Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Juli 2017 | 00.27 WIB

Kasihan! Dibully Teman-Temannya, Suteja Mogok Sekolah dan Mengaji

Suteja (12) hanya berada di dalam rumahnya sepanjang hari. Ia malu ke sekolah dan mengaji karena sering diejek teman-temannya. - Image

Suteja (12) hanya berada di dalam rumahnya sepanjang hari. Ia malu ke sekolah dan mengaji karena sering diejek teman-temannya.

JawaPos.com – Aksi bully menimpa Suteja (12) yang menderita benjolan pada matanya sebelah kiri. Tak kuat dibully teman-teman, Seteja mogok sekolah. Bahkan dia terpaksa berhenti mengaji.


Seteja mengaku malu setiap hari dibully teman sekolahnya karena terdapat benjolan di mata. Dia mengatakan, tidak mau dengan kondisi sakit yang dideritanya. Jika bisa, dia ingin sakitnya dipindahkan.


"Sebelum sembuh gak mau sekolah dan ngaji, soalnya temen-temen menghina terus. Bilangnya mata saya besar,” ujarnya saat ditemui di rumahnya di Kampung Utan, RT02/29, Desa Wanasari, Kecamatan Cibitung.


Benjolan yang terdapat di mata sebelah kiri Suteja merupakan tumor. Benjolan itu sudah bersarang di matanya sejak tiga tahun lalu. Meski pernah dioperasi dan menghabiskan dana hingga puluhan juta, mata Suteja belum juga sembuh seperti semula.


Juanta (46), ayah Suteja mengatakan, awalnya saat kelas 4 SD mengeluh matanya sakit. Terus Suteja dibawa ke puskesmas. Lalu tidak lama kemudian bengkak, akhirnya dirujuk ke RSUD Kabupaten Bekasi.


"Karena kata dokter penyakit cukup parah akhirnya dirujuk ke RS Cicendo yang merupakan spesialis mata international,” kata dia kepada Radar Bekasi (Jawa Pos Group).


Juanta kini pusing untuk mengobati anak kesayangannya itu. Akibat benjolan tersebut, Suteja tidak mau sekolah dan mengaji. Anaknya mengeluh malu karena terus dihina dan diejek teman-temannya.


Demi kesembuhan anaknya, Juanta meminta bantuan RT setempat. Ia pun mendapat bantuan meski jumlahnya belum mencukupi.


”Saya peserta BJPS Kesehatan, jadi alhamdulillah untuk operasi gratis. Tapi karena berobatnya jauh di Rumah Sakit Cicendo, Kota Bandung, jadi butuh biaya operasional yang cukup tinggi serta untuk biaya pembelian obat saya juga keteter,” ungkapnya.


“Dengan kerendahan hati saya mengadu kepada ketua RT, dan akhirnya mendapatkan bantuan. Meskipun belum mencukupi tapi bagi kami sudah cukup, karena lingkungan sekitar sudah mau peduli dengan keluarga saya,” ujar lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai sopir toko material ini.


Tumor sudah bersarang di mata Suteja sejak beberapa tahun lalu. Namun kata Juanta, anaknya belum mendapat bantuan pengobatan sama sekali dari Pemerintah Kabupaten Bekasi.


”Saya belum pernah dapat bantuan, karena saya juga hanya memohon bantuan di tingkat RT/RW saja,” ucapnya.



Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore