
Kondisi Novel Baswedan di rumah sakit setelah matanya disiram air keras.
JawaPos.com - Senja belum berlalu, jarum jam menunjukkan sekitar pukul 18.30 WIB pada Rabu (19/7). Petang itu, bakda salat Magrib, Fahmi baru keluar dari kantornya di Gedung KPK Merah Putih, Jalan Kuningan Persada Kav 4, Setia Budi, Jakarta Selatan.
Di dalam mobil, pikirannya masih pusing tak karuan karena pekerjaan. Namun, dia masih sempat memikirkan nasib Novel Baswedan, koleganya yang disiram air keras pada 100 hari yang lalu oleh oknum tak dikenal.
Sekitar pukul 19.22 WIB, sembari menembus kemacetan di daerah Pejompongan, pegawai KPK pada Direktorat Pembinaan Jaringan dan Kerjasama Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) itu, mengirimkan pesan kepada Aulia Postiera. Dia adala kolega sesama pegawai lembaga antirasuah yang kini dipimpin Agus Raharjo cs.
Isinya, mengusulkan agar ada semacam aksi damai dan doa bersama untuk memperingati 100 hari pasca penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan. ’’Besok 100 hari NB (Novel Baswedan) kita pakai baju hitam? Pita hitam?,’’ kata Fahmi kepada JawaPos.com, Kamis (20/7) malam.
Atas usulan spontan tersebut, Aulia yang menjabat sebagai Sekjen Wadah Pegawai KPK langsung menyetujui. ’’Bagusnya pita hitam. Siap,’’ katanya menirukan jawaban koleganya.
Selain mengirim usulan akan adanya aksi kepada Sekjen WP, ide tersebut juga dikirimkan ke grup internal pegawai KPK lain. Dari pembicaraan spontan itu, forum Wadah Pegawai KPK langsung merapatkan barisan. Akhirnya, disepakati ada aksi dan disebarlah undangan aksi damai dan doa bersama memperingati 100 hari penyerangan yang dialami Novel Baswedan ke sejumlah pegawai di berbagai divisi KPK.
Selain itu, sejumlah wartawan dan koalisi masyarakat sipil anti korupsi juga turut diundang untuk meramaikan acara tersebut. Aulia mengatakan, ide aksi dilakukan karena wadah pegawai prihatin dengan kondisi yang menimpa penyidik senior KPK tersebut.
’’Sudah 100 hari, kondisi kesehatan Novel masih mengkhawatirkan,’’ tuturnya.
Selain mengkhawatirkan kondisi Novel, aksi damai dan doa bersama juga untuk menyingkap tabir hitam perkara itu. Sebab, hingga kini pelaku penyiraman, motif, dan otak dibalik kejahatan tersebut belum juga terungkap.
’’Melihat kondisi itu, kami ingin mengingatkan semua pihak. Bahwa negara ini tidak boleh abai pada upaya-upaya pemberantasan korupsi, dan wajib memberikan perlindungan kepada penegak hukum,’’ tegas pria asal Sumatera Barat tersebut.
Lebih lanjut dia mengatakan, aksi juga didasari untuk menyatukan pikiran pegawai KPK. Hal ini dilakukan karena belakangan, KPK terus diterpa berbagai serangan yang bertujuan untuk menghancurkan melemahkan pemberantasan korupsi.
’’Kami memandang bahwa penyerangan Novel, Pansus Angket KPK, dan revisi UU KUHP adalah sebagai satu kesatuan untuk memperlemah KPK dan upaya-upaya pemberantasan korupsi,’’ urainya.
Aksi itu berjalan sesuai rencana. Pada Kamis (20/7) pukul 16.45, sekitar ratusan pegawai KPK dari berbagai divisi yang berbeda, satu persatu keluar ruangan dan berkumpul di lobi gedung. Tidak perlu waktu lama, acara yang digagas wadah pegawai (WP) KPK itu resmi dibuka.
Dalam acara yang dihadiri ratusan pegawai dan seluruh pimpinan KPK, termasuk beserta istri Novel Baswedan Rina Emilda itu, mereka mengingatkan kembali kepada pemerintah dan aparat kepolisian. Jika seluruh pegawai KPK dan masyarakat tak lupa dengan peristiwa keji yang menimpa Novel.
’’Tepat 100 hari sejak penyerangan Selasa (11/4) Subuh, dan sampai hari ini, bayangan pelakunya belum tampak. Kita hari ini berdiri tegak di sini, sebagai bukti Novel tidak sendiri. Kita bersama Novel melawan ketidakadilan ini,’’ tegas anggota sekaligus bendahara WP Budi Prasetyo.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
