Minggu, 20 Aug 2017
Features

Varick Simenon, Juara Lomba Merangkai Bunga Skala Internasional

Jumat, 11 Aug 2017 13:40 | editor : Miftakhul F.S

JUARA: Varick Simenon dengan seorang model yang memperagakan salah satu karyanya.

JUARA: Varick Simenon dengan seorang model yang memperagakan salah satu karyanya. (Dok. Varick Simenon)

Tak bisa sekadar mengandalkan keberuntungan. Mengikuti kompetisi membutuhkan usaha dan persiapan matang. Itulah Varick Simenon, pemenang kompetisi FDSS International Young Designer Award yang diadakan di Singapura, Juni.

ASA WISESA BETARI, Surabaya

SUDAH nyemplung harus ngaya. Berani daftar lomba, ya harus jadi pemenang. ’’Kalimat itulah yang tertanam di benak Varick Simenon. Varick adalah florist, perangkai bunga, dari Kota Pahlawan yang berlaga di panggung internasional.

Varick –sapaannya– merupakan satu di antara 11 semifinalis FDSS International Young Designer Award di Singapura. Penyelenggara kegiatan tersebut adalah Floral Designers Society Singapore (FDSS).

Para peserta disaring dari ratusan florist yang mendaftar dari berbagai negara. Sebagian besar datang dari negara ASEAN. Beberapa yang lain berasal dari Tiongkok dan Eropa. Terdapat empat peserta dari Indonesia yang lolos ke semifinal. Selain Varick, ada peserta dari Semarang, Jakarta, dan Bandung.

Acara itu adalah bagian dari FDSS Dream Ball 2017 yang diselenggarakan dua tahun sekali. Kali ini, acara dihelat pada 18 Juni di Shangri-La Hotel, Singapura. Kompetisi tersebut merupakan salah satu yang bergengsi bagi para florist se-Asia.

Ajang itu dianggap sebagai batu pijakan para perangkai bunga muda sebelum memasuki tahap profesional lain. Kompetisi terbuka untuk calon peserta berusia 17 hingga 30 tahun yang memiliki keahlian di bidang floral fashion haute couture.

Untuk bisa mendaftar, peserta harus memiliki portofolio yang berisi setidaknya dua gambar rancangan bunga terbaik yang pernah dibuat.

Selain itu, peserta harus memberikan sketsa berwarna tentang rancangan bunga yang akan dipresentasikan. Tahun ini FDSS International Young Designer Award mengangkat tema Circus. Peserta ditantang untuk bisa membuat rancangan gaun yang terbuat dari rangkaian bunga segar.

Gaun dari bunga itu harus pas saat dikenakan seorang model. Tantangan selanjutnya, model tidak hanya berpose. Mereka juga harus bisa melenggang di catwalk dengan santai. Juga, bisa menari (dance catwalk).

Mengetahui tantangan tersebut, Varick tak putus ide. Kreativitas memang selalu datang dari kumpulan konflik ide. Keputusan untuk menampilkan kebudayaan negeri di panggung internasional menjadi pilihannya. ’’Selalu ada hal yang menarik untuk dibanggakan dan diceritakan tentang Indonesia,’’ ucapnya.

Selama sebulan, Varick berburu referensi untuk membuat rancangan busana dari bunga segar. Sebutan baju itu adalah flower to wear alias kembang yang jadi pakaian. Tujuannya, membuat baju se-cetar mungkin. Bentuk dan warnanya pun harus cetar. Akhirnya, muncul ide untuk membuat karya yang terinspirasi dari penari api.

Rancangannya lantas dinamakan Queen of Fire. Si Ratu Api. Judul tentu merujuk pada karakter api yang harus dominan pada busana. Untuk itu, Varick mencari referensi bunga yang memiliki atau mendekati warna merah, oranye, dan kuning. Selain warna, Varick mencari bentuk bunga yang mirip dengan lidah api.

Setelah berkonsultasi dengan beberapa guru dan senior dari Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI), dia menentukan 10 jenis bunga yang digunakan. Di antaranya, kembang sungsang yang bernama latin Gloriosa superba. Sebutan lainnya adalah fire lily. Varick juga memakai anggrek golden shower, mokara, daun dolar (Ficus pumila), calandiva (kalanchoe), marigold, dan beberapa jenis cemara.

Bagi pria 25 tahun tersebut, menentukan jenis bunga adalah tantangan terbesar. Terlebih, dia sama sekali tidak diperbolehkan menambahkan bunga palsu pada rancangan. Varick juga harus mencari bunga-bunga yang pasti ada di Singapura. Sebab, tidak mungkin membawa semua bahan dari Indonesia. ’’Takut layu dan kenapa-kenapa,’’ ujarnya.

Setelah lulus sebagai sarjana dari program studi desain interior Universitas Ciputra pada 2012, Varick mendirikan usaha jasa dekorasi pernikahan. Dari situ, dia dituntut untuk bisa bermain dengan bunga-bunga.

Beruntung, Varick mengenal, kemudian bergabung dengan IPBI di Surabaya. Dari komunitas itu, dia mengantongi ilmu merangkai bunga yang diperoleh sejak bergabung dua tahun lalu.

Setelah bergumul selama kurang lebih sebulan sejak mengetahui pengumuman lomba, pada Mei Varick memantapkan rancangannya. Konsep ide, sketsa, detail kerangka, beserta jenis bunga yang sudah dipilih dikemas ke dalam proposal.

Tak butuh waktu lama, kurang lebih tiga minggu, Varick mendapat undangan ke Singapura. Pada 16 Juni, H-2 sebelum puncak acara gala dinner, Varick berangkat ke Singapura. Dia didampingi Ketua Umum DPP IPBI Andy Djati Utomo dan Ketua II DPP IPBI Lili Sutanto.

Sesampainya di lokasi, dia langsung memburu sejumlah bahan, termasuk aneka jenis dan warna bunga segar. Untuk berbelanja bunga, pihak penyelenggara acara memberi suntikan dana SGD 175 atau sekitar Rp 1,7 juta.

Padahal, rancangan Varick terbilang rumit. Dia pun harus tombok Rp 10 juta. ’’Kekurangannya saya pakai uang sendiri. Untung, masih ada tabungan,’’ ujarnya.

Para semifinalis diberi waktu 36 jam untuk merangkai bunga. Varick memulainya dari membuat kerangka. Yakni, kawat yang dibalut pita. Ruas-ruas kawat itu digunakan sebagai sayap yang dikenakan seperti ransel. Terdapat 17 ruas kawat yang memiliki dua macam ukuran. Ruas disusun membentuk setengah lingkaran. Tiap-tiap kawat dihiasi bunga merah.

Sayap kawat dikenakan bersama setelan rok mini dan atasan model crop. Varick menggunakan kain satin merah untuk pakaiannya. Keseluruhan permukaan kain juga harus ter-cover dengan bunga. ’’Menyusun bunga di rok pakai teknik tempel,’’ katanya. Tak ketinggalan, sepatu juga ditempeli bunga senada.

Pakaian harus bisa dikenakan secara fleksibel oleh model yang memiliki ukuran tubuh beragam. ’’Peserta nggak boleh milih model. Jadi, saya buat pakaian yang bisa menyesuaikan badan. Dikasih kolor,’’ jelasnya.

Kucuran keringat yang membasahi baju tidak lagi digubris. Jari-jemari sudah mulai kaku akibat dinginnya ruangan ber-AC. Ditambah beberapa luka di tangan akibat goresan kawat-kawat yang terasa perih. Tangan semakin terasa tak keruan saat terkena sisa-sisa lem tembak. ’’Caranya harus tetep gerak cepet,’’ tambahnya.

Ketegangan semakin menjadi kala melirik garapan peserta lain. ’’Aduh kok yang lain bagus-bagus banget,’’ ucapnya dalam hati waktu itu. Satu hari, bagi dia, tentu tak cukup untuk menyusun bunga menjadi sebuah baju lengkap. Sambil ngos-ngosan, menahan lapar, dan perih di tangan, Varick akhirnya bisa menyelesaikan karyanya.

Pukul 16.00, peserta sudah tidak boleh memegang rancangan mereka. Saatnya juri berkeliling. Terdapat tiga juri pakar yang menilai. Mereka adalah Pirjo Koppi (Finlandia), Mark Pampling (Australia), dan Christina Pang (Singapura).

Juri memiliki tahapan penilaian. Yakni, konsep awal, proses, hasil sebelum pakaian dikenakan, dan terakhir aksi panggung model saat mempresentasikan rancangan.

Jam menunjukkan pukul 19.30 waktu Singapura saat para juri mengumumkan hasil penilaian. Perasaan lega dan bangga menerpa Varick ketika namanya dipanggil. Dia maju ke panggung untuk menerima penghargaan sebagai pemenang.

Untuk kali pertama dalam hidupnya, Varick memberanikan diri mengikuti event internasional dan langsung membawa pulang trofi. ”Untungnya kok ya aku kebagian model yang lincah. Pinter nge-dance di catwalk,” katanya. Sementara itu, posisi runner-up diraih Tan Han Xiang (Singapura) dan juara III Fachrizar Hardi Kurnia (Bandung, Indonesia).

(*/c7/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia