Kamis, 17 Aug 2017
Jati Diri

Mengakselerasi Pertumbuhan

Kamis, 10 Aug 2017 11:22 | editor : Miftakhul F.S

Ilustrasi

Ilustrasi (David Prasetyo/Jawa Pos)

Tak ada yang mengejutkan dari laporan terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) awal pekan ini. BPS mencatat, pada triwulan II 2017 ekonomi RI hanya tumbuh 5,01 persen. Angka itu di bawah ekspektasi pemerintah yang optimistis ekonomi bisa tumbuh 5,1 persen.

Jauh-jauh hari sejumlah kalangan memang sudah memprediksi pertumbuhan tak akan sesuai dengan harapan. Salah satu penyebabnya adalah lesunya daya beli. Momen Ramadan dan Lebaran yang biasanya menjadi pesta sektor ritel ternyata tidak mampu mendongkrak konsumsi.

Bukan hanya konsumsi rumah tangga yang turun. BPS juga menyoroti penurunan konsumsi pemerintah (minus 1,93 persen). Penurunan itu dipicu efisiensi belanja di kementerian/lembaga (K/L), khususnya untuk perjalanan dinas, sosialisasi, hingga pengadaan alat tulis.

Tentu hal tersebut harus menjadi catatan pemerintah yang mencanangkan pertumbuhan 5,2 persen tahun ini. Di sisa waktu empat bulan, harus ada terobosan baru untuk menstimulasi ekonomi agar tak terjadi stagnasi. Tapi, lagi-lagi langkah yang diambil ialah merilis paket kebijakan ekonomi baru. Rencananya, paket kebijakan ekonomi jilid 16 itu dirilis sebelum Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus pekan depan.

Titik tekan paket kebijakan tersebut adalah perbaikan iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan di pusat dan daerah. Insentif lainnya, belanja pemerintah yang lazimnya baru terealisasi pada kuartal ketiga dan keempat. Apakah kebijakan baru itu bakal efektif? Pasti kita semua berharap sinergi paket kebijakan jilid 1–16 bakal efektif menggenjot perekonomian.

Namun, kita juga harus realistis, tantangan yang dihadapi masih berat. Selain ketidakpastian global, situasi di dalam negeri pun sedang menghangat. Target penerimaan negara lewat pajak sepertinya juga bakal sulit tercapai.

Tetapi, setidaknya kita punya modal kuat lantaran inflasi terjaga di kisaran 3 persen. Dengan inflasi terkendali, daya beli masyarakat masih bisa dipulihkan meski tidak dalam waktu singkat. Ketika semua disinergikan, kita semua optimistis masih ada harapan untuk mencapai target pertumbuhan 5,2 persen tahun ini.

(*)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia