Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juli 2017 | 06.36 WIB

Sweeping Perokok di Terminal Purabaya

Purabaya dan Masalahnya - Image

Purabaya dan Masalahnya


JawaPos.com – Banyaknya catatan buruk terkait layanan Terminal Purabaya mendorong unit pelayanan teknis (UPT) melakukan perbaikan. Sedikitnya ada empat hal yang menjadi catatan pada layanan tersebut. Yakni, belum ada pemisahan antara pengantar dan calon penumpang, masih banyak perokok di area terminal, banyak calo yang naik ke gate penumpang, dan tempat ibadah yang kurang kondusif.



Koordinator Operasional dan Keamanan UPT Terminal Purabaya Hardjo memerinci langkah untuk memperbaiki layanan di terminal tersebut. Ada dua upaya yang sudah menunjukkan hasil. Yakni, mencegah calo naik ke gate dan menerapkan kawasan bebas rokok.



Sudah sepekan ini UPT terminal Purabaya menyiagakan personel di lantai 1, 2, dan lorong gate penumpang. Mereka bertugas sesuai perannya. Di lantai 1 ada dua petugas yang berkeliling. Petugas itu mencari perokok di lokasi tersebut. Mereka yang tertangkap diminta mematikan rokoknya. Di lantai 2 juga terdapat personel yang bertugas sama.



Apabila perokok tersebut keberatan, petugas menggiring ke ruang perokok. Di lantai 1 hanya ada satu ruang perokok. Lokasinya berupa ruang kaca yang berada di tengah-tengah ruang tunggu. Ruangan itu bisa menampung lebih dari 15 orang. Disediakan pula beberapa kursi.



Hardjo juga melarang anak buahnya merokok di lokasi tersebut. Dia bermaksud mendorong petugas untuk tegas. ”Kalau melarang orang merokok, petugas juga harus memberi contoh tidak merokok,” ucap dia.



Selain melakukan sweeping, jumlah rambu larangan merokok ditambah. Sebelumnya, 12 larangan merokok tersebar di lantai 1 dan 2. Jumlah itu bertambah menjadi 18 papan larangan merokok.



Apabila membandingkan Terminal Purabaya saat Lebaran dan sekarang, memang ada perbedaan. Saat ini penumpang relatif lebih tertib. Tidak ada penumpang yang terang-terangan merokok. Hanya mereka yang nekat dan kucing-kucingan dengan petugas. Lokasi favorit mereka adalah di sudut ruangan.



Kemudian, di lorong gate penumpang, lebih dari lima petugas siaga. Mereka mengantisipasi calo yang naik ke atas. Memang, upaya itu cukup ampuh. Namun, masih ada beberapa calo yang nekat naik ke tangga. Mereka tidak masuk ke lorong, hanya berdiri di pinggir sambil meneriakkan trayek busnya.



Langkah yang paling efektif sebenarnya memberi palang pembatas di pintu tersebut. Palang pintu tersebut hanya bisa dibuka dari dalam. Artinya, hanya calon penumpang yang bisa lewat. Dengan begitu, calo tidak bisa masuk ke dalam. Hardjo membenarkan itu. Namun, dia mengatakan bahwa pemasangan pintu bukan wewenangnya. ’’Kami hanya operator lapangan,’’ ucapnya.



Terkait tempat ibadah, Hardjo menyarankan penumpang memanfaatkan masjid di pintu masuk kedatangan bus. Masjid tersebut sangat layak dan tidak terlalu jauh dari terminal.


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore