
Lowongan yang dibuka Pemkab Ponorogo belum memenuhi kebutuhan kekurangan tenaga dokter di Puskesmas.
JawaPos.com - Saat ini jumlah perguruan tinggi yang membuka fakultas kedokteran bisa dikatakan sudah melimpah. Namun, ironisnya sejumlah daerah mengaku masih kekurangan tenaga dokter. Seperti yang terjadi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Jumlah dokter Puskesmas terbilang minim. Bahkan, lowongan kerja sebagai tenaga kesehatan yang dibuka pemerintah kabupaten (pemkab) tak kunjung menyelesaikan masalah tersebut.
Buktinya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ponorogo hingga saat ini baru mendapat dua dokter umum dari total 13 formasi. Padahal lowongn kerja tenaga kesehatan itu dibuka sejak Januari lalu.
“Lowongan dokter umum kami buka terus sampai terpenuhi,” kata Kepala Dinkes Ponorogo drg Rahayu Kusdarini kepada Radar Ponorogo (JawaPos Group).
Diakuinya, tidak mudah mencari dokter, apalagi untuk puskesmas. Karenanya guna mengatasi masalah tersebut, pemkab berharap pada dokter lulusan baru. Namun, terobosan itu tetap gagal.
Sebab, kebanyakan bukan dari Ponorogo. Begitupun dokter fresh graduate alias yang baru beres koas, biasanya lebih memilih mengabdi di daerah asal.
Kepala dinas yang biasa disapa Irin itu, juga membantah besaran gaji sebagai akar masalah kurangnya tenaga medis. Karena, gaji yang diberikan sudah mengacu standar provinsi. Yakni, Rp 2,5 juta per bulan.
“Itu belum termasuk jasa pelayanan yang dihitung dari jumlah peserta BPJS yang ditangani dan tunjangan lain,” paparnya.
Karena itu, pihaknya masih membuka lowongan sebelas dokter umum sementara. Enam dokter gigi yang juga dibuka lowongan sudah terisi. Irin mengaku kebutuhan dokter umum cukup mendesak.
Sedikitnya, kata Irin, pihaknya membutuhkan 50 dokter umum jika mengacu standar provinsi. Yakni, minimal dua dokter umum untuk puskesmas rawat inap dan satu dokter umum untuk puskesmas rawat jalan.
Ponorogo memiliki 19 puskesmas rawat inap. Nyatanya, baru ada 33 dokter saat ini yang tersebar di 31 puskesmas. Pihaknya masih membutuhkan 17 dokter umum lagi.
“Kalau mengacu ideal, seorang dokter harusnya melayani maksimal sepuluh ribu pasien atau masyarakat. Kalau lebih ya harus ditambah,” jelasnya sembari menyebut baru membuka 13 dari 19 kebutuhan lantaran terkendala anggaran.
Nyatanya, kondisi rata-rata seorang dokter di puskesmas melayani lebih dari 15 ribu pasien. Paling mendesak di Puskesmas Sawoo dan Ngrayun.
Puskesmas Sawoo idealnya memiliki tiga dokter. Sebab, ada 30 ribu masyarakat di sana. Puskesmas memiliki dua tenaga dokter saat ini. “Ini baru standar minimal. Kalau mengacu standar WHO kebutuhan jauh lebih banyak lagi,” terangnya.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
