Kamis, 24 Aug 2017
JPG Today

Habis Bacok, Perampok Sadis Ambil Uang di ATM, Nih Fotonya

| editor : 

Pria yang diduga pelaku utama perampokan terhadap pasutri asal Desa Sarajaya, Kecamatan Lemahabang, terekam CCTV melakukan transaksi di ATM.

Pria yang diduga pelaku utama perampokan terhadap pasutri asal Desa Sarajaya, Kecamatan Lemahabang, terekam CCTV melakukan transaksi di ATM. (Istimewa)

JawaPos.com – Perampokan sadis yang menimpa pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Sarajaya, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, menemui titik terang. Satreskrim Polres Cirebon menemukan bukti petunjuk yang dianggap paling valid yang mengarah ke pelaku utama. Sebelumnya polisi telang menangkap dua pelaku.

Polisi mendapati rekaman CCTV di salah satu ATM di Kecamatan Lemahabang. Pelaku utama melakukan penarikan uang tunai. Dia diduga menarik uang korban. Karena saat kejadian, para pelaku membawa kabur ATM setelah sempat memaksa korban menyebutkan nomor pin ATM.

Kasat Reskrim Polres Cirebon AKP Reza Arifian membenarkan pihaknya berhasil mendapatkan rekaman CCTV itu. “Rekaman wajah pelaku saat itu sedang menarik uang tunai di sebuah mesin ATM,” kata Reza kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group).

Pria yang diduga pelaku utama perampokan terhadap pasutri asal Desa Sarajaya, Kecamatan Lemahabang, terekam CCTV melakukan transaksi di ATM.

Pria yang diduga pelaku utama perampokan terhadap pasutri asal Desa Sarajaya, Kecamatan Lemahabang, terekam CCTV melakukan transaksi di ATM. (Istimewa)

Pihaknya juga berhasil menemukan kaus dengan warna dan gambar yang sama yang dikenakan pelaku saat berada di dalam ruangan ATM. Selain menemukan kaus dengan gambar yang sama, pihaknya juga menemukan dua buah senjata tajam (sajam) yang diduga dijadikan alat untuk melakukan aksi perampokan. “Kini tinggal pelakunya yang sedang kami buru. Semoga segera kami amankan,” tegas Reza.

Peristiwa yang menimpa pasutri Dadang Kurniawan (28) dan Wiwit Witri (23) itu terjadi Selasa 25 Juli lalu. Para pelaku awalnya menyergap Dadang dan dihadiahi tiga bacokan. Dua luka di bagian tangan dan satu luka di bagian kepala.

Korban tak berani melawan. Keselamatan keluarganya adalah prioritas utama. Terlebih, di sampingnya anak semata wayang yang baru berusia lima tahun tiba-tiba terbangun. “Saya pasrah. Anak saya juga saya tenangin. Yang penting keluarga selamat,” ujar Dadang.

Menurut Dadang, kedua pelaku masuk ke rumahnya setelah menjebol genteng yang berada tepat di atas sebuah kamar kosong di dalam rumahnya. Kemudian turun menggunakan seutas tali tambang. “Ada 12 genteng yang dijebol. Mereka turun pakai tali tambang. Ada bekas kakinya menempel di tembok. Yang bawa senjata satu orang, ciri-cirinya masih saya ingat betul,” imbuhnya.

Saat bertemu Dadang, kedua pelaku mengatakan ingin meminta ganti rugi karena Dadang telah menganiaya kerabat pelaku. Padahal menurut Dadang, ia tak merasa punya musuh dan memang jarang keluar rumah. “Saya wiraswasta. Kalau di Jakarta jualan buah, sekarang sudah dua bulan ada di rumah. Saya pelihara burung,” tuturnya.

Saat kedua pelaku tengah mengintimidasi Dadang, sang istri Wiwit Witri tiba-tiba keluar dari dalam kamar dan kaget melihat sang suami sudah berlumuran darah. Bingung, Wiwit yang saat itu sempat histeris, akhirnya langsung dibacok dua kali oleh pelaku pada bagian kepala.

“Saya terima 26 jahitan. Kalau istri ada sekitar 15 jahitan. Setelah itu, mereka minta uang, namun saya memang tidak pegang uang. Ada juga ATM, akhirnya mereka minta ATM beserta Pin-nya juga,” katanya.

Pelaku menggondol sepeda motor Scoopy tahun 2016, uang tunai Rp100 ribu, KTP, buku tabungan dan ATM yang di dalamnya berisi uang Rp21 juta. “Saya kemudian blokir pada pagi harinya dan pelaku sudah mengambil uang sekitar Rp5,8 juta dari ATM. Diambilnya sekitar satu jam setelah kejadian,” ungkapnya.

Setelah berhasil mengambil barang berharga, kedua pelaku pun keluar lewat pintu depan, dengan sebelumnya meminta kunci rumah korban. Di depan rumah sudah menunggu satu pelaku lainnya.

(yuz/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia