Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Juli 2017 | 00.20 WIB

Meskipun Unik, Tradisi Pacu Itiak Belum Mampu Jadi Magnet Pariwisata

Pemenang lomba Pacu Itiak di hari pertama di gelanggang Padanglaweh, Jorong Tanjuangharo Selatan, Sabtu (22/7). - Image

Pemenang lomba Pacu Itiak di hari pertama di gelanggang Padanglaweh, Jorong Tanjuangharo Selatan, Sabtu (22/7).

Masyarakat Luhak Limopuluah (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota) Provinsi Sumatera Barat memiliki tradisi unik setiap tahunnya. Yakni pacu itiak (balapan bebek, red). Walaupun agenda tahunan ini diharapkan dapat mendatangkan wisatawan, namun kemasannya belum menarik. Sehingga tingkat antusias wisatawan yang diharapkan belum optimal.


Arfidel Ilham - Limapuluh Kota


"Kwak, kwak, kwak..." Puluhan ekor itik terdengar tak henti bersuara dalam kerumunannya di dalam sebuah tempat kurungan. Dikelilingi masing-masing pemiliknya yang menunggu waktu giliran untuk berlomba pada pembukaan "Alek Pacu Itiak" di Jorong Tanjuang Haro Selatan, Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak, Sabtu (22/7).


Memiliki bulu yang bersih dan sayap yang terawat rapi hingga bobot yang ringan, menjadi tugas pemilik itik pacuan untuk membentuknya. Satu hingga dua bulan sebelum jadwal perhelatan dimulai, para pecinta permainan ini sudah mencari itik yang tepat agar kelak menjadi sang juara. Kemudian itik pilihan dikarantina alias dipisahkan dari itik kebanyakan agar bisa dibentuk dan dilatih kemampuannya.


Itik jenis mojosari atau itik lokal yang biasa di ambil telurnya itu, awalnya sangat tidak terbiasa terbang. Bahkan saat awal dilatih, saat dilemparkan ke udara untuk terbang, kadang tak mampu untuk mendarat dengan mulus. "Biasanya setelah satu pekan dilatih, itik akan mulai bisa mendarat sempurna menggunakan kedua kakinya.


"Sesudah bisa mendarat, perlahan itik dilatih untuk terbang dengan jarak lebih panjang hingga sesuai jarak yang akan diperlombakan," sebut Devid Oki, 26, salah seorang anak muda pecinta permainan tradisional terbang itik saat bercerita kepada Padang Ekspres (Jawa Pos Group), akhir pekan lalu.


Pacu itiak di Limapuluh Kota sudah menjadi salah satu kalender event sejak lama. Perhelatan ini biasan disaksikan mulai bulan Juli hingga September setiap tahunnya. Puncak perhelatan yang biasanya digelar pada hari Sabtu dan Minggu di gelanggang atau arena berbeda di sejumlah tempat, di Selatan Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh.


Dari 10 gelanggang yang akan menggelar Alek Pacu Itiak, lima gelanggang berada di Kabupaten Limapuluh Kota dan Lima gelanggang berada di Kota Payakumbuh.


Pada tahun ini telah dimulai pada Sabtu dan Minggu di pekan ke empat Juni. Lokasinya di Jorong Padang Laweh. Lalu berlanjut pekan berikutnya di gelanggang Tanjuangharo Utara, selanjutnya Padang Panjang.


"Tiga gelanggang ini berada di Nagari Sikabu-Kabu Tanjuangharo Padangpanjang," terang Ketua Persatuan Olahraga Terbang Itik (Porti) Limapuluh Kota, Yosrizal Parmato Alam.


Dia berharap dengan adanya baralek Pacu Itiak dapat mempertahankan budaya tradisi dan mengembangkan permainan anak nagari. "Ke depan tentunya kita ingin mengemasnya menjadi sebuah alek tradisi yang kental berbau kebudayaan, mulai dari kostum, kesenian dan pernak-pernik yang menggambarkan wahana kebudayaan. Sehingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan hingga kemancanegara," sebut Ketua Porti yang juga anggota DPRD Limapuluh Kota ini.


Dikatakannya, pada Pacu itiak pada tahun 2017 ini lebih banyak dipicu untuk bisa membangun kepedulian dan minat anak nagari untuk ikut berlomba. Salah satu upaya itu disediakan hadiah-hadiah yang lebih spektakuler, mulai dari tabanas, sepeda gunung dan motor. "Semoga kita bersama terus bisa menjaga salah satu tradisi Luak Limopuluah ini sebagai wahana kekayaan budaya daerah," terangnya.


Pada pembukaan resmi "Baralek Pacu Tabang Itiak Luak Limopuluh tahun 2017 ini, Wakil Bupati Ferizal Ridwan berharap permainan tradisi ini terus dilestarikan dan dikemas menjadi magnet kunjungan dalam dan luar negeri, sesuai konsep mendunia. "Dengan konsep ini, Pacu Itiak tidak hanya dikenal oleh masyarakat Luak Limapuluah atau Sumbar saja, tapi dunia," kata Ferizal. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore