Kamis, 17 Aug 2017
Pendidikan

Tiga SMPN di Surabaya jadi Pilot Project Kartu Pelajar Baru

Jumat, 11 Aug 2017 16:27 | editor : Miftakhul F.S

BERAGAM MANFAAT: Efta Dartikasari P menunjukkan contoh Kartu Pelajar Surabaya di Balai Kota Surabaya.

BERAGAM MANFAAT: Efta Dartikasari P menunjukkan contoh Kartu Pelajar Surabaya di Balai Kota Surabaya. (Septinda Ayu/Jawa Pos)

JawaPos.com- Pemkot Surabaya segera membagikan kartu pelajar baru kepada para murid di Surabaya. Kartu tersebut tidak sekadar memuat identitas siswa. Banyak manfaat yang bisa didapatkan para pelajar.

Wali Kota Tri Rismaharini bersama Kepala Kanwil BNI 46 Surabaya Slamet Djumantoro meneken nota kesepahaman. Dua belah pihak sepakat untuk mewujudkan kerja sama pembuatan kartu pelajar tersebut. Nanti siswa mengenal kartu baru itu sebagai kartu pelajar Surabaya (KPS).

KPS didistribusikan tepat pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Pada tahap pertama, total ada sekitar 3 ribu KPS yang diluncurkan di tiga sekolah, yakni SMPN 1, SMPN 4, dan SMPN 6. Selanjutnya, pembagian diteruskan kepada semua siswa SD/MI hingga SMP/MTs negeri dan swasta di Surabaya. Jumlahnya 400 ribu siswa. Adapun, fisik kartu kini masih dicetak.

Slamet mengatakan bahwa pihaknya sudah membicarakan tentang kartu itu dengan Dinas Pendidikan Jatim. Rencana awal, kartu tersebut diberikan kepada pelajar di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata hanya Surabaya yang siap menerapkan program tersebut.

Saat peluncuran kartu pada 17 Agustus, lanjut dia, BNI juga akan menyosialisasikan kemudahan digital banking kepada sekolah. Baik terkait penggunaan kartu maupun penyiapan sistem digital untuk tiga sekolah pilot project tersebut.

Slamet menambahkan, kartu pelajar itu memiliki banyak fungsi. Di antaranya, bisa dipakai sebagai alat pembayaran hingga digunakan untuk melihat nilai siswa selama belajar di sekolah. ’’Seperti di Jakarta, kartu bisa digunakan untuk membayar kereta dan transjakarta,” katanya.

Menurut dia, saat ini dunia sudah berada di dalam genggaman. Bahkan, pemerintah pusat juga sedang menyosialisasikan gerakan nasional nontunai. Karena itu, melalui KPS, para siswa Surabaya nanti terbiasa dengan digital banking. ’’Mahasiswa mungkin sudah terbiasa dengan digital banking. Tetapi, belum banyak anak yang menggunakan nontunai,” ujarnya.

Selain itu, KPS bertujuan membiasakan anak-anak untuk menabung sejak dini. KPS juga bisa digunakan sebagai kartu ATM. Siswa bisa menarik uang bila ingin membayar sesuatu. ’’Masuk kolam renang milik pemkot pun bisa dengan KPS,” katanya.

Jadi, semua fasilitas umum milik pemkot bisa dinikmati oleh pelajar Surabaya. Bahkan, sangat mungkin KPS juga bisa digunakan untuk menerima bantuan maupun subsidi buku dari pemerintah kepada pelajar. ’’Kartu Indonesia pintar (KIP) punya kartu sendiri. Tetapi, ke depan menjadi single card,” ujarnya.

KPS sebagai pembayaran nontunai memiliki batasan transaksi. Jika transaksi yang dilakukan orang dewasa tidak terbatas, tidak demikian halnya dengan pelajar. Untuk siswa, transaksi dibatasi maksimal Rp 1 juta dalam sebulan. ’’Semua ATM ada limitnya. KPS juga ada,” jelasnya.

Slamet menuturkan, saat ini KPS hanya digunakan SD/SMP sederajat di Surabaya. Pelajar SMA belum bisa menikmati kartu tersebut. Sebab, pengelolaan SMA/SMK saat ini sudah diambil alih provinsi.

Kepala Dispendik Ikhsan mengatakan, fungsi utama KPS sebenarnya adalah mengetahui identitas pelajar. Sebab, di dalamnya terdapat nomor induk kependudukan (NIK). Dengan begitu, jika terjadi sesuatu pada pelajar, sekolah bisa mengakses data siswa lebih detail. ’’Nah, kini fungsinya kami tambah,” ujarnya.

Ikhsan menuturkan, setiap fasilitas sekolah nanti juga mengarah pada digital atau komputerisasi. Mulai presensi, perpustakaan, hingga kantin. Bahkan, ke depan siswa bisa mendapatkan diskon saat membeli buku. ’’Program ini disiapkan semuanya oleh BNI. Kami menyiapkan SDM saja,” ujarnya.

(ayu/c7/git)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia