Kamis, 17 Aug 2017
Sudut Pandang

Fondasi dan Pilar Kebangsaan

Oleh: Dr Tirto Adi MPd *

Selasa, 01 Aug 2017 16:44 | editor : Suryo Eko Prasetyo

Dr Tirto Adi MPd

Dr Tirto Adi MPd (Jawa Pos Photo)

KETIKA MPR RI dipimpin oleh Taufiq Kiemas, gaung sosialisasi 4 (empat) pilar kebangsaan yang terdiri atas ’’PBNU”, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945, begitu gencar. Sosialisasi itu membuahkan hasil bahwa pilar kebangsaan yang sejak era reformasi 1998 seakan redup terasa menyala kembali dalam sanubari warga bangsa Indonesia. Dalam perjalanannya, ada sebagian warga yang tidak sependapat bahwa Pancasila disebut sebagai pilar kebangsaan.

Pancasila bukan sekadar pilar. Lebih dari itu, Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah falsafah, dasar, dan fondasi atau landasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi rakyat Indonesia. Mahkamah Konstitusi (MK) dalam amar putusannya Nomor 100/PUU-X/2014 telah membatalkan frasa ’’Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara’’ dalam pasal 34 ayat (3b) huruf a UU RI Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik terkait Pancasila sebagai Pilar Kebangsaan.

Terlepas dari hal itu, yang perlu dijadikan refleksi setiap kali kita memperingati HUT RI adalah masih adanya sebagian warga bangsa yang menyoal fondasi dan pilar kebangsaan tersebut. Eksistensi pancasila sebagai ideologi moderat atau ’’jalan tengah’’ bagi bangsa Indonesia yang multisuku, agama, ras, atau golongan masih saja dipersoalkan. Masih ada yang berkeinginan menghidupkan kembali ideologi ekstrem kiri maupun kanan. Sejarah telah membuktikan bahwa ideologi yang ekstrem secara faktual tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Demikian pula bentuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Masih ada pula sebagian anak bangsa yang menginginkan Indonesia sebagai negara federal. Sejarah pernah mencatat, ketika Indonesia melakukan ’’uji coba’’ dengan bentuk negara RIS, Republik Indonesia Serikat (Verenigde Staten van Indonesie) pada 1949–1950, kondisi geopolitik maupun kultur bangsa Indonesia tidak sesuai. Indonesia adalah negara kepulauan atau negara maritim yang memang tepat dengan bentuk NKRI. Negara federal agaknya cocok bagi negara-negara kontinental di bagian Benua Amerika atau Eropa.

Untuk itu, ketika bangsa Indonesia memperingati hari ulang tahunnya yang ke-72 sekaligus sebagai tahun-tahun awal pelajaran 2017–2018 bagi para pelajar, mari kita kukuhkan kesadaran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan tetap setia dan mengamalkan Pancasila sebagai ideologi negara dan sekaligus menjadikan Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 sebagai bangunan dan pilar kebangsaan. Bukankah begitu?!

(* Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia