Minggu, 20 Aug 2017
Features

Obrolan Hangat bersama Novelis Okky Madasari

”Tekanan” untuk Produktif Datang dari Dalam Diri

Jumat, 11 Aug 2017 14:48 | editor : Mochamad Nur

Okky Madasari

Okky Madasari (Nora Sampurna/JPK)

JawaPos.com-  Keteguhan Okky Madasari di dunia sastra dan memperkuat literasi Indonesia tak diragukan lagi. Penulis yang sudah menghasilkan lima novel dan satu kumpulan cerita itu merupakan program director ASEAN Literary Festival (ALF).

Di hari terakhir ALF 2017, Minggu (6/8) Okky berbincang akrab dengan pembaca setianya dalam suasana makan siang yang hangat. Bertempat di Batavia Market, Kota Tua, Jakarta, novelis asal Magetan, Jawa Timur itu berkisah tentang ALF yang terus tumbuh, buku terbarunya, serta keberangkatan ke Iowa Writing Program 19 Agustus mendatang.

ASEAN Literary Festival tahun ke-4 baru saja selesai. Harapan ke depannya?
ASEAN Literary terus mendapat ruang di hati publik dan semakin dimiliki. Hal yang membahagiakan, semakin banyak pihak yang terlibat, banyak orang yang ikut diskusi, masyarakat yang jadi relawan dan partisipan. Audiens dari luar Indonesia pun datang atas keinginan sendiri. Artinya, festival ini telah menjadi milik masyarakat Asia Tenggara. Setiap tahunnya, kami berusaha melakukan terobosan baru. Karena festival sastra itu basisnya dua hal, diskusi kritis dan kreativitas. Ciri khas diskusi kritis tetap dipertahankan. Namun, juga menghadirkan inovasi.

Pandangan Okky tentang penulis muda Indonesia?
Saya mengikuti para penulis muda, penyair muda, karya-karya mereka. Perkembangannya luar biasa, artinya semakin banyak penulis muda dan karya-karya baru yang bermunculan. Sosial media memungkinkan orang untuk menghasilkan karya tanpa menunggu dipublikasikan. Namun, tantangannya adalah bagaimana agar tidak terjebak pada kondisi, ah yang penting ada, yang penting terbit. Peran kita memang harus saling memberi ruang, melalui diskusi, saling bertukar pikiran, agar yang muda-muda ini juga tumbuh pemikiran kritisnya, bisa melihat masalah sosial.

Okky baru saja menerbitkan karya terbaru, yaitu kumpulan cerita Yang Bertahan dan Binasa Perlahan. Berkisah tentang apa?
Ini merupakan buku kumpulan cerita perdana saya. Saya tulis sepanjang satu dekade dari 2007-2017. Ada 19 cerita yang memotret persoalan-persoalan sosial di sekeliling kita. Berkisah tentang pertarungan dan daya tahan manusia. Ada yang melawan dan bertahan, ada yang lari, ada yang tak punya pilihan hingga binasa perlahan. Beberapa cerita lahir sebelum saya mulai menulis novel pertama Entrok yang terbit pada 2010.

Sebagai penulis, adakah ”tekanan” untuk terus produktif?
Sebenarnya tekanan itu munculnya dari dalam diri. Ada kegelisahan untuk terus menulis. Sejak 2010, setiap tahun saya menerbitkan novel. Entrok (2010), 86 (2011), Maryam (2012), dan Pasung Jiwa (2013). Lalu, sempat break 3 tahun, itu gelisah banget. Novel Kerumunan Terakhir yang akhirnya terbit pada 2016 adalah kelegaan luar biasa buat saya. Karena bisa memenuhi tuntutan diri bahwa segala aktivitas dan peran sebagai ibu tidak menghalangi saya untuk tetap berkarya. Jadi, bukan karena desakan pihak luar, seperti penerbit atau siapapun. Dalam menulis fiksi, saya sangat membebaskan diri.

Momen apa yang ”membebaskan” Okky?
Momen ketika menikah, itu momen yang membebaskan saya. Jadi, pernikahan tidak memasung saya, justru memberi sayap. Saya menikah Desember 2008, mulai menulis 2009. Suami memberi ruang seluas-luasnya. Dia adalah sosok yang mewarnai intelektualitas saya, pembaca pertama tulisan-tulisan saya, dan orang pertama yang yakin bahwa tulisan saya layak diterbitkan.

Dalam waktu dekat bakal berangkat ke Iowa, AS?
Ya, 19 Agustus nanti hingga 3 November saya akan mengikuti Iowa Writing Program. Program bergengsi ini sudah berlangsung lebih dari 50 tahun, setiap tahunnya menyeleksi dan mengundang penulis dari seluruh dunia (novelis Turki peraih Nobel Kesusasteraan 2006 Orhan Pamuk serta penulis Tiongkok Nobel Kesusasteraan 2012 Mo Yan pernah mengikuti program tersebut). Penulis-penulis kenamaan Indonesia juga banyak yang pernah ikut. Tahun ini saya berkesempatan diundang. Rencananya saya akan menulis dua project di sana. Salah satunya, novel yang bisa dibaca oleh segala usia, termasuk anak kecil.

Ada pertimbangan khusus Okky menulis novel itu?
Saya sedang menantang diri sendiri. Melihat Mata Diraya yang sekarang hampir 3 tahun, usia 5 atau 7 tahun nanti dia sudah bisa baca. Saya berpikir bagaimana supaya ketika dia SD, dia baca karya ibunya. Novel-novel saya sebelumnya terbilang dewasa dari isu yang diangkat. Masa harus menunggu dia SMP untuk baca karya ibunya yang seperti Entrok atau Pasung Jiwa? Jadi, ini oleh-oleh dari perjalanan ke Atambua, NTT ketika dikirim Badan Bahasa selama 10 hari. Saya bawa Mata Diraya juga saat itu. Saya diminta untuk menulis cerita tentang daerah perbatasan. Di luar itu, saya akan menuliskan novel dengan karakter utama anak umur 12 tahun. Ini tantangan besar buat saya, membuat novel yang bernilai tapi bisa dibaca siapa saja, anak usia 7 atau 8 tahun pun related dengan ceritanya. 

Okky Madasari

Okky Madasari (Nora Sampurna/JPK)

(nor/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia