Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Agustus 2017 | 17.58 WIB

Penderita ODHA Naik Ratusan Jiwa, Paling Banyak Ibu Hamil

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Jumlah penderita human immunodeficiency virus (HIV) di Kota Balikpapan semakin meningkat. Setidaknya hingga pertengahan tahun ini, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bertambah hingga 500 orang.


Tahun lalu jumlah ODHA Balikpapan berkisar 1.110 orang. Kini, jumlahnya terus meningkat hingga 1.507 orang. Hal itu disampaikan oleh Staf Ahli Wali Kota Bidang Sosial, Kesejahteraan, dan Pengembangan SDM, drg Dyah Muryani.


Dia menyebutkan, hampir setiap rumah sakit mencatat peningkatan jumlah ODHA. Terutama beberapa tahun terakhir, virus HIV banyak terdeteksi pada ibu hamil.


“Mereka tidak sadar berpotensi menularkan virus kepada janin dalam kandungannya. Selain itu, HIV juga dapat tersebar karena hubungan seks yang tidak aman dan penggunaan narkoba jarum suntik,” kata mantan Kepala RSUD Balikpapan itu dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Minggu (6/8).


Dyah menjelaskan, ada beragam masalah sekaligus menjadi tantangan dalam penanganan ODHA. Salah satu problem utama adalah kebanyakan dari penderita HIV/AIDS belum memiliki KTP Balikpapan.


Sehingga tidak terdaftar sebagai warga Balikpapan. Dampaknya, mereka kesulitan mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan. “Padahal mereka sudah tinggal di sini bertahun-tahun. Tidak ada KTP, akhirnya mereka tidak bisa mengurus kartu BPJS. Jadi, rata-rata kesulitan jika ingin berobat. Belum lagi, kebanyakan tergolong golongan tidak mampu dan keluarga sudah tidak mau menerima kehadiran mereka,” ucapnya.


Dia menambahkan, selama ini Pemkot Balikpapan hanya dapat menangani ODHA dengan cara pengobatan dan pembinaan. Contoh dengan hadirnya program Layanan Alat Suntik Steril (LASS) yang sudah terdapat di berbagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Kemudian program ‘outlet’ kondom, bukan outlet dalam arti harfiah seperti toko atau warung yang menjual kondom.


Dyah mengungkapkan, outlet yang dia maksud yakni ada orang-orang khusus yang membagikan kondom tersebut. Sebagian besar, mereka yang disebut dengan para penjangkau ini berasal dari komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Sehingga, kondom memang dibagikan untuk komunitasnya masing-masing.


“Jadi jangan salah paham, kondom ini bukan dibagi secara umum ke berbagai orang contoh anak sekolah. Kondom ini juga harus tepat sasaran dan sifatnya gratis, bertujuan mencegah sekaligus mengendalikan penyebaran virus,” tuturnya. Dyah mengungkapkan, peningkatan jumlah ODHA yang cukup signifikan membuat pemkot harus memikirkan penanganan yang serius. Dia mengaku akan segera bertatap muka dengan wali kota untuk membicarakan solusi dari masalah tersebut.


Salah satu yang menjadi perhatian utama yakni akses kartu BPJS Kesehatan bagi ODHA. Terutama untuk mendapatkan obat antiretroviral (ARV). “Sehingga pengendalian infeksi yang ditimbulkan akibat aktivitas seks mereka bisa berkurang, artinya penularan virus bisa tertahan. Dengan begitu, mereka bisa sadar dan tidak mau menularkan virus ke yang lain. Sebelumnya, ada istilah tidak mau sakit sendiri, jangan sampai begitu,” tutupnya. Tidak hanya memperjuangkan hak mereka ke BPJS Kesehatan, Dyah berencana untuk menambah jumlah penjangkau.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore