Kamis, 17 Aug 2017
Jati Diri

Nafsu Besar Belanja Kurang

Rabu, 09 Aug 2017 11:30 | editor : Miftakhul F.S

Ilustrasi

Ilustrasi (David Prasetyo/Jawa Pos)

DATA pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 2017 yang baru saja dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebetulnya memang tidak jelek-jelek amat. Tapi juga tidak berarti sudah memuaskan.

Juga, ini bukan soal pilihan membubuhkan kata ”hanya” ataukah ”berhasil mencapai” sebelum angka 5,01 persen. Ini adalah potret yang digambarkan dalam data-data tersebut.

Banyak kalangan mengeluhkan ketidaksinkronan antara data makro dan mikro. Pertumbuhan ekonomi yang lumayan tidak didukung data mikro yang memuaskan. Penjualan otomotif jeblok. Properti tiarap. Sektor ritel masih jauh dari pulih.

Namun, jika kita cermati lagi, data pertumbuhan ekonomi di triwulan kedua sesungguhnya justru mengonfirmasi belum menggeliatnya data-data mikro itu. Lihat saja pertumbuhan ritel yang ditunjukkan komponen perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil serta sepeda motor hanya tumbuh 3,78 persen (year-on-year/yoy). Kinerja itu lebih lambat jika dibandingkan dengan triwulan pertama tahun lalu yang mencatatkan 4,96 persen.

Sektor yang paling efektif menyerap tenaga kerja, yakni industri pengolahan, juga hanya tumbuh 3,54 persen (yoy) atau lebih lambat daripada triwulan sebelumnya yang mencatatkan 4,24 persen. Sedangkan sektor yang paling menyerap penghidupan masyarakat –yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan– hanya tumbuh 3,33 persen; jauh lebih lambat daripada kuartal sebelumnya yang sebesar 7,12 persen.

Padahal, patut diingat, pertumbuhan ekonomi triwulan pertama dan kedua sama persis; yakni 5,01 persen. Namun, komponen-komponen yang paling menyentuh penghidupan masyarakat justru lesu. Lihat saja pertumbuhan pengadaan listrik dan gas yang justru minus 2,53 persen. Kuartal sebelumnnya masih sanggup tumbuh tipis 1,60 persen. Seperti kita tahu, konsumsi listrik merupakan salah satu indikator ekonomi paling riil.

Dengan kondisi seperti itu, sulit tidak mempertanyakan langkah pemerintah. Defisit sudah dilebarkan hingga mendekati 3 persen dari kue ekonomi nasional. Namun, nafsu besar dalam belanja tersebut sebenarnya belum tecermin dalam realisasi. Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, konsumsi pemerintah triwulan kedua justru minus 1,93 persen (yoy).

Jika dibandingkan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq) memang lebih tinggi 29,37 persen. Namun, itu lebih disebabkan start belanja yang sudah minim di awal tahun. Padahal, di tengah lesunya ekonomi seperti ini, belanja pemerintah amat dibutuhkan sebagai pengungkit. Tentu belanja yang efektif. Bukan yang baru digelontorkan di pengujung tahun.

(*)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia