Kamis, 17 Aug 2017
Health Issues

Saatnya Merdeka dari Kanker Seviks! Yuk Kenali dan Deteksi Segera

Minggu, 13 Aug 2017 15:13 | editor : Imam Solehudin

Dokter Spesialis Obgyn Siloam Hospitals, Lippo Karawaci, Dyana Safitri Velies

Dokter Spesialis Obgyn Siloam Hospitals, Lippo Karawaci, Dyana Safitri Velies (Ist for JawaPos.com)

JawaPos.com - Bahaya kanker serviks menakutkan bagi perempuan. Apalagi menyusul kasus yang dialami almarhumah Julia Perez atau Jupe
beberapa waktu lalu.

Dokter Spesialis Obgyn Siloam Hospitals, Lippo Karawaci, Dyana Safitri Velies memastikan, tak lebih dari 10 pasien baru datang untuk
berkonsultasi terkait kesehatan mulut rahim setiap bulannya.

Sementara sisanya datang setelah terinfeksi pada stadium 3 ke atas. 

"Karena tidak melakukan deteksi dini, lumayan banyak pasien datang dalam keadaan stadium lanjut," kata Dyana dalam keterangan
tertulis, Minggu (13/8) ketika menjadi pembicara seminar bertajuk "Merdeka dari Kanker Serviks" menyambut hari kemerdekaan RI ke-72 tahun perempuan diingatkan pentingnya deteksi dini kanker serviks.

Dyana menjelaskan pengetahuan dan edukasi tentang bahaya kanker serviks harus lebih gencar dilakukan khususnya bagi perempuan usia
lanjut.

Sebab kebanyakan perempuan yang datang ke dokter sudah menderita kanker serviks masuk stadium lanjut. Pemeriksaan papsmear
perlu dilakukan sejak awal. Human papilloma virus (HPV) merupakan virus pencetus kanker serviks .

“Sekitar 70 sampai 75 persen, mereka yang aktif secara seksual berpotensi tinggi meningkatkan kankers serviks,” jelasnya.

Ada banyak cara untuk melakukan deteksi dini. Di antaranya Papsmear dan IVA. Ada pula metode terbaru dengan HPV DNA.

"Deteksi dini ini juga bisa dilakukan mulai dari puskesmas, jadi masih sangat terjangkau untuk tetap sehat," katanya.

Pemeriksaan papsmear dilakukan secara berkala atau rutin. Ada dua waktu yang baik untuk melakukan tes pap smear. Yakni dua kali, saat
perempuan berusia di bawah 14 tahun dengan rentang waktu 6 dan 12 bulan.

Dan tiga kali papsmear bagi mereka diatas usai 14 tahun dengan rentang waktu 0-2-6, yakni saat pertama kali, dua bulan kemudian dan 6 bulan kemudian.

“Di RSU Siloam, dalam satu bulan tidak sampai 10 wanita yang ingin melakukan deteksi dini dengan melakukan pap smear,“ ujar Dyana.

Infeksi pada kanker rahim membutuhkan rentang waktu antara 20-30 tahun. Karena itu jangan sampai berhubungan seksual saat remaja,
setia pada satu pasangan, gunakan pelindung dan terapkan pola hidup sehat.

Kemudian pengobatan tersier dilakukan bagi yang sudah terkena kanker seperti operasi, radiasi, kemoterapi dan kemo-radiasi. “Lebih
baik mencegah dari pada mengobati ,” tutup Dyana.

(ika/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia