
Inaq Sumiati, buruh pabrik garam tradisonal di Desa Pijot, Kecamatan Keruak Lombok Timur mengangkat garam-garam yang dihaluskan dengan cara pembakaran
JawaPos.com - Bangunan itu kini musnah! Yang tersisa cuma tembok batu bata menuding langit. Atap asbes telah terbang. Tersisa pecahannya yang kini tengkurap di lantai. Kusen pintu dan jendela meregang.
Daun pintu rusak dan berlubang. Sementara sebuah gudang penyimpanan merana tiada tara. Hanya menjadi tempat pesta pora laba-laba dengan jaring perangkap yang tak tahu adat.
Kalau tidak dari sebidang papan, mungkin orang tak akan mengenal bangunan itu. Rasanya hanya itulah yang menjadi penanda, betapa bangunan tersebut ternyata dulu adalah sebuah pabrik yang pernah jaya.
Papan petunjuk itu berisi tulisan tangan tentang teknik pencucian garam serta instruksi tata cara penirisan garam. Benar. Ini memang pabrik garam. Pemiliknya memberi nama Tanjung Karya. Pabrik dibangun di atas lahan seluas 25 are di Dusun Kedome, Desa Ketapang Raya, Keruak, Lombok Timur.
Saking pentingnya, pabrik itu dulu diresmikan menteri dalam negeri. Tepatnya 1998. Prasasti peresmiannya yang kini dibiarkan kelabu masih tersimpan di kompleks pabrik. Raden Hartono, menteri dalam negeri kala itu, membubuhkan tanda tangan di sana.
"Saat pabrik masih beroperasi, kampung ini hidup," tutur Hambali, pria 60 tahun yang ditemui Lombok Post (Jawa Pos Group) di sana, akhir pekan lalu.
Hambali adalah saksi sejarah, betapa pabrik itu dulu pernah jaya dan bergairah. Hambali pula saksi mata, betapa pabrik tersebut akhirnya kini tinggal nama. Hambali adalah salah seorang pekerja di pabrik garam Tanjung Karya.
Saat jaya dulu, di kompleks pabrik, hilir mudik para pekerja. Di hulu, para pekerja berlomba memproses pembuatan garam. Mulai pencucian, pengeringan, hingga iodisasi (menambahkan zat yodium).
Seluruh pekerja di pabrik garam Tanjung Karya adalah warga sekitar. Hambali tak akan lupa, betapa hidup mereka kala itu sungguh makmur. Bayangkan. Zaman itu, dalam sehari, para pekerja bisa mendulang penghasilan Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. "Bagaimana tidak senang hidup kami," kata Hambali.
Sebab, pada saat yang sama, Indonesia kala itu dibekap krisis moneter. Mencari pekerjaan susah bukan main. Malah, yang sudah bekerja pun kena PHK. Diberhentikan dan diberi pesangon tak seberapa.
Dengan bekerja di pabrik garam itulah, warga Kedome mengetahui cara menghasilkan garam beryodium berkualitas. "Kalau ada yang mau buka pabrik lagi, kami semua di sini masih ingat caranya membuat garam yang bagus," kata Hambali.
Sayang, kebahagiaan warga di Kodeme tak berumur lama. Belum genap lima tahun pabrik beroperasi, Daeng Sumile meninggal dunia. Lalu, para ahli warisnya tidak melanjutkan kerja sama pemanfaatan lahan. Pabrik pun harus tutup.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
