Minggu, 20 Aug 2017
Humaniora

Dianggap Mampu Merawat Kebangsaan, 7 Tokoh Ini Dapat Ganjaran

Minggu, 13 Aug 2017 20:30 | editor : Ilham Safutra

Ilustrasi

Ilustrasi (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

JawaPos.com - Bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi tiga masalah fundamental. Masalah itu yakni fundamentalisme agama, fundamentalisme pasar dan tantangan global yang penuh ketidakpastian. Ketiga masalah itu merupakan hasil identifikasi dari Rumah Gerakan 98. Hal itu menyongsong HUT RI ke 72.

Sekjen Rumah Gerakan 98 Sayid Junaidi menyebut, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk mengajak semua elemen bangsa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut.

"Kita harus berpegang teguh pada pancasila, UUD 1945, bhinneka tunggal ika dengan cara mengkampanyekan semangat 'merawat kebangsaan'," kata Sayid dalam keterangan persnya yang diterima JawaPos.com, Minggu (13/8).

Sebelumnya Rumah Gerakan 98 memberikan penghargaan kepada tujuh tokoh bangsa. Penghargaan itu berlangsung di Gedung Komisi Yudisial (KY), Jakarta Pusat, Sabtu (12/8).

Penghargaan dari Rumah Gerakan 98 kepada sejumlah tokoh itu karena mereka dianggap yang telah melakukan tindakan berani demi tegaknya NKRI dan mampu menjawab tiga tantangan kebangsaan.

Adapun ketujuh tokoh tersebut adalah Ketua MUI Ma'ruf Amin yang dianggap mampu merangkul semua golongan dan menciptakan kerukunan umat beragama. Selain itu, Kapolri Tito Karnavian. Dia dianggap mampu menjaga keamanan tanpa pandang bulu.

Ketua KPK Agus Raharjo, karena mampu membongkar kasus korupsi tanpa memandang jabatan petinggi negara. Kiprah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjianti tidak kalah penting. Dia memiliki peran besar melawan pencuri hasil alam Indoensia.

Selain itu ada Menteri ESDM Ignasius Jonan, sosok yang dianggap mampu mengubah mental birokrasi menjadi tenaga yang profesional dan transparan.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi juga diganjar penghargan itu karena dianggap mampu mereformasi PSSI dan keberaniannya mengungkap pejabat yang terndikasi ormas radikal.

Dua tokoh terakhir adalah Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi.

Keduanya dianggap mampu mereformasi sistem pendidikan untuk kembali memaknai pancasila dalam kehidupan sehari-harinya.

"Hubbul Wathin atau cinta tanah air sebagian dari iman. Karena itu negara kita akan menjadi negara besar dan terhormat di mata dunia," tandas Sayid.

(iil/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia