Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Agustus 2017 | 15.32 WIB

Rintihan Buruh Garam: Saat Pabrik Masih Beroperasi, Kampung Ini Hidup

Inaq Sumiati, buruh pabrik garam tradisonal di Desa Pijot, Kecamatan Keruak Lombok Timur mengangkat garam-garam yang dihaluskan dengan cara pembakaran - Image

Inaq Sumiati, buruh pabrik garam tradisonal di Desa Pijot, Kecamatan Keruak Lombok Timur mengangkat garam-garam yang dihaluskan dengan cara pembakaran

JawaPos.com - Bangunan itu kini musnah! Yang tersisa cuma tembok batu bata menuding langit. Atap asbes telah terbang. Tersisa pecahannya yang kini tengkurap di lantai. Kusen pintu dan jendela meregang.


Daun pintu rusak dan berlubang. Sementara sebuah gudang penyimpanan merana tiada tara. Hanya menjadi tempat pesta pora laba-laba dengan jaring perangkap yang tak tahu adat.


Kalau tidak dari sebidang papan, mungkin orang tak akan mengenal bangunan itu. Rasanya hanya itulah yang menjadi penanda, betapa bangunan tersebut ternyata dulu adalah sebuah pabrik yang pernah jaya.


Papan petunjuk itu berisi tulisan tangan tentang teknik pencucian garam serta instruksi tata cara penirisan garam. Benar. Ini memang pabrik garam. Pemiliknya memberi nama Tanjung Karya. Pabrik dibangun di atas lahan seluas 25 are di Dusun Kedome, Desa Ketapang Raya, Keruak, Lombok Timur.


Saking pentingnya, pabrik itu dulu diresmikan menteri dalam negeri. Tepatnya 1998. Prasasti peresmiannya yang kini dibiarkan kelabu masih tersimpan di kompleks pabrik. Raden Hartono, menteri dalam negeri kala itu, membubuhkan tanda tangan di sana.


"Saat pabrik masih beroperasi, kampung ini hidup," tutur Hambali, pria 60 tahun yang ditemui Lombok Post (Jawa Pos Group) di sana, akhir pekan lalu.


Hambali adalah saksi sejarah, betapa pabrik itu dulu pernah jaya dan bergairah. Hambali pula saksi mata, betapa pabrik tersebut akhirnya kini tinggal nama. Hambali adalah salah seorang pekerja di pabrik garam Tanjung Karya.


Saat jaya dulu, di kompleks pabrik, hilir mudik para pekerja. Di hulu, para pekerja berlomba memproses pembuatan garam. Mulai pencucian, pengeringan, hingga iodisasi (menambahkan zat yodium).


Seluruh pekerja di pabrik garam Tanjung Karya adalah warga sekitar. Hambali tak akan lupa, betapa hidup mereka kala itu sungguh makmur. Bayangkan. Zaman itu, dalam sehari, para pekerja bisa mendulang penghasilan Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. "Bagaimana tidak senang hidup kami," kata Hambali.


Sebab, pada saat yang sama, Indonesia kala itu dibekap krisis moneter. Mencari pekerjaan susah bukan main. Malah, yang sudah bekerja pun kena PHK. Diberhentikan dan diberi pesangon tak seberapa.


Dengan bekerja di pabrik garam itulah, warga Kedome mengetahui cara menghasilkan garam beryodium berkualitas. "Kalau ada yang mau buka pabrik lagi, kami semua di sini masih ingat caranya membuat garam yang bagus," kata Hambali.


Sayang, kebahagiaan warga di Kodeme tak berumur lama. Belum genap lima tahun pabrik beroperasi, Daeng Sumile meninggal dunia. Lalu, para ahli warisnya tidak melanjutkan kerja sama pemanfaatan lahan. Pabrik pun harus tutup.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore