Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Agustus 2017 | 19.54 WIB

NU Banyumas Gelar Aksi Damai Tolak Full Day School

NU Banyumas Gelar Aksi Damai Tolak Full Day School - Image

NU Banyumas Gelar Aksi Damai Tolak Full Day School

JawaPos.com - Belasan ribu orang yang tergabung dalam keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyumas menggelar aksi damai menolak kebijakan full day school (FDS) di Alun-alun Purwokerto, Senin (7/8). Mereka menilai FDS merugikan tradisi belajar di kalangan Nahdliyin.


Dalam aksi tersebut, satu truk tronton dijadikan panggung orasi dilengkapi pengeras suara. Belasan ribu peserta aksi menyaksikan dan mendengar dengan jelas. Perwakilan pelajar dari ratusan sekolah dan pondok pesantren yang berafiliasi ke NU turut hadir dalam aksi tersebut.


Mereka datang dari seluruh penjuru wilayah sambil meneriakan yel-yel dan membawa sejumlah spanduk bertuliskan antara lain Nahdliyin menolak FDS karena hancurkan generasi Islam, FDS membuat kami tidak bisa ngaji, batalkan Permendikbud no 23 tahun 2017, dan lain sebagainya.


Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Damai, Taofik Hidayat dalam orasinya mengatakan, kebijakan FDS membuat anak-anak atau siswa tidak dapat berinteraksi dengan lingkungan dan tidak dapat mengikuti pengajian sore hari.


"Padahal kita tahu bagaimana membangun bangsa Indonesia bukan hanya membangun intelektual dan fisik saja, tetapi juga membangun nilai-nilai spiritual dan mendidik mereka membangun moralitas yang baik," serunya.


Menurutnya, ratusan tahun tradisi pendidikan dengan metode Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah baik yang dilakukan secara formal maupun secara kultur di surau dan masjid terbukti membentuk bangsa yang berkarakter dan menghargai perbedaan dengan arif.


Adanya kebijakan FDS juga berdampak terhadap beban orang tua untuk menambah uang jajan anaknya. Tidak hanya itu, kebijakan tersebut juuga membuat 70 ribu lebih madrasah diniyah dan ratusan ribu Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) dalam naungan NU di seluruh Indonesia merasa dirugikan.


Banyak anak yang sudah tidak lagi masuk ke TPQ sore hari karena kelelahan mengikuti pelajar sekolah hingga sore hari.
"Pondok pesantren kita terancam gulung tikar. Bagaimana anak kita belajar agama kalau mereka seharian di sekolah," katanya dilansir Radar Banyumas (Jawa Pos Group).

Editor: Yusuf Asyari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore