Kamis, 17 Aug 2017
Sudut Pandang

Mari Selamatkan Jamu

Oleh: Mangestuti Agil*

Selasa, 08 Aug 2017 14:30 | editor : Miftakhul F.S

Mangestuti Agil

Mangestuti Agil (Jawa Pos Photo)

BERITA bangkrutnya pabrik jamu legendaris PT Nyonya Meneer sangat mengejutkan. Salah satu industri obat tradisional Indonesia yang berdiri sejak 1919 itu didirikan atas keinginan pendirinya untuk menyebarkan pengalaman pribadinya dalam memanfaatkan berbagai bahan tumbuhan untuk tujuan penyembuhan.

Latar belakang pengalaman pribadi semacam itu memang mendasari tumbuhnya obat tradisional Indonesia, termasuk resep yang jumlahnya sangat banyak. Sebagai gambaran, setiap suku bangsa yang tersebar di pulau-pulau besar Indonesia mempunyai ramuan bahan alam yang khas dan sudah terbukti manfaatnya secara empiris.

Ramuan obat tradisional yang diciptakan kerabat Keraton Solo, misalnya, mempunyai keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan ramuan Keraton Jogjakarta. Dua keraton itu memang menjadi pusat perkembangan kebudayaan pada zamannya, di mana kesehatan jasmani dan rohani menjadi fokus perhatian pemerintah masa itu.

Kita dapat menelusuri berbagai peninggalan berupa manuskrip yang mengajarkan cara hidup sehat, termasuk penggunaan berbagai ramuan obat dari bahan alam. Contoh manuskrip itu adalah Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi dalam bahasa Jawa yang ditulis tangan atas perintah Sri Soesoehoenan Pakoeboewana V pada 1831. Buku itu memuat 1.166 resep. Yaitu, 922 resep ramuan bahan alam dan 244 resep yang dilengkapi doa serta mantra untuk penyembuhan (Sutarjadi, 2012, dalam Buku Jamu).

Manuskrip lain adalah naskah Racikan Boreh Saha Parem karya Kanjeng Pakoeboewono IX tulisan tangan yang memuat 47 jenis racikan boreh dan 34 racikan parem. Naskah itu memuat obat tradisional untuk pemakaian luar, yang merupakan campuran berbagai bahan alam yang mudah didapat dan tidak asing dalam kehidupan masyarakat saat itu (Supardjo dan Sudarsini, 2011, dalam Jurnal Manuskrip Nusantara).

Perpustakaan Nasional RI menjadi tempat penyimpanan naskah kuno tentang obat-obatan tradisional dari berbagai suku bangsa Indonesia yang mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Naskah tersebut memuat kumpulan resep obat-obatan dan pengobatan tradisional yang ditulis dalam bahasa Belanda, aksara Arab, Jawa, dan Bali (Perpustakaan Nasional RI, 1993, dalam Seri Obat-obatan Tradisional dalam naskah kuno).

Produk Antarbudaya
Berbagai fakta sejarah tentang penemuan dan pemanfaatan berbagai ramuan berbahan alam tidak terlepas dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Perkembangan kemaritiman pada masa itu membuka hubungan yang erat dengan bangsa-bangsa lain di kawasan Semenanjung Melayu serta Asia Tenggara seperti Tiongkok dan India.

Interaksi budaya yang terjadi ternyata mewarnai berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang kesehatan. Bukti tentang itu bisa dipelajari melalui berbagai ramuan yang menggunakan bahan-bahan yang banyak dipakai dalam ramuan Tiongkok dan India. Juga, ada bahan yang baru dikenal melalui interaksi antarbangsa dan selanjutnya mulai dibudidayakan di Indonesia.

Namun, yang lebih penting, hubungan antarbangsa itu telah memperkenalkan konsep pengobatan tradisional yang menjadi filosofi pengobatan Tiongkok dan India, yaitu konsep keseimbangan mind, body and spirit (pikiran, tubuh, dan jiwa). Konsep untuk menciptakan harmoni dan keseimbangan di dalam diri manusia menuju kondisi sehat. Dua sistem itu mendefinisikan kesehatan yang sempurna sebagai keseimbangan antara mind, body and spirit dan tercapainya kesejahteraan sosial.

Konsep tersebut ternyata juga dianut dalam sistem pengobatan tradisional Indonesia. Kita bisa menelusurinya melalui berbagai ramuan yang menyertakan doa dan mantra, yaitu yang diartikan sebagai tindakan yang perlu disertakan dalam mencapai keadaan sehat.

Gaya hidup dalam budaya Indonesia yang bertujuan menciptakan harmonisasi pikiran, tubuh, dan jiwa bisa kita pelajari, antara lain, melalui Kitab Primbon karya anggota keluarga Keraton Jogjakarta. Buku itu memuat berbagai petuah bagi kehidupan sehari-hari yang perlu dipelajari dengan saksama dan bijaksana agar tidak menimbulkan kesalahan penafsiran yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Perkembangan Pengobatan Tradisional
Pengobatan Tiongkok dan India sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat mereka. Dalam era perkembangan sistem pengobatan modern saat ini, Tiongkok dan India melakukan upaya agar sistem pengobatan tradisional mereka bisa berkontribusi secara ilmiah sebagai pengobatan alternatif, komplementer, atau integratif bersama pengobatan modern.

Sistem pengobatan Tiongkok bahkan mampu membuktikan kepada dunia bahwa integrasi dengan pengobatan modern merupakan sesuatu yang bisa diwujudkan. Misalnya, praktik akupunktur yang berbarengan dengan pengobatan konvensional.

Jepang hingga saat ini juga tetap gigih mempertahankan sistem pengobatan tradisional kampo yang diperlukan guna mendapatkan pengobatan yang tidak dapat diatasi melalui sistem yang modern. Pemerintah Jepang mampu menyediakan semua bahan baku obat tradisional terstandar, buku acuan resmi bagi pengobat tradisional, pendidikan bagi dokter untuk berpraktik pengobatan tradisional secara resmi, serta subsidi bagi industri pembuat obat tradisional.

Tiongkok, India, dan Thailand memiliki sistem pendidikan tinggi bagi pengobat tradisional mereka. Lulusannya berhak menjalankan praktik secara resmi dan diakui. Thailand bahkan mampu memproduksi bahan baku obat tradisional terstandar untuk memenuhi kebutuhan pengobatan tradisional resmi di rumah sakit pemerintah.

Berkembangnya sistem pengobatan tradisional di negara-negara tersebut layak dijadikan referensi bagi pengembangan jamu. Berbekal sejarah penemuan, konsep, pengalaman pengobatan, serta kekayaan ramuan Indonesia, jamu layak dikembangkan secara lebih serius. Keputusan Indonesia yang memasukkan jamu sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional perlu diikuti langkah penataan yang lebih cerdas dan tepat. Dalam hal ini, sudah saatnya dirancang sinergi yang sangat cermat antara pemerintah, sektor pendidikan tinggi, institusi penelitian, dan sektor terkait lain.

Kita memerlukan buku acuan resmi ramuan agar praktik pengobat tradisional dapat dikendalikan. Kita membutuhkan bahan baku terstandar untuk menjamin kualitas ramuan jamu. Kita memerlukan penataan penelitian agar jamu mempunyai landasan ilmiah yang kuat.

Jangan terlambat agar tumbuh industri yang sehat dan tidak ada lagi industri jamu yang tumbang. Jamu yang sehat mampu mengantarkan masyarakat Indonesia pada keadaan sehat jasmani dan rohani. Selamatkan jamu. (*)

(*Peneliti obat tradisional; guru besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia