
Purabaya dan Masalahnya
JawaPos.com – Banyaknya catatan buruk terkait layanan Terminal Purabaya mendorong unit pelayanan teknis (UPT) melakukan perbaikan. Sedikitnya ada empat hal yang menjadi catatan pada layanan tersebut. Yakni, belum ada pemisahan antara pengantar dan calon penumpang, masih banyak perokok di area terminal, banyak calo yang naik ke gate penumpang, dan tempat ibadah yang kurang kondusif.
Koordinator Operasional dan Keamanan UPT Terminal Purabaya Hardjo memerinci langkah untuk memperbaiki layanan di terminal tersebut. Ada dua upaya yang sudah menunjukkan hasil. Yakni, mencegah calo naik ke gate dan menerapkan kawasan bebas rokok.
Sudah sepekan ini UPT terminal Purabaya menyiagakan personel di lantai 1, 2, dan lorong gate penumpang. Mereka bertugas sesuai perannya. Di lantai 1 ada dua petugas yang berkeliling. Petugas itu mencari perokok di lokasi tersebut. Mereka yang tertangkap diminta mematikan rokoknya. Di lantai 2 juga terdapat personel yang bertugas sama.
Apabila perokok tersebut keberatan, petugas menggiring ke ruang perokok. Di lantai 1 hanya ada satu ruang perokok. Lokasinya berupa ruang kaca yang berada di tengah-tengah ruang tunggu. Ruangan itu bisa menampung lebih dari 15 orang. Disediakan pula beberapa kursi.
Hardjo juga melarang anak buahnya merokok di lokasi tersebut. Dia bermaksud mendorong petugas untuk tegas. ”Kalau melarang orang merokok, petugas juga harus memberi contoh tidak merokok,” ucap dia.
Selain melakukan sweeping, jumlah rambu larangan merokok ditambah. Sebelumnya, 12 larangan merokok tersebar di lantai 1 dan 2. Jumlah itu bertambah menjadi 18 papan larangan merokok.
Apabila membandingkan Terminal Purabaya saat Lebaran dan sekarang, memang ada perbedaan. Saat ini penumpang relatif lebih tertib. Tidak ada penumpang yang terang-terangan merokok. Hanya mereka yang nekat dan kucing-kucingan dengan petugas. Lokasi favorit mereka adalah di sudut ruangan.
Kemudian, di lorong gate penumpang, lebih dari lima petugas siaga. Mereka mengantisipasi calo yang naik ke atas. Memang, upaya itu cukup ampuh. Namun, masih ada beberapa calo yang nekat naik ke tangga. Mereka tidak masuk ke lorong, hanya berdiri di pinggir sambil meneriakkan trayek busnya.
Langkah yang paling efektif sebenarnya memberi palang pembatas di pintu tersebut. Palang pintu tersebut hanya bisa dibuka dari dalam. Artinya, hanya calon penumpang yang bisa lewat. Dengan begitu, calo tidak bisa masuk ke dalam. Hardjo membenarkan itu. Namun, dia mengatakan bahwa pemasangan pintu bukan wewenangnya. ’’Kami hanya operator lapangan,’’ ucapnya.
Terkait tempat ibadah, Hardjo menyarankan penumpang memanfaatkan masjid di pintu masuk kedatangan bus. Masjid tersebut sangat layak dan tidak terlalu jauh dari terminal.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
