Kamis, 24 Aug 2017
Teknologi

Simak Nih Dampak Medsos bagi Remaja, Banyak yang Tidak Sadar

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok JawaPos.com)

JawaPos.com - Perkembangan anak harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, semakin berkembangnya anak, maka rasa keingintahuannya pun semakin besar.

Salah seorang pengamat anak, Helga Worotitjan mengatakan, rasa ingin tahu anak ingin mencoba segala sesuatu. Termasuk yang mengarah ke tindakan yang menyimpang. Apalagi dengan perkembangan media sosial. Memiliki pengaruh besar semakin cepatnya pemikiran anak.

"Dengan media sosial, eksistensi membuat segala sesuatunya dicoba. Tidak jarang yang memiliki unsur negatif. Misal pacaran dan bermesra-mesraan di tempat umum. Kemudian, disebar dengan harapan bisa membuat mereka dikenal dan menjadi bahan perbincangan," terang Helga dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group).

JANGAN DITIRU: Remaja bermesraan diunggah oleh sebuah akun mainstream. Hal ini bisa saja melanggar UU ITE.

JANGAN DITIRU: Remaja bermesraan diunggah oleh sebuah akun mainstream. Hal ini bisa saja melanggar UU ITE. (Instagram/Kaltim Post/JawaPos.com)

Mudahnya akses terhadap media sosial, juga membuat sebagian orang memanfaatkan momen mesra remaja. Mengambil gambarnya kemudian mengunggahnya. Atau mengunggah konten berbau pornografi. Dengan maksud ingin posting-annya ramai diperbincangkan.

"Mereka tidak sadar, jika apa yang diunggah bisa menyangkut masalah hukum. Karena ada UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik). Atau tentang penyebaran pornografi. Kalaupun tidak tersandung hukum, biasanya terkena pada persoalan sosial. Ada hukuman langsung dari pembaca posting-an tersebut. Kemudian tersebar ke masyarakat," paparnya.

Salah satu efek sampingnya adalah semakin maraknya aksi bullying atau perundungan. Mental remaja yang masih belum terbentuk sempurna bisa berdampak buruk, khususnya meningkatnya kasus bunuh diri.

"Bullying jadi sesuatu yang lumrah dilakukan di media sosial. Mereka tidak sadar melakukannya karena tidak secara langsung berhadapan dengan objek bullying. Namun, efeknya kepada objek tersebut bisa berakibat fatal," sebutnya.

Secara moral, remaja akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Mereka akan memilih apa yang biasa tampil di media sosial. Sementara di kehidupan nyata tidak ada pembimbing. Terutama dari orang tua. Sedangkan sekolah lebih banyak mengajarkan ilmu yang sudah ditetapkan kurikulum.

"Orang tua sekarang cenderung menyerahkan semuanya ke sekolah. Padahal, keluarga adalah benteng pertama untuk membentuk karakter anak," sebutnya.

(fab/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia