
Lempengan benda misterius yang jatuh di Limapuluh Kota, Sumbar.
JawaPos.com - Lempengan baja yang jatuh di bekas Ibu Kota Negara Indonesia, tepatnya di Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) itu dipastikan adalah sampah antariksa.
Kepala Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer (BPAA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Agam, Syafrijon mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kapolres Limapuluh Kota AKBP Haris Hadis, terkait lempengan baja yang jatuh dari atas langit di Nagari Kototinggi.
“Kami akan jemput lempengan baja tersebut ke Mapolsek Suliki. Tadi, kami sarankan petugas yang menjemput ke lokasi agar memakai sarung tangan,” ujarnya seperti dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Kamis (20/7).
Syafrijon memperkirakan, lempengan baja yang jatuh dari atas langit di Kototinggi, Limapuluh Kota itu masih satu komponen dengan benda yang ditemukan sehari sebelumnya di tepian Danau Maninjau, Agam. Benda itu berbentuk kendi seukuran kepala orang dewasa.
“Ya, kemungkinan banyak serpihannya. Karena ukuran awal diperkirakan silinder diameter 3 meter dan tinggi 5 meter, dengan motor roket di dalamnya,” kata Syafrijon.
Dia memastikan, lempengan baja yang ditemukan di Kototinggi dan bekas tabung bahan bakar roket yang jatuh di Maninjau memang merupakan serpihan roket roket Longmarch/Chang-Zheng 3 milik Republik Rakyat Tiongkok. Roket tersebut sepuluh tahun silam digunakan Tiongkok untuk meluncurkan satelit navigasinya ke antariksa.
Terpisah, Kepala Lapan Pusat Profesor Thomas Djamaludin yang dihubungi membenarkan benda itu adalah sampah antariksa. “Sampah antariksa yang jatuh di Sumbar dan ditemukan pada dua titik, kemarin (di Maninjau) dan hari ini (di Kototinggi), memang merupakan bagian dari tabung bahan bakar roket peluncur satelit navigasi RRT,” kata Thomas.
Profesor jebolan Kyoto University ini menyebut, sampah roket RRT yang ditemukan di Sumbar saat ini, sebelum jatuh ke bumi berukuran besar.
“Diameter sekitar 3 meter, panjang sekitar 5 meter. Kemudian, tiap tabung itu di dalamnya ada motor roket. Waktu masuk ketinggian sekitar 120 kilometer, ia pecah. Pecahannya tersebar di sekitar daerah itu. Mungkin sebagian ada yang masuk ke air atau masuk ke hutan,” beber Thomas Djamaludin.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
