
Sebanyak 93 WN Tiongkok yang diamankan di Surabaya
JawaPos.com - Tim gabungan kepolisian Tiongkok, Bareskrim Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Polres Depok, dan Polrestabes Surabaya kemarin menggulung sindikat penipuan online internasional. Tidak tanggung-tanggung, operasi tersebut dilakukan secara simultan di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Total, 150 orang yang mayoritas warga negara (WN) Tiongkok ditangkap.
Hingga berita ini ditulis, belum jelas siapa yang menjadi otak sindikat tersebut Namun, korbannya adalah orang-orang di Tiongkok sendiri. "Masih satu kesatuan (operasi di Jakarta, Bali, dan Surabaya, Red). Kami saling koordinasi. Tapi, masih kami perdalam dan petakan," kata Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Didik Sugiarto kepada sejumlah wartawan di lokasi penggerebekan di Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Skala sindikat itu sangat besar. Menurut seorang petugas yang ikut menangani kasus itu, dalam laporan kepada Interpol, kepolisian Tiongkok menyebut sindikat itu berhasil menggondol sedikitnya USD 45 juta (Rp 600 miliar) dalam satu tahun terakhir.
"Modusnya sederhana, mereka menipu orang-orang di Tiongkok dengan cara menyebutkan famili mereka bermasalah dengan hukum dan harus membayar dalam jumlah tertentu supaya bebas," tutur petugas itu. Jadi, korbannya adalah orang-orang Tiongkok sendiri. Sindikat tersebut sengaja memilih luar negeri sebagai home base supaya tidak mudah terlacak.
Sumber itu juga menyebutkan, sindikat tersebut diduga mempunyai kemampuan cracking (membobol sistem keamanan komputer). Sebab, mereka bisa mengetahui siapa-siapa saja yang bermasalah di Tiongkok. Dengan begitu, mereka bisa dengan tepat menyasar keluarga orang-orang yang bermasalah dengan hukum. "Itu yang membuat kepolisian Tiongkok khawatir. Sebab, bisa jadi ada kebobolan dengan sistem mereka," lanjutnya.
Selain itu, besarnya skala sindikat tersebut bisa dilihat dari postur jaringannya di Indonesia. Sindikat tersebut mempunyai markas di perumahan mewah. Di Jakarta, home base-nya berada di Pondok Indah. Di Bali, markas mereka terdapat di Kuta Selatan. Lalu, di Surabaya, langsung tiga rumah di perumahan paling mahal, Graha Family, yang mereka huni. "Kami belum mengetahui apakah sindikat tersebut membeli atau menyewa¬nya. Kami belum bisa melakukan pemeriksaan secara intensif," kata AKBP Didik.
Besarnya skala itu juga tampak dari jumlah anggota sindikat. Dari Pondok Indah, polisi membekuk 29 orang yang rata-rata WN Tiongkok. Sementara itu, dari Kuta Selatan, aparat menahan 28 orang.
Yang paling banyak terdapat di Surabaya. Total, ada 93 orang yang ditangkap dan dikumpulkan dari operasi kemarin. Perinciannya, 12 WN Taiwan, 1 WN Malaysia, 1 WNI, dan sisanya WN Tiongkok. Sebanyak 26 orang di antara mereka adalah perempuan. Semuanya berasal dari Tiongkok.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos menyebutkan, sindikat tersebut sebenarnya diintai sejak Maret lalu. Ketika itu Mabes Polri menerima pengaduan kepolisian Tiongkok. Kepolisian Tiongkok menyebutkan, ada sejumlah sindikat penipuan dengan sasaran warga Tiongkok yang bermarkas di Indonesia.
Dari catatan Jawa Pos, dalam dua tahun terakhir ada empat kali penggerebekan. Yang pertama Mei 2015 di Cilandak, Jaksel. Ketika itu sebuah sindikat penipuan dengan modus yang sama digerebek. Dari operasi tersebut, 33 orang ditangkap. Kemudian, pada Desember 2015, giliran Polda Metro Jaya yang membekuk 30 anggota sindikat penipuan dengan sasaran warga Tiongkok.
Pada 2016, tidak terdengar penggerebekan. Namun, Mei lalu Bareskrim Mabes Polri bersama Polda Sumut menggerebek sebuah rumah di kawasan Tanjung Morawa, Deli Serdang. Ketika itu 77 WN Tiongkok di¬tangkap, kemudian diekstradisi ke Tiongkok. "Tampaknya mereka belajar bahwa di Jakarta tidak aman. Mereka kemudian pergi ke daerah-daerah," kata seorang petugas Polda Metro Jaya yang juga menangani kasus tersebut.
Yang terakhir sekaligus yang paling besar adalah operasi penggerebekan yang dilakukan kemarin. Penangkapan simultan di tiga daerah. Dari hasil pengintaian selama lebih dari tiga bulan, sindikat itu merupakan satu bagian dari sindikat yang sama.
Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal mengatakan bahwa pihaknya sekadar membantu peng¬ungkapan yang dilakukan Bareskrim, Polda Metro, dan kepolisian Tiongkok.
"Soal detailnya, saya juga belum tahu. Apalagi, tidak ada satu pun dari warga asing itu yang bisa berba¬hasa Indonesia. Entah itu beneran atau berpura-pura, saya tidak tahu," ucap orang nomor satu di jajaran kepolisian Surabaya tersebut.
Dari pemeriksaan sekilas, sindikat itu datang ke Surabaya secara bergiliran mulai Januari hingga Februari 2017. "Kemudian, mereka langsung datang ke tiga rumah di Graha Family ini," ucapnya.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
