolak ke India, saya memenuhi serangkaian pemeriksaan laboratorium kesehatan dan mengantongi keterangan syarat sehat berdasar diagnosis dokter.


Perbedaan ketinggian yang drastis membutuhkan waktu bertahap untuk menyesuaikan diri. Celakanya, posisi daerah tujuan lebih tinggi daripada daerah Leh sebagai titik start. Seperti pada touring hari kedua, Selasa (8/8), sejauh 150 kilometer. Dari Leh, bermalam di Lembah Nubra, melewati jalan raya setinggi 5.602 meter di Kardhung La.


Jalan itu merupakan jalan raya tertinggi di dunia. Ketinggiannya bahkan melebihi gunung tertinggi Indonesia: Puncak Jaya di Papua yang ”cuma” 4.884 meter. Puncak Kardhung La ”hanya” lebih pendek 40 meter dari puncak Elbrus 5.642 meter di Rusia dan selisih 290 meter dari puncak Kilimanjaro setinggi 5.892 meter di Tanzania, Afrika.


”Demi keselamatan, rencana ke Nubra kita batalkan,” terang Ardarsh Saxena, rides and community excellence Royal Enfield, dalam brifing hari kedua itu. Akibat hujan di sepanjang North Pullu, puluhan kilometer setelah Khardung La, jalan sulit dilewati kendaraan. Apalagi, kondisi jalan dari South Pullu menuju Khardung La mayoritas rusak berat.


Dokter Wong Chuk yang mengecek kesehatan para peserta media trip turut khawatir. Dinginnya Lembah Nubra ketika bermalam berpotensi mengakibatkan high altitude sickness. Potensi dingin yang sama di beberapa lokasi tujuan saat menginap. ”Kita meminimalkan risiko,” ujarnya meyakinkan.


Touring hari ketiga menuju Danau Pangong di ketinggian 4.238 meter. Rutenya melewati Chang La di ketinggian 5.360 meter. Pada hari kelima dan keenam menyinggahi dua danau tinggi lainnya. Masing-masing Danau Moriri (4.522 meter) dan Danau Kar (4.541 meter). Rute pergi pulang ke dua danau tersebut melintasi jalan raya tertinggi berikutnya di Taglang La (5.328 meter).


Tantangan kedua adalah jenis sepeda motor yang dipinjamkan. Setiap peserta menunggangi Royal Enfield tipe Bullet 500. Jenis motor klasik mesin 499 cc dengan bobot kosong 187 kilogram. Keseharian saya menggunakan Kawasaki KSR 125 cc dengan berat 95 kilogram. Dapat dibandingkan cc motor yang saya pakai hampir empat kali dengan bobot motor hampir dua kali lipat.


Untungnya, hari pertama rombongan diberi kesempatan beradaptasi. Rencana tur kota sejauh 60 kilometer kami gunakan menjadi 90 kilometer sebagai masa aklimatisasi. Rutenya menuju titik pertemuan Sungai Indus-Zanskar dan Istana Leh. Di persimpangan dua sungai itu terdapat layanan arung jeram tertinggi di Ladakh. ”Arus sungai di sini termasuk grade tiga,” terang tour leader Royal Enfield Leh dan Ladakh Arjay Pramanik.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore