Minggu, 20 Aug 2017
Features

Garam Gunung di Krayan yang Puluhan Tahun Tak Henti Berproduksi

Jumat, 11 Aug 2017 11:01 | editor : Miftakhul F.S

JAUH DARI LAUT: Lokasi sumur garam gunung di Desa Long Midang, Krayan. Seorang warga tengah berkutat membuat garam.

JAUH DARI LAUT: Lokasi sumur garam gunung di Desa Long Midang, Krayan. Seorang warga tengah berkutat membuat garam. (ASRULLAH/Radar Nunukan/JPG)

Tiap keluarga di desa-desa sekitar sumur garam gunung di Krayan mendapat jatah produksi dua pekan dalam setahun. Saat Indonesia terus-terusan mengimpor garam, Krayan justru rutin mengekspornya ke Malaysia.

ASRULLAH, Krayan

NUN di Krayan, kawasan dataran tinggi Kalimantan Utara yang cuma bisa dijangkau lewat udara dari wilayah Indonesia lain, pepatah lama itu dipatahkan. Garam di laut dan asam di gunung? Di sana, di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut, garam justru melimpah!

Dalam dua pekan bisa dihasilkan hampir 300 kg. Tak cuma cukup untuk dikonsumsi dan dibuat oleh-oleh khas Krayan. Tapi juga dijual ke Malaysia, negeri jiran yang hanya sepelemparan batu dari wilayah yang masuk Kabupaten Nunukan tersebut.

”Kami sudah puluhan tahun memproduksi tucu' (sebutan garam dalam bahasa setempat, Red) di sini,” kata Hernes, warga Long Midang, desa tempat sumber garam itu berasal, kepada Radar Nunukan (Jawa Pos Group).

Pa'nado, lokasi sumur garam gunung di Krayan itu, sangat berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan suku Dayak Lundayeh yang mendiami Krayan. Dulu, seperti disebutkan dalam legenda setempat, sumur itu adalah lubang tempat seekor burung terjatuh setelah dipanah nenek moyang salah satu subsuku Dayak tersebut.

Setelah dengan susah payah diambil, burung itu dibakar untuk dimakan. Namun, saat disantap, rasa daging hewan tersebut justru asin. Keesokan harinya, warga kembali ke lokasi tersebut untuk memastikan air itu memiliki rasa asin. Berawal dari itu pula, diketahui air asin berasal dari lubang yang kini menjadi sumur. Padahal, sekitar 2–3 meter dari sumur yang memiliki air asin itu, ada aliran sungai yang airnya sama sekali tidak asin.

Sejak dulu sampai kini, sumur garam tersebut dikelola secara komunal oleh warga desa sekitarnya. Puluhan kepala keluarga (KK) di beberapa desa sekitar Pa'nado bergiliran mendapat kesempatan memproduksi garam.

Masing-masing mendapat jatah dua pekan. Kalau dihitung, dalam setahun giliran satu keluarga hanya sekali. Tapi, tak pernah ada masalah. Sebuah tradisi yang dibarengi kearifan lokal untuk merawat sumber daya alam dan mencegah keserakahan.

Ketika Radar Nunukan ke sana pekan lalu, ada dua keluarga dari Desa Liang Tuwer yang tengah mendapat jatah membuat garam. Salah satunya keluarga Hernes. ”Untuk sekali produksi, dalam sehari kami rata-rata bisa membuat sekitar 20 kilogram tucu',” kata pria 52 tahun itu.

Artinya, dalam dua pekan tiap keluarga bisa memproduksi 280 kilogram (kg). Hasil produksi rata-rata dijual ke Bakelalan, Sarawak, Malaysia. Per kilogram tucu' Krayan yang dikemas dengan daun dan plastik dihargai hingga Rp 50 ribu.
Kalau dinominalkan, dalam satu masa giliran, tiap keluarga bisa mengantongi Rp 14 juta. Cukup besar memang. Tapi, perlu diingat, jatah per keluarga cuma sekali setahun.

Juga, tentu tidak semua garam hasil produksi dijual. Ada yang disimpan untuk konsumsi sendiri. Ada pula yang menjualnya sebagai cenderamata khas Krayan dengan mengemasnya menggunakan daun pisang. Atau menjadikannya buah tangan ketika berkunjung ke keluarga yang berada di dataran rendah.

Produksi tucu' menggunakan semacam wajan besar yang dipanasi kayu bakar. Di dalamnya sudah diisi air dari sumur yang asin tersebut.

Seperti disaksikan Radar Nunukan, tiga wadah disiapkan untuk menampung air sumur tersebut. Kemudian, air dimasak hingga mendidih. ”Produksi setidaknya membutuhkan waktu selama puluhan jam untuk menghasilkan garam gunung hingga 20 kilogram dalam sekali produksi,” terang Hernes.

Sumur garam itu terletak tak jauh dari Pos Gabungan Satgas Pamtas Republik Indonesia-Malaysia. Sekitar 500 meter saja. Jalan menuju ke sana umumnya jalan tanah dengan kondisi berlubang. Sangat jauh berbeda jika memasuki jalan Malaysia yang beraspal.

Menurut Jayl Langub dalam The Legend of Mountain Salt (2012), di seantero Krayan yang kini terbagi ke dalam lima kecamatan itu terdapat 33 sumber garam. Tapi, tidak semuanya bisa digunakan untuk produksi.

Krayan yang dibentengi Taman Nasional Kayan Mentarang itu hanya bisa dijangkau dengan transportasi udara dari wilayah Indonesia lain. Itu pun terbatas dari Nunukan. Dengan tiket yang kadang perlu dipesan sebulan sebelumnya. Sedangkan jalur darat harus melalui wilayah Malaysia, tepatnya via Sarawak, sebelum menyeberang laut lewat Tawau, Sabah, menuju Nunukan.

Di tengah krisis garam belakangan, bisa dibayangkan betapa bakal mahalnya garam di Krayan seandainya tak memproduksi sendiri. Tiap tahun Indonesia membutuhkan garam total 4,3 juta ton untuk produksi dan konsumsi. Sedangkan yang dipasok dari dalam negeri hanya 1,8 juta ton. Sisanya mesti diimpor.

Sebuah hasil penelitian oleh Herman dan Rolan Rusli dari Universitas Mulawarman, Samarinda, menyebutkan bahwa garam Krayan mengandung sejumlah mineral. Antara lain natrium (Na), kalium (K), magnesium (Mg), aluminium (Al), tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe), barium (Ba), dan stronsium (Sr). Khusus natrium, kandungannya di garam Krayan mencapai 19,35 persen.

”Garam yang mengandung ion natrium sangat baik bagi tubuh karena ion natrium berfungsi untuk mengatur osmolaritas cairan, pH, dan volume darah serta membantu transmisi rangsangan saraf dan kontraksi otot,” tulis keduanya seperti yang tercantum dalam situs Researchgate.

Keduanya menganalisis garam Krayan dengan teknik spektrometer serapan atom. Selanjutnya dengan melihat pola difraksi sinar X (XRD) dan scanning electron microscopy.

Adapun kandungan logam berat di garam Krayan, antara lain tembaga, masih berada dalam ambang batas. ”Sehingga pemakaian garam Krayan pada bahan makanan masih relatif aman untuk dikonsumsi,” tulis keduanya.

The Ark of Taste, sebuah gerakan yang berfokus pada produksi skala kecil yang berkelindan dengan budaya, sejarah, dan tradisi di berbagai sudut dunia, telah pula mencantumkan tucu' di situs resminya. Sebuah bentuk penghormatan agar tradisi membuat garam di Krayan itu tak sampai punah.

Dengan produksi yang diatur secara komunal sehingga tak pernah putus selama puluhan tahun, tucu' Krayan bisa jadi akan lestari. Krisis garam pun tak pernah mampir ke wilayah yang sangat jauh dari laut itu.

(*/JPG/c11/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia