Minggu, 20 Aug 2017
Sudut Pandang

50 Tahun ASEAN

Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima

Oleh: Joko Susanto*

Kamis, 10 Aug 2017 13:10 | editor : Miftakhul F.S

Joko Susanto

Joko Susanto (Jawa Pos Photo)

TIGA perkembangan mengemuka seiring dengan perjalanan ASEAN memasuki dasawarsa kelima. Selain mengemukakan konfigurasi aktual, ketiganya mengetengahkan tantangan yang tidak mudah. Sebagai traditional custodian ASEAN, Indonesia perlu menunjukkan kepemimpinannya.

Pertama, tantangan kebangkitan Tiongkok. Kekhawatiran terhadap Tiongkok dan ancaman komunisme dari utara adalah faktor penting yang turut mendorong pembentukan ASEAN di Bangkok, 8 Agustus 1967. Lima puluh tahun kemudian, faktor Tiongkok tersebut masih ada. Tetapi, ia tidak lagi datang bersama komunisme yang menjajakan kesetaraan, emansipasi kelas, dan revolusi, melainkan bersama kapitalisme yang menjajakan kemakmuran, peluang usaha, dan investasi.

Itu tantangan tidak mudah. Komunisme adalah seruan kolektivitas, baik kepada mereka yang dibela maupun yang dilawan. Sebaliknya, kapitalisme adalah seruan individualitas. Alih-alih menyatukan, individualitas lebih berpotensi mengudar kolektivitas. Meski sukses menghadapi Tiongkok komunis, kolektivitas ASEAN menghadapi Tiongkok kapitalis masih harus diuji.

Iming-iming kemakmuran serta peluang usaha dan investasi sering lebih efektif ketimbang omong-omong kesetaraan, emansipasi kelas, dan revolusi. Pergeseran sikap Laos belakangan mengungkapkan itu. Dari sikap menunggu dan waspada terhadap Tiongkok, Laos kini adalah pemain aktif di balik melunaknya sikap kolektif ASEAN terhadap posisi Tiongkok. Pertumbuhan tingginya yang bergantung angin investasi dari utara menjelaskan pelunakannya.

Kedua, tantangan reposisi Amerika Serikat (AS). ASEAN lahir dan besar di tengah perhatian besar AS terhadap Asia Tenggara. AS tidak hanya terlibat perang panjang di sana, tetapi juga berkepentingan terhadap kelangsungannya yang antikomunis serta terbuka bagi investasi AS dan sekutunya. Berakhirnya Perang Dingin, masuknya negara-negara Indochina, dan meningkatnya kemandirian ASEAN tidak menyurutkan perhatian AS terhadap Asia Tenggara.

Tetapi, kini ASEAN harus menerima fakta bahwa AS bukan negara adidaya yang sama. AS tidak saja disibukkan urusan domestik, tetapi juga tidak kunjung menunjukkan prioritas jelas yang berkaitan dengan Asia Tenggara. Kendati sempat mengirimkan wakilnya ke Indonesia, Presiden AS Donald Trump ternyata tidak kunjung bisa membedakan presiden Indonesia dari perdana menteri Singapura.

Jika pemahaman adalah fungsi perhatian, minimnya pengetahuan itu tentu bukan berita bagus. Untungnya, Asia Tenggara adalah titik-temu perimbangan. Di tengah Tiongkok yang makin asertif, perhatian terukur AS di kawasan adalah kepentingan AS dan juga kawasan. Persoalannya adalah tidak adanya cukup kepastian terkait formula, dosis, dan arah perhatian ke depan.

Ketiga, tantangan desentralitas ASEAN. Tidak dimungkiri, ASEAN adalah kerja sama kawasan paling sukses di Asia. Dari kawasan yang diprediksi menjadi Balkan berikutnya, Asia Tenggara tumbuh menjadi kawasan yang damai dan mencatatkan pertumbuhan tinggi. Tetapi, ASEAN perlu berkembang lebih dari sekadar ekosistem damai. ASEAN perlu mengukuhkan posisinya sebagai avenue dan aktor, tidak terkecuali dalam dinamika kawasan ke depan.

Kelangsungan prinsip sentralitas ASEAN adalah indikasi strategis bagi arti penting ASEAN terkait hal tersebut. Tetapi, meningkatnya insentif bagi pengedepanan langkah-langkah individual terkait dengan pergeseran tantangan regional di atas mengetengahkan tantangan desentralitas yang tidak mudah.

Perdebatan alot pada pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Manila baru-baru ini dan kegagalannya dalam mengembangkan sikap kolektif yang lebih tegas dalam beberapa isu spesifik Laut Selatan Tiongkok mengungkapkan perbedaan yang bisa mengganggu pengembangan sentralitas ASEAN ke depan.

Memang, ASEAN masih menjadi satu-satunya kerja sama regional yang mampu menyediakan platform bagi bertemunya AS, Rusia, Tiongkok, India, Korea Selatan, Jepang, dan Australia secara bersama. Tetapi, harus juga diakui bahwa keberadaannya perlu berkembang lebih dari sekadar talk shop.

***
Pada akhirnya, dinamika tantangan kontemporer ASEAN memasuki dasawarsa kelima mengemukakan tidak saja situasi ketidakpastian, tetapi juga pentingnya mengembangkan sentralitas, kolektivitas, dan kemandirian.

Dasawarsa kelima ASEAN adalah periode transisi di mana negara adidaya yang ada melakukan reposisi, redefinisi, dan mungkin juga overhaul ulang kehadiran dan perhatiannya di Asia Tenggara. Sementara itu, di sisi lain, kekuatan-kekuatan baru berlomba mengembangkan akses melalui segenap perkakas dan sumber daya yang dimilikinya.

Jika ASEAN mampu mengembangkan pranata yang memastikan sentralitasnya, kelangsungan relevansi ASEAN sebagai avenue dan aktor utama di kawasan bisa lebih dipastikan ke depannya. Di tengah kuatnya insentif eksternal bagi aksi-aksi individual, di tengah longgarnya daya tarik internal bagi aksi-aksi kolektif, sentralitas ASEAN yang kuat tersebut membutuhkan peran-peran kepemimpinan yang juga kuat.

Kendati masih harus meningkatkan kinerja, Indonesia dengan postur lebihnya secara tradisional adalah kandidat paling tepat. Tentu saja bukan pekerjaan mudah, mengingat masih banyaknya pekerjaan rumah yang harus dituntaskan dalam kaitannya. Seperti halnya AS, sesungguhnya Indonesia juga tengah mendefinisikan ulang posisinya di ASEAN.

Hanya, tidak seperti AS, Indonesia adalah traditional custodian ASEAN yang lebih tepat. Untuk Indonesia, kepemimpinan ASEAN bukan semata soal kelayakan kapasitas politik, tetapi juga keniscayaan alamiahnya secara geografis. Di tengah musim ketidakpastian yang menggelayuti kawasan, tidak ada yang lebih baik daripada kembali ke kontur alamiah kemandirian.

Demikianlah, di usianya yang separo abad, ASEAN kembali memanggil peran-peran kepemimpinan kuat Indonesia untuk mengembalikan kemandirian sebagaimana pernah ia tunjukkan sebelumnya. Karena itu, tidak berlebihan kiranya jika tantangan dasawarsa kelima ini dirumuskan sebagai tantangan bagi kembalinya peran sentral ASEAN dan Indonesia. Selamat memasuki dasawarsa kelima. Majulah ASEAN, Majulah Indonesia. (*)


 

(*Koordinator Riset Pusat Studi ASEAN Universitas Airlangga dan Direktur Eksekutif Stratagem Indonesia)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia